Jejak Tionghoa Muslim di Tanah Mataram: Pergulatan Identitas yang Tak Pernah Usai

Retoria.id – Catatan pendek dari perjalanan panjang komunitas kecil nan teguh, yang terus belajar menjadi diri mereka di tengah badai zaman. Mereka lahir dari rahim budaya yang kaya, nasi goreng dan lampion, aksara Han dan kelenteng. Tapi kemudian mereka memilih jalan lain: mengucap dua kalimat syahadat, menegakkan shalat, dan berpuasa di bulan Ramadan. Lalu, tak jarang, dunia menghukum mereka dengan dingin. Keluarga merengut. Tetangga mencibir. Dan mereka pun tersadar bahwa menjadi Tionghoa Muslim adalah menjadi minoritas di balik minoritas, seonggok batu kecil di tengah pusaran lautan yang luas.

“Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia mempunyai kebudayaan yang unik, yang merupakan perpaduan dari unsur-unsur kebudayaan Tionghoa, Islam, Eropa, dan pribumi-lokal.” — Amen Budiman

Mereka adalah perpaduan yang tak biasa. Dan Yogyakarta, kota budaya yang ramah dan terbuka, menjadi saksi bisu bagaimana komunitas ini bertahan, jatuh bangun, lalu bangkit kembali menyusuri jalan identitas yang berliku.

Jejak di Tanah Mataram: Tionghoa Muslim Zaman Kesultanan

Siapa menyangka, jauh sebelum Indonesia merdeka, Tionghoa Muslim sudah mengukir namanya di bumi Yogyakarta? Kisahnya bermula dari seorang saudagar bernama Oei Tek Biauw, yang kemudian dikenal sebagai Kyai Tumenggung Reksonegoro I. Beliau adalah bupati Semarang yang dipanggil Sultan Hamengku Buwono I ke Yogyakarta. Di sana, beliau menjadi penasihat Sultan dalam urusan kerohanian, memimpin ritual adat dan upacara keraton seperti grebeg.

Lalu muncullah sosok Tan Jin Sing (1760-1831), kapiten Tionghoa yang diangkat menjadi bupati Yogyakarta oleh Sultan Hamengku Buwono III, atas jasanya membantu sultan merebut takhta dari Sultan HB II. Tan Jin Sing masuk Islam bersama istrinya, dibimbing langsung oleh Kyai Reksonegoro, dan kemudian bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat.

Baca Juga: Lika-liku luka: Pergulatan Identitas Orang Cina Indonesia Kristen

Menariknya, dalam proses masuk Islam, istrinya Kyai Reksonegoro pernah berujar kepada Tan Jin Sing: “Kebanyakan bangsawan Jawa adalah Muslim. Dan menjadi Muslim bagi seorang Tionghoa bukanlah hal aneh—sebab dalam sejarah ada Laksamana Cheng Ho, seorang Tionghoa Muslim dari negeri China.”

Ada pula tiga bersaudara dari keluarga Tjan mereka adalah intelektual lulusan Universitas Leiden, Belanda. Sang adik, Tjan Tjoe Siem, bahkan menjadi guru besar luar biasa di IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1978, mengajar kebudayaan Jawa di kampus yang kini menjadi UIN Sunan Kalijaga. Mereka adalah batu-batu pertama yang menandai jalan panjang komunitas ini.

Orde Baru: Ketika Angin Berbalik Arah

Namun, zaman berganti. Orde Baru datang dengan sebuah kata kunci: asimilasi. Segala yang berbau Tionghoa harus ditekan. Imlek dilarang. Bahasa Mandarin dibungkam. Tarian barongsai tak boleh lagi meliuk di jalanan.

Organisasi Tionghoa Muslim yang bernama PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) pun dipaksa mengubah namanya. “Tionghoa” dianggap terlalu eksklusif, menghambat pembauran. Maka pada 1972, PITI berganti menjadi “Persatuan Iman Tauhid Indonesia” namun singkatannya tetap PITI. Inilah cara halus mereka bertahan. Patuh di depan, tetapi mengakar di belakang.

Pengajian pun bergulir dari satu rumah ke rumah lain secara diam-diam, sembunyi-sembunyi, takut dicurigai oleh aparat. Para mualaf yang diusir keluarganya mendapatkan tempat tinggal dari PITI. Seorang perempuan bernama Be Han Nio, asal Banyuwangi, yang masuk Islam dan terusir dari rumah, diberi beasiswa pendidikan oleh PITI Yogyakarta.

Meskipun demikian, tekanan terus datang. Ketika PDHI dan PITI berniat mendirikan lembaga bahasa Mandarin di Yogyakarta, mereka dipanggil oleh Kejaksaan dan mendapat peringatan dari Panglima Kopkamtib. Rencana itu pun kandas. Identitas menjadi artifisial, tanpa makna. Mereka hidup dalam dua dunia: di depan publik, mereka adalah Muslim biasa; di balik pintu rumah, mereka tetap menyimpan nama dan budaya leluhur.

Setelah 1998: Pintu Terbuka, Semangat Bangkit

Lengserlah Soeharto pada Mei 1998. Indonesia pun bernapas lega. Gus Dur, presiden keempat, mencabut larangan budaya dan kepercayaan Tionghoa. Megawati kemudian menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional. Maka, bagaikan bunga yang mekar di akhir musim hujan, Tionghoa Muslim mulai kembali bersinar.

Tahun 2003, untuk pertama kalinya, PITI Yogyakarta menggelar perayaan Imlek secara terbuka di Masjid Syuhada, Kotabaru. Sebuah momen yang tak terbayangkan pada masa Orde Baru. Tahun 2005, PITI mengadakan Muktamar Nasional III di Surabaya, dibuka langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam muktamar itu, mereka memutuskan untuk menggunakan kembali kepanjangan asli: “Persatuan Islam Tionghoa Indonesia”. Nama yang sempat dipaksa lenyap, kini kembali berkibar.

Tahun 2007, PITI Yogyakarta menjadi penggagas Festival Imlek Bantul, sebuah perayaan besar yang menghadirkan diskusi buku, pentas barongsai, pameran kaligrafi, hingga pengajian akbar di Masjid Agung Bantul. Kini, bukan lagi di rumah-rumah sembunyi, melainkan di ruang publik yang terang.

Tahun 2008, perayaan Imlek digelar di Masjid Al Husna, Iromejan. Acara diisi dengan pengajian dan diakhiri dengan pembagian angpao-amplop merah kepada anak-anak sekitar masjid. Islam dan Tionghoa berjumpa dalam harmoni yang indah. Kaligrafi Islam bermotif huruf Tionghoa (Han Zi) pun mulai dipamerkan. Makanan Tionghoa Muslim mulai bermunculan di Jalan Afandi, Jalan Monjali, hingga Jalan Godean. Mereka tak lagi bersembunyi. Mereka tampil, mereka berbagi, mereka merayakan.

Hidup dalam Dua Napas

Menjadi Tionghoa Muslim bukanlah soal memilih salah satu dari dua identitas. Melainkan menggenggam keduanya dalam satu pelukan. Mereka merayakan Imlek, tapi tetap menjalankan shalat. Mereka membaca Al-Qur’an, tapi juga mengenal aksara Han. Mereka berziarah ke makam leluhur, tapi juga pergi ke masjid. Mereka mengenang Konghucu, tapi juga mencintai Nabi Muhammad.

Seperti yang ditulis dalam penelitian ini Rezza Maulana:

“Identitas Tionghoa Muslim berlapis-lapis. Ada yang mengidentifikasi diri dengan negeri tempat mereka tinggal seraya tetap sadar sebagai Tionghoa. Ada yang sudah melupakan makna menjadi Tionghoa dan berusaha menemukannya kembali. Bahkan ada yang benar-benar tidak menganggap dirinya lagi sebagai Tionghoa.”

Identitas adalah perjalanan, bukan tujuan. Dan Tionghoa Muslim Yogyakarta adalah para pengembara yang tak pernah lelah mencari makna di tengah pusaran zaman.

Ada Apa di Balik Kisah Ini?

Dari perjalanan panjang Tionghoa Muslim Yogyakarta, ada beberapa pelajaran yang bisa kita renungkan: Pertama, identitas adalah sesuatu yang cair. Tidak ada manusia yang hanya satu dimensi. Kita semua adalah mozaik dari berbagai pengaruh keluarga, agama, budaya, dan sejarah.

Kedua, kebijakan politik sangat menentukan nasib sebuah komunitas. Di masa Orde Baru, mereka terpaksa bersembunyi. Di masa Reformasi, mereka bisa bebas berekspresi. Maka, kebijakan yang adil dan inklusif bukanlah kemewahan, melainkan keharusan.

Ketiga, meski dalam tekanan, manusia tetap punya daya untuk bertahan dan bergerak. PITI tetap mengadakan pengajian diam-diam, mempertahankan singkatan nama organisasi, dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali bangkit. Mereka bukan sekadar korban zaman. Mereka adalah aktor sejarah.

Keempat, perbedaan bisa menjadi sumber kekayaan, bukan perpecahan. Tionghoa Muslim bekerja sama dengan organisasi Tionghoa lainnya Buddha, Kristen, Konghucu dalam merayakan budaya bersama. Toleransi bukanlah slogan kosong, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Jalan Masih Panjang

Meskipun kini lebih bebas, perjalanan Tionghoa Muslim di Yogyakarta belum usai. Stigma masih tersisa. Prasangka masih menghantui. Namun mereka terus melangkah membangun masjid dengan arsitektur Tionghoa, menggelar pengajian dengan bahasa Mandarin, dan menunjukkan bahwa menjadi Tionghoa dan Muslim adalah sesuatu yang mungkin, bahkan indah.

Yogyakarta, kota yang ramah dan terbuka, menjadi saksi bagaimana sebuah komunitas kecil bisa bertahan, tumbuh, dan memberi warna baru bagi keberagaman Indonesia. Kisah mereka mengingatkan kita pada sebuah pesan sederhana:

“Jangan menilai seseorang dari mana ia berasal, tetapi dari apa yang ia bawa untuk dunia.”

Mereka membawa dua dunia dalam satu dada. Dan di sanalah letak keindahannya.

“Orang bijak belajar dari sejarah. Orang bodoh mengulanginya.”

Mari kita belajar dari Tionghoa Muslim Yogyakarta: bahwa identitas adalah rahmat, bukan kutukan. Bahwa perbedaan adalah warna, bukan noda. Dan bahwa di tengah segala pergulatan, cinta kasih kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada diri sendiri tetaplah hal yang paling utama. Seperti samudera yang tak pernah surut, identitas mereka terus mengalir, terus mencari, dan terus memberi makna. (*)

Rekomendasi