Retoria.id – Jauh di luar gemerlap lampu kota, internet, dan kebisingan kehidupan modern, masih ada kelompok manusia yang lebih memilih untuk tetap hampir sepenuhnya terisolasi dari peradaban. Salah satunya adalah Suku Sentinel. Pertanyaannya, apa alasan Suku Sentinel menolak peradaban modern, bahkan dengan keras menolak kehadiran orang luar?
Pesona inilah yang terus memancing rasa penasaran masyarakat modern seperti kita. Kalau kamu juga penasaran, simak artikel ini sampai akhir!

Suku Sentinel (Sentinelese) adalah masyarakat adat yang hidup di Pulau North Sentinel, bagian dari Kepulauan Andaman dan Nicobar di Samudra Hindia. Pulau yang juga dikenal sebagai pulau Sentinel Utara Andaman ini memiliki luas yang kurang lebih setara dengan Manhattan.
Banyak hal tentang mereka yang masih menjadi misteri. Bahasa, hukum adat, hingga sistem pengetahuan tradisional mereka belum berhasil dipahami oleh dunia luar.
Populasinya diperkirakan berkisar antara 50 – 150 orang, itupun belum diketahui stabil atau tidak. Berbeda dengan masyarakat modern, mereka tidak mengembangkan pertanian dan masih mengandalkan berburu serta meramu.
Sentilenese dikenal sebagai salah satu suku terasing paling berbahaya di dunia. Sebagian besar upaya di masa lalu untuk menghubungi Sentinelese disambut dengan permusuhan, bahkan mereka juga tak segan membunuh sebagai hukuman. Ada beberapa faktor yang diyakini menjadi penyebab utama di balik sikap tertutup mereka, di antaranya:
Salah satu alasan Suku Sentinel menolak peradaban modern diduga berasal dari pengalaman buruk di masa lalu. Pada akhir abad ke-19, seorang pejabat kolonial Inggris bernama Maurice Vidal Portman mendarat di North Sentinel bersama rombongannya untuk melakukan kontak.
Mereka menemukan perkampungan yang baru ditinggalkan dan akhirnya menculik dua orang lansia serta empat anak untuk dibawa ke Port Blair. Tidak lama kemudian, para lansia tersebut jatuh sakit dan meninggal dunia.
Anak-anak yang masih hidup kemudian dikembalikan ke pulau bersama sejumlah hadiah. Nah, peristiwa inilah yang diyakini banyak peneliti telah meninggalkan trauma yang mendalam bagi Suku Sentinel terhadap orang luar.
Selain karena pengalaman dari masa lalu, alasan Suku Sentinel menolak peradaban modern juga berkaitan dengan upaya menjaga identitas budaya mereka. Selama ribuan tahun, mereka hidup dengan sistem sosial, tradisi, dan cara bertahan hidup yang berkembang secara mandiri.
Kontak intensif dengan dunia luar berpotensi menggeser nilai-nilai tersebut secara drastis. Buktinya, banyak komunitas adat di berbagai wilayah kehilangan bahasa, tradisi, dan kearifan lokal setelah terpapar modernisasi.
Dari sudut pandang ilmiah, kelompok masyarakat yang hidup terisolasi, termasuk Suku Sentinel, memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih rentan terhadap penyakit umum dari luar. Pernah ada peristiwa pada Maret 2025, seorang influencer asal Amerika Serikat bernama Mykhailo Viktorovych Polyakov mencoba membuat kontak dengan Suku Sentinel.
Meski misinya tidak tercapai, ia meninggalkan kelapa dan sekaleng minuman bersoda sebagai bentuk “persembahan” sebelum pergi. Upayanya yang sembrono ini viral di media sosial dan mendapat banyak kecaman.
Tindakannya ini dinilai ‘tidak etis’ dan ilegal. Sebab, berisiko memusnahkan seluruh suku Sentinel dengan memperkenalkan penyakit baru seperti flu yang tidak mereka miliki kekebalannya.
Pernah ada masanya antara pemerintah India dan Suku Sentinel terjadi interaksi damai. Pada periode 1960-an hingga 1990-an, pemerintah beberapa kali mengirim ekspedisi yang membawa hadiah seperti kelapa, pisang, besi, boneka, hingga babi.
Meski ada beberapa momen Suku Sentinel bersikap ramah, tapi kebanyakan pertemuan berakhir dengan penolakan dan tindakan defensif. Karena mendekati suku ini rentan risiko mengalami kekerasan dan bahaya, pemerintah India menerapkan Peraturan Kepulauan Andaman dan Nicobar (Perlindungan Suku Aborigin), 1956.
Undang-undang ini melarang perjalanan ke Pulau North Sentinel dan pendekatan apa pun yang lebih dekat dari 2 km dari pantai. Selain untuk melindungi penduduk Sentinel dari potensi paparan penyakit menular, tujuan pemberlakuan peraturan tersebut juga bertujuan untuk:
Dari berbagai bukti sejarah, faktor budaya, dan juga kesehatan, alasan Suku Sentinel menolak peradaban modern sangatlah kuat. Nah, biarlah itu menjadi pilihan dan hak mereka. Tugas kita bukanlah mencampuri, tapi menghormati. Bagaimana mereka hidup, mengelola masyarakat, dan mempertahankan budaya mereka bukanlah sesuatu yang harus diatur oleh dunia luar.
Sumber: survivalinternational.org, sapiens.org
Aditya Pratama memiliki pengalaman 8 tahun bekerja di media online. Aditya mengawali kariernya sebagai staf riset di detik.com, lalu pindah menjadi editor liputan khusus. Selama pandemi, Aditya mencoba hal baru sebagai SEO Editor di Pikiran-Rakyat.com sebelum akhirnya menjadi Reporter di Retoria.id. Selain mengembangkan konten visual, program, dan kerja sama, Aditya juga menangani dan mengkurasi konten-konten pakar yang dipublikasikan secara menarik.