Retoria.id – Air kencing memiliki tampilan yang khas, tapi terkadang bisa berbusa. Menurut dr. Tirtawati Wijaya, hal ini terjadi saat ada kebocoran filter ginjal yang membuat protein lolos ke dalam urine.
Urine atau air kencing memang bisa menjadi indikator utama kondisi kesehatan seseorang. Tampilan air kencing sangat dipengaruhi oleh bagaimana ginjal menyaring darah (glomerulus), membuang zat sisa metabolisme, serta menahan zat penting seperti protein di dalam tubuh.
Jangan langsung kaget ketika mendapati air kencing berbusa di toilet, karena ada penyebab luar yang dianggap wajar dan biasa terjadi. Penyebab tidak berbahaya tersebut bisa berupa tekanan aliran buang air kecil yang sangat kuat, kondisi urine yang sedang terkonsentrasi atau pekat (terutama saat bangun tidur), hingga sisa sabun yang tertinggal di air toilet.
“Enggak semua air seni yang berbusa itu mengandung protein dan enggak semua proteinuria itu menyebabkan busa-busa yang dramatis. Itu sebabnya urin yang berbusa secara persisten enggak cepat ngilang itu enggak boleh didiagnosa hanya berdasarkan penampakan dari urinnya saja. Perlu selalu dilakukan pemeriksaan di laboratorium,” kata dr. Tirtawati, Selasa (21/7/2026).
Dokter Tirtawati menjelaskan bahwa air kencing berbusa persisten (menetap) yang patut diwaspadai adalah indikasi proteinuria, yakni kondisi di mana terdapat protein dalam jumlah di atas normal di dalam urine. Proteinuria sendiri bukanlah penyakit, melainkan tanda adanya kondisi medis yang mengganggu kerja ginjal.
“Molekul-molekul protein itu sifatnya ampifilik. Ujung yang satunya dia yang hidrofilik, terus yang lainnya itu hidrofobik. Waktu si protein ada di dalam air seni terus kecampuran kemasukan udara… gelembung-gelembung udara yang ada di dalamnya itu jadinya ya bertahan, udaranya enggak cepat kabur, enggak cepat lepas,” jelas dr. Tirtawati.
Busa yang menetap ini menjadi pertanda awal dari berbagai kondisi medis terkait, seperti hipertensi, peradangan pada glomerulus (glomerulonefritis), penyakit autoimun seperti lupus, obesitas, hingga efek samping obat-obatan tertentu. Namun, penyebab kelainan ginjal yang paling sering ditemui adalah diabetes melitus.
“Diabetes atau kencing manis adalah salah satu penyebab penyakit ginjal kronis yang paling sering terjadi di seluruh dunia. Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus itu akan merusak pembuluh-pembuluh darah yang kecil-kecil yang ada di dalam glomeruli,” terangnya.
Lebih parah lagi, dr. Tirtawati mengingatkan adanya tanda bahaya (red flags) yang pantang diabaikan. Pasien harus segera waspada jika urine berbusa membandel selama beberapa hari dan disertai pembengkakan pada tubuh, seperti mata sembap atau pergelangan kaki bengkak.
Kewaspadaan juga harus ditingkatkan jika terdapat perubahan warna urine seperti kemerahan atau pink (indikasi darah), serta adanya riwayat penyakit ginjal, darah tinggi, atau diabetes dalam keluarga. Jika sampai pada kondisi ini sebaiknya harus segera menghubungi pihak medis.
“Jangan tanya di medsos. Periksakan diri ke dokter kalau urin berbusanya itu bertahan membandel beberapa hari atau sangat sering terjadi. Saya selalu bilang ya, lebih baik kita keparnoan kita periksakan ke dokter dan ternyata enggak apa-apa dibandingkan kita sendiri nganggap enggak apa-apa ternyata apa-apa,” tegas dr. Tirtawati.
Sebagai solusi, dr. Tirtawati menyarankan untuk segera memeriksakan diri agar dokter dapat melakukan langkah pemeriksaan lab yang komprehensif. Pemeriksaan ini mencakup urine dipstick, rasio albumin-kreatinin, pemeriksaan darah (serum kreatinin, eGFR), cek gula darah, tensi, hingga USG ginjal atau biopsi sesuai indikasi medis.
Dengan cara ini, diagnosis dapat ditegakkan secara tepat sehingga penanganan dini dapat memperlambat progresivitas penyakit ginjal secara signifikan.
“Penyebab yang berbeda membutuhkan penanganan yang berbeda. Jadi enggak ada tuh satu treatment untuk semua penyebab urin berbusa berbuih. Enggak ada. Karena urin berbusa itu bukan penyakit, itu adalah gejala,” pungkas dr. Tirtawati.