Tahu nggak sih kalau bahasa yang digunakan di Pulau Madagaskar punya akar dari Nusantara? Jejak sejarah bahasa Nusantara di pulau Madagaskar ternyata bukan cuma spekulasi, ada bukti linguistik dan genetik yang menunjukkan keterkaitan kuat antara bahasa kita dengan bahasa Malagasi alias bahasa resminya Madagaskar.
Kok bisa? Artikel ini akan mengupas fakta linguistik, bukti genetik, dan sejarah maritim yang menghubungkan Nusantara dengan Madagaskar. Baca terus untuk tahu fakta unik ini lebih dalam!
Kalau ngomongin soal Pulau Madagaskar, jaraknya saja udah sangat jauh dari Indonesia, karena terletak di lepas pantai timur Afrika. Jadi, gimana bisa ada ikatan historikal yang kuat antara pulau ini dengan Nusantara?
Sejak abad ke-1 Masehi, pelaut Austronesia telah menjelajahi Samudra Hindia, membangun rute maritim yang menghubungkan kepulauan Indonesia dengan pulau-pulau di sekitar Afrika. Selain perdagangan, migrasi manusia membawa bahasa, budaya, dan teknik pertanian Nusantara ke Madagaskar.
Penelitian linguistik dan genetik menunjukkan adanya hubungan genetik Indonesia-Madagaskar, memperkuat hipotesis bahwa pulau ini bukan hanya tujuan pelayaran, tapi pemukiman bagi para migran Nusantara.
Selain temuan tersebut, ada lagi beberapa jejak sejarah yang mungkin belum pernah kamu dengar seperti:
Menurut studi filogenetik yang dilakukan oleh peneliti Maurizio Serva (2012) dalam jurnal ilmiah PLOS One, Bahasa Malagasi termasuk dalam rumpun Austronesia lho, khususnya cabang Southeast Barito yang dituturkan di Kalimantan Selatan.
Kata-kata dasar seperti “anak”, “air”, dan “laut” punya kemiripan langsung dengan bahasa Ma’anyan, menunjukkan bahwa bahasa ini tidak terbentuk secara independen.
Sistem gramatikal dan struktur kalimat Malagasi juga menampilkan pola yang sangat mirip dengan dialek di Kalimantan. Ini menjadi bukti adanya hubungan historis bahasa Malagasi dan Barito. Yang jadi tanda tanya, gimana bisa leluhur Austronesia bisa mencapai Madagaskar yang tanah airnya berjarak lebih dari 8.000 km itu, kemudian meninggalkan jejak bahasanya?
Mengenai jejak sejarah bahasa Nusantara di pulau Madagaskar juga dibahas mendalam pada berbagai kajian linguistik kontemporer, salah satunya yang terindeks di jaringan publikasi ScienceDirect. Pada artikel bertajuk “Linguistic clues suggest that the Indonesian colonizers directly sailed to Madagascar” analisis kosakata Swadesh dan fonetik menunjukkan bahwa bahasa Malagasi paling dekat dengan bahasa Austronesia di Kalimantan, Sulawesi, dan Melayu.
Peneliti juga menemukan kosakata terkait navigasi, perahu, dan kehidupan maritim yang merupakan loanwords dari bahasa Melayu dan Jawa, yang selaras dengan sejarah pelayaran Nusantara. Kombinasi bukti ini memperkuat argumen bahwa bahasa Malagasi punya akar kuat di Nusantara, bukan hanya sekedar kebetulan linguistik.
Teori migrasi Austronesia ke Madagaskar tidak hanya didukung oleh bukti bahasa. Penelitian genetika komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Genomics (via penerbit Springer) oleh Kusuma, Cox, Pierron, dkk. (2015), menunjukkan adanya hubungan kuat antara masyarakat Malagasi dan penduduk di kawasan Nusantara.
Berbagai studi DNA mitokondria (mtDNA) dan kromosom Y menemukan jejak genetik yang mengarah ke Borneo, Sulawesi, dan Kepulauan Sunda Kecil. Temuan ini menjadi petunjuk bahwa nenek moyang sebagian masyarakat Madagaskar memang asalnya dari Asia Tenggara Maritim.
Tahukah kamu kalau ternyata Madagaskar pertama kali dihuni pada atau sebelum pertengahan milenium pertama (sekitar 1.200–1.500 tahun yang lalu) oleh orang-orang Austronesia? Mereka berlayar melintasi Samudra Hindia dari kepulauan Indonesia.
Seperti yang digambarkan oleh Ridvan Kilic dalam laporannya untuk Australian Institute of International Affairs (2023), jaringan perdagangan maritim yang berkembang pesat di Samudra Hindia yang dijalankan oleh orang-orang Austronesia dari Asia Tenggara sudah terjalin dengan baik.
Mereka membangun jalur perdagangan dengan India selatan dan Sri Lanka, meluas hingga ke Afrika dan Semenanjung Arab, yang mengakibatkan terbentuknya pemukiman Austronesia di Madagaskar.
Jaringan perdagangan itu kemudian menjadi jalur sutra maritim yang terutama didirikan dan dioperasikan oleh pelaut Austronesia dari Asia Tenggara.
Sudah ada bukti kuat nih berupa bukti linguistik dan genetik yang menegaskan teori bahwa bahasa Malagasi di Madagaskar punya akar Nusantara. Jadi, tak ada lagi alasan untuk membantah bahwa jejak sejarah bahasa Nusantara di pulau Madagaskar memang benar adanya.
Jejak sejarah ini juga menunjukkan bahwa pengaruh Nusantara melampaui Asia Tenggara, menyeberangi samudra, dan meninggalkan warisan budaya serta bahasa ribuan tahun yang lalu. Setelah tahu fakta ini, bagaimana pendapatmu terkait kekayaan budaya kita?
Sumber:
Aditya Pratama memiliki pengalaman 8 tahun bekerja di media online. Aditya mengawali kariernya sebagai staf riset di detik.com, lalu pindah menjadi editor liputan khusus. Selama pandemi, Aditya mencoba hal baru sebagai SEO Editor di Pikiran-Rakyat.com sebelum akhirnya menjadi Reporter di Retoria.id. Selain mengembangkan konten visual, program, dan kerja sama, Aditya juga menangani dan mengkurasi konten-konten pakar yang dipublikasikan secara menarik.