Mengapa Tuhan Selalu Diminta Membuktikan Diri?

Retoria.id – Barangkali tidak ada paradoks yang paling jarang disadari kehadirannya dalam perdebatan tentang Tuhan selain yang satu ini. Ketika seseorang mengatakan bahwa Tuhan ada, hampir bisa dipastikan pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, “Apa buktinya?” Sebaliknya, ketika seseorang berkata bahwa Tuhan tidak ada, atau setidaknya tidak ada alasan yang cukup untuk mempercayai-Nya, hampir tak seorang pun meminta pembuktian yang sama. Seolah-olah salah satu posisi telah dianggap wajar sejak awal, sementara posisi lainnya harus lebih dahulu membuktikan haknya untuk didengar.

Padahal kenyataannya jika mau bersabar sebentar saja melihat ke luar ruang-ruang akademik modern, kita menemukan kenyataan yang menarik. Sebagian besar umat manusia, sejak masa-masa paling awal hingga hari ini, hidup dengan keyakinan bahwa realitas tidak berhenti pada apa yang dapat disentuh oleh pancaindra. Beragam nama diberikan kepadanya mulai dari Tuhan, Yang Mutlak, Sang Pencipta, Tao, Brahman, atau sebutan-sebutan lainnya tetapi semuanya menunjuk pada satu prisma pemikiran yang sama “bahwa dunia ini tidak berdiri sendiri.”

Jika mayoritas manusia justru mempercayai adanya suatu realitas yang melampaui dunia fisik, mengapa dalam banyak perdebatan filsafat kontemporer ateisme atau agnostisisme sering diperlakukan sebagai posisi default? Mengapa keyakinan kepada Tuhan dianggap sebagai klaim luar biasa yang harus dibuktikan, sedangkan penolakannya seolah tidak memerlukan beban argumentasi yang sama?

Pertanyaan ini tidak bermaksud membalikkan beban pembuktian secara serampangan atau mau lari begitu saja dari beban pembuktian. Ia hanya ingin mengajak kita memeriksa sesuatu yang sering luput dan diliput dari perhatian: “mungkinkah selama ini kita mewarisi sebuah asumsi tanpa pernah benar-benar mempertanyakannya?”

Dalam dua atau tiga dekade terakhir, perdebatan mengenai Tuhan kembali memperoleh panggungnya. Nama-nama seperti Richard Dawkins, Daniel Dennett, Lawrence Krauss, hingga Leonard Mlodinow menjadi wajah dari apa yang kemudian dikenal sebagai New Atheism. Mereka datang bukan sekadar menawarkan kritik terhadap agama, melainkan menyatakan bahwa perkembangan sains modern telah membuat hipotesis tentang Tuhan semakin tidak diperlukan.

Teori-teori ilmiah terbaik yang kita miliki mampu menjelaskan asal-usul bintang, evolusi kehidupan, struktur materi, bahkan usia alam semesta tanpa perlu melibatkan Tuhan sebagai penjelasan. Jika demikian, mengapa kita masih memerlukan-Nya?

Sekilas, argumen ini terdengar sangat berotot. Sains memang telah menghasilkan pencapaian-pencapaian yang mengagumkan. Dari prediksi Einstein mengenai gelombang gravitasi hingga pemetaan genom manusia, kemampuan sains membaca keteraturan alam hampir tak terbantahkan. Sains juga telah menjawab banyak hal dengan memuaskan kecuali pertanyaan mendasar ini “benarkah hanya sains yang dapat menghasilkan pengetahuan? Pertanyaan ini sering kali luput dari perhatian utama.

Ada perbedaan yang sangat penting antara mencintai sains dan mengubah sains menjadi ideologi. Mencintai sains berarti mengakui bahwa metode ilmiah merupakan cara yang luar biasa ampuh untuk memahami gejala-gejala alam. Tidak ada alasan untuk menyangkal keberhasilannya. Berkat sains, manusia dapat memprediksi gerak planet, mengembangkan vaksin, membangun teknologi komunikasi, hingga menjelajahi ruang angkasa.

Tetapi saintisme mengatakan sesuatu yang jauh lebih besar. Ia tidak hanya memuji keberhasilan sains, melainkan menyatakan bahwa hanya pengetahuan ilmiahlah yang layak disebut pengetahuan. Segala sesuatu yang tidak dapat diuji secara empiris dianggap berada di luar wilayah rasionalitas.

Di sinilah titik yang seringkali dipertengkarkan. Pernyataan bahwa “hanya pengetahuan ilmiah yang benar” bukanlah kesimpulan ilmiah. Karena Ia sendiri tidak pernah dibuktikan melalui eksperimen laboratorium. Ia bukan hasil pengamatan teleskop ataupun mikroskop. Ia adalah sebuah klaim filosofis lebih tepatnya, sebuah asumsi metafisik mengenai hakikat pengetahuan. Tapi, lucunya banyak orang menerima asumsi tersebut seolah-olah ia merupakan temuan ilmiah.

Oleh Karena itu, sebenarnya perdebatan mengenai Tuhan tidak pernah benar-benar dimulai dari bukti-bukti tentang Tuhan. Ia justru dimulai jauh lebih awal, yaitu dari pertanyaan mengenai apa yang boleh disebut sebagai bukti.

Jika seseorang sejak awal beranggapan bahwa hanya fakta-fakta empiris yang dapat diterima sebagai pengetahuan, maka tentu saja Tuhan akan selalu tampak tidak dapat dibuktikan. Bukan karena Tuhan telah dibantah, melainkan karena definisi tentang “bukti” sudah terlebih dahulu dipersempit.

Sebaliknya, jika seseorang mengakui bahwa akal manusia bekerja melalui lebih dari satu jalan empiris, logis, matematis, fenomenologis, hingga metafisis maka ruang perdebatan berubah sama sekali. Pertanyaannya bukan lagi apakah Tuhan dapat dibuktikan melalui mikroskop atau teleskop, melainkan apakah realitas secara keseluruhan menunjuk kepada suatu dasar yang melampaui dirinya sendiri.

Dengan demikian, perdebatan tentang Tuhan sesungguhnya merupakan perdebatan tentang epistemologi sebelum menjadi perdebatan tentang teologi. Barangkali di sinilah letak ironi terbesar dalam diskusi-diskusi modern mengenai agama.

Sebagian orang mengira mereka sedang memperdebatkan keberadaan Tuhan. Padahal, tanpa disadari, mereka terlebih dahulu sedang memperdebatkan apa yang dimaksud dengan pengetahuan, bukti, rasionalitas, bahkan kenyataan itu sendiri.

Itulah sebabnya mengapa begitu banyak dialog mengenai Tuhan berakhir tanpa pernah benar-benar bertemu. Kedua belah pihak sering kali berbicara menggunakan kata-kata yang sama, tetapi berdiri di atas fondasi epistemologis yang berbeda. Yang satu meminta bukti empiris, sementara yang lain berbicara tentang keniscayaan metafisis. Yang satu menganggap laboratorium sebagai hakim terakhir, sementara yang lain melihat akal memiliki wilayah kerja yang lebih luas daripada sekadar apa yang dapat diukur.

Barangkali, sebelum kita bertanya apakah Tuhan ada atau tidak, ada baiknya terlebih dahulu kita bertanya: “Siapakah sebenarnya yang menentukan apa yang layak disebut sebagai bukti?” Sebab jawaban atas pertanyaan itulah yang diam-diam menentukan hampir seluruh arah perdebatan tentang Tuhan selama dua abad terakhir. (*)

Rekomendasi