Retoria.id – Dalam salah satu bagian paling tajam dari seminarnya, Hamza Yusuf tidak berbicara dalam bahasa abstrak. Ia justru memulai dengan sebuah pergeseran kalimat yang sangat sederhana namun terasa begitu kuat dan aktual:
“We try to assess the validity of a claim not simply by reference to scientific evidence or the standards of faith, but by feeling.”
Bagi Hamza Yusuf, inilah inti krisis modern: kebenaran tidak lagi diuji dengan iman dan rasio, melainkan dengan perasaan personal. Pertanyaan yang kini mendominasi bukan lagi “Apakah ini benar?” melainkan “Apakah ini terasa benar bagi saya?”
Ia lalu memberi contoh yang sengaja dipilih karena sifatnya sangat konkret dan mengganggu. Hamza Yusuf menceritakan kisah seorang penyanyi Kristen Injili terkenal yang meninggalkan suaminya demi pria lain.
Ketika tindakannya dipersoalkan secara moral, pembenarannya bukanlah argumen teologis atau rasional, melainkan kalimat yang terdengar saleh namun problematik: “God put this love in my heart.”
Bagi Hamza Yusuf, di sinilah zaman perasaan bekerja dengan sempurna. Perzinahan yang dalam tradisi Kristen, Islam, maupun Yahudi secara tegas dianggap salah diubah menjadi tindakan yang sah hanya karena dibungkus oleh bahasa perasaan dan klaim spiritual.
Feeling tidak lagi tunduk pada kebenaran moral; justru kebenaran moral dipaksa tunduk pada perasaan.
Contoh ini, menurut Hamza Yusuf, bukan anomali, melainkan pola. Ketika perasaan dijadikan hakim terakhir, bahkan Tuhan pun bisa direduksi menjadi legitimasi bagi hasrat personal.
Baca Juga: Jejak Inovasi Ibn Sina dalam Tradisi Filsafat: Dari Logika Sembilan bagian Menjadi Logika dua Bagian
Hamza Yusuf menekankan bahwa dalam kerangka tradisi klasik, perasaan tidak pernah dipahami sebagai dasar realitas.
Para pemikir besar abad pertengahan baik dari Islam, Kristen, maupun Yahudi meyakini adanya realitas objektif yang tidak berubah hanya karena manusia merasa tidak nyaman dengannya.
Dengan nada retoris yang kuat, ia mengajukan pertanyaan yang terus bergema sepanjang seminar: “Is there a reality beyond feeling, or is feeling what is fundamental? Is feeling what is ultimately real?”
Pertanyaan ini bukan spekulasi filsafat kosong, melainkan ujian langsung bagi fondasi iman. Jika realitas ditentukan oleh perasaan, maka tidak ada lagi standar yang dapat mengoreksi keinginan manusia. Etika pun kehilangan pijakan objektifnya.
Hamza Yusuf menegaskan bahwa tugas etika dan spiritual manusia justru adalah menundukkan perasaan kepada kebenaran, bukan menyesuaikan kebenaran agar selaras dengan perasaan.
Dalam tradisi Abrahamik, realitas moral tidak dinegosiasikan oleh emosi, melainkan dikenali melalui iman dan rasio.
Bagi Hamza Yusuf, situasi ini menempatkan agama dalam posisi yang tidak mudah. Tradisi Abrahamik memang tidak menolak perasaan bahkan mengakuinya sebagai bagian penting dari pengalaman manusia namun tidak pernah menjadikannya sebagai kriteria utama kebenaran.
Ia menegaskan bahwa iman dan rasio tetap merupakan dua pilar fundamental dalam menilai klaim kebenaran. Perasaan boleh menjadi pintu masuk refleksi, tetapi tidak cukup untuk menjadi hakim terakhir.
Dalam konteks inilah, Hamza Yusuf menyebut krisis ini sebagai tantangan lintas agama. Meski ia secara eksplisit berbicara tentang tradisi Abrahamik.
Namun, ia juga membuka kemungkinan bahwa persoalan serupa dihadapi oleh tradisi-tradisi Timur seperti Hindu dan Buddha sebuah ruang dialog yang, menurutnya, sangat penting untuk dibuka. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2572185053/hamza-yusuf-dari-era-iman-era-rasio-menuju-era-perasaan