Retoria.id – Bias konfirmasi (Confirmation bias) adalah kecenderungan alami kita untuk mencari, memproses, dan memperhatikan data yang membenarkan pandangan kita. Dalam proses ini, kita mungkin hanya mempertimbangkan informasi yang mendukung, atau bahkan menafsirkan data yang ada dengan cara yang memperkuat teori kita. Terutama dalam kasus yang secara pribadi berkaitan dengan diri kita, bias ini akan semakin kuat.
Mengapa Bias Konfirmasi Terjadi?
Untuk memahami penyebab munculnya bias kognitif ini, kita perlu bertanya pada diri sendiri: mengapa kita memproses data? Bayangkan Anda sedang memperhatikan perubahan suhu selama beberapa hari ke depan. Angka-angka ini berguna untuk apa? Mungkin Anda berencana pergi piknik pada hari Jumat. Maka suhu udara pada hari Minggu, Senin, dan seterusnya tidak penting bagi Anda.
Anda melihat angka-angka itu untuk mencapai satu kesimpulan tentang hari Jumat. “Sepertinya udara sedang mendingin. Mungkin kita bisa menyalakan api unggun dan memanggang daging siang nanti.” Kita mencari sebuah narasi dan hasil akhir, bukan sekadar data mentah.
Baca Juga: Bias Ilusi Klaster: Mengapa Pikiran Kita Menyukai Pola Imajiner?
Namun, informasi yang mana? Dunia penuh dengan data yang terus membombardir kita. Dengan pertumbuhan internet dan media sosial, bombardir informasi ini bahkan semakin hebat. Data mana yang akan kita ambil dan mana yang kita abaikan?
Apakah perubahan nilai tukar mata uang berhubungan dengan suhu udara pada hari Jumat? Untuk memahami kondisi cuaca hari itu, apakah kita harus lebih memperhatikan arah angin, atau membandingkannya dengan data suhu pada tanggal yang sama di tahun-tahun sebelumnya?
Baca Juga: Dari Kaisar Nero ke Laskar Cinta Jokowi: Bias, Fallacy, dan Politik Kambing Hitam
Kenyataannya, melakukan perhitungan seperti itu membutuhkan waktu dan energi besar sesuatu yang memang dilakukan para ahli meteorologi. Namun bagi kita, dalam menghadapi arus besar informasi, memproses dan menafsirkan semua data untuk setiap topik tidaklah mungkin.
Akibatnya, kita memerlukan jalan pintas mental (mental shortcut) agar bisa dengan cepat memperoleh jawaban yang terasa dapat dipercaya.
Bias konfirmasi adalah salah satu jalan pintas mental itu karena memilih data yang relevan dan mendukung akan mempercepat dan mempermudah proses penalaran.
Data yang menolak pandangan kita membutuhkan energi lebih besar; ia memaksa kita mengubah teori atau membangun teori baru. Dan siapa yang bisa menjamin teori baru itu tidak akan kembali terbantah oleh informasi lain?
Contoh Nyata Bias Konfirmasi
Bayangkan Anda ingin menilai Raja Diponegoro, tokoh utama dalam Perang Jawa (1825–1830). Mungkin Anda punya salah satu dari dua pandangan ini:
Pandangan pertama:
Diponegoro adalah pahlawan besar yang berjuang melawan penjajahan Belanda, simbol keberanian dan spiritualitas Jawa.
Pandangan kedua:
Diponegoro adalah bangsawan keras kepala yang tidak realistis secara politik dan menyebabkan penderitaan rakyat akibat perang panjang.
Untuk teori kedua, ada banyak bukti. Ribuan rakyat tewas dalam perang, ekonomi Jawa porak-poranda, dan akhirnya Diponegoro menyerah tanpa mencapai kemerdekaan. Dalam catatan Belanda, ia disebut fanatik, keras kepala, bahkan “mimpi berlebih soal wahyu.”
Namun teori pertama juga punya dasar kuat. Catatan lokal dan babad Jawa menggambarkannya sebagai sosok yang mendapat ilham ilahi, yang ingin menegakkan keadilan dan moralitas di tanah Jawa. Ia melawan sistem kolonial yang merusak tatanan sosial dan nilai-nilai Islam.
Sekarang perhatikan data ini:
“Diponegoro dibuang ke Makassar dan wafat di pengasingan pada 1855.”
Apakah Anda menganggap fakta itu menunjukkan kekalahan atau justru keteguhan? Itu tergantung dari sisi mana Anda memandangnya.
Anda bisa berkata:
“Diponegoro wafat dalam pengasingan, tapi namanya abadi tanda kemenangan moral dan spiritual atas penjajahan.”
Atau sebaliknya:
“Diponegoro dibuang dan kalah bukti bahwa perjuangannya lebih romantik daripada realistis.”
Kedua tafsir bisa sama-sama masuk akal, tetapi pilihan Anda cenderung mengikuti keyakinan awal tentang Diponegoro. Di sinilah bias konfirmasi bekerja, data yang sama bisa dibaca dengan dua arah yang saling bertentangan, tergantung pada apa yang sudah ingin Anda percayai sejak awal.
Teori “Manusia Cerdas” dalam Menjelaskan Bias Konfirmasi
Tidak ada orang yang ingin tampak bodoh atau tidak berpengetahuan. Bayangkan Anda sedang menyampaikan pendapat tentang Pangeran Diponegoro, lalu orang-orang menertawakan Anda. Tiba-tiba, seorang profesor sejarah berkata, “Kalian mungkin menertawakannya, tapi sebenarnya dia benar.”
Anda merasa lega dan bangga. Anda bukan orang bodoh. Tapi kemudian, profesor lain bangkit dan menyanggahnya, mendukung kerumunan. Wajar bila Anda cenderung memihak profesor pertama karena jika tidak, Anda harus menerima bahwa Anda pantas ditertawakan.
Dalam situasi seperti ini, Anda akan mencari tanda-tanda yang membuat profesor pertama tampak cerdas dan profesor kedua tampak salah. Tanda-tanda ini menjadi bukti bagi kecerdasan dan rasionalitas Anda sendiri. Bias konfirmasi, dalam hal ini, berfungsi untuk melindungi identitas Anda.
Bukti Eksperimen tentang Bias Konfirmasi
Banyak eksperimen menunjukkan keberadaan bias konfirmasi. Dalam salah satu eksperimen, peserta diminta mengingat sejumlah informasi. Hasilnya menunjukkan bahwa orang lebih mudah mengingat informasi yang mendukung pendapat mereka sendiri. Mereka bisa saja membangun argumen yang berlawanan, tetapi tampak kurang termotivasi untuk mengingat informasi yang menentang.
Fenomena ini juga terlihat di bidang lain. Bayangkan Anda menulis disertasi doktoral. Anda mencari literatur yang mendukung argumen Anda. Sangat kecil kemungkinan Anda akan membaca penelitian yang menentang posisi Anda bahkan jika Anda menemukannya, kemungkinan besar Anda akan mengabaikannya karena tenggat waktu penulisan sudah dekat.
Dalam eksperimen lain, peserta diminta menilai seseorang yang belum dikenal dengan menanyakan pertanyaan untuk menentukan apakah ia ramah atau dingin.
Ketika diberitahu bahwa mereka akan bertemu dengan orang yang ramah, pertanyaan yang diajukan cenderung mengonfirmasi keramahan itu, seperti: “Apakah Anda senang menghadiri pesta?”
Sebaliknya, ketika mereka mengira akan bertemu orang yang kaku, pertanyaan lebih condong ke arah pembenaran sikap dingin: “Apakah Anda lebih suka belajar di perpustakaan?”
Padahal, bisa jadi orang itu memiliki kedua sifat senang berpesta dan suka belajar di perpustakaan. Tapi kita cenderung mencari informasi yang membenarkan teori, dan mengabaikan informasi lain.
Cara Menghadapi Bias Konfirmasi
Langkah pertama untuk menghadapinya adalah menyadari bahwa bias ini ada. Masalahnya, kesadaran ini tidak mudah. Kita sering tidak tahu apa yang tidak kita tahu, dan secara sengaja maupun tidak, telah mengabaikan sebagian besar informasi.
Bahkan dalam menulis artikel ini pun, kita mungkin justru mencari data yang mendukung keberadaan bias konfirmasi tanpa sadar bahwa ada studi lain yang mungkin menolak teori ini, bahkan mungkin lebih kuat secara ilmiah.
Karena itu, untuk benar-benar melawan bias konfirmasi, kita harus mengambil pendekatan aktif. Sekadar merasa “terbuka terhadap pendapat lain” tidak cukup. Kita harus secara aktif mencari eksperimen atau bukti yang menolak pandangan kita sendiri.
Dalam banyak kasus, kita enggan mendengarkan pendapat lawan tanpa berusaha menemukan celah dan kesalahan dalam argumennya. Jika seorang liberal duduk mendengarkan seorang komunis, sebagian besar energinya akan digunakan untuk mencari “kesalahan logika” lawan bicara.
Sebuah latihan yang baik adalah mendengar dan berusaha memahami pendapat yang bertentangan dengan kita bukan untuk menyerang, tetapi untuk benar-benar memahami. Namun yang perlu diingat, bahkan dalam kondisi ini, kita tetap membawa pandangan sendiri, dan tidak akan pernah bisa sepenuhnya menanggalkannya demi melihat dunia dari sudut pandang baru. (*)