Retoria.id – Hingga hari ini, ada banyak sekali misteri di dunia yang belum berhasil kita dapatkan jawabannya. Bukan hanya misteri yang berasal dari alam, tapi juga dari pengetahuan. Salah satu yang paling populer adalah misteri Manuskrip Voynich yang belum berhasil dipecahkan.
Manuskrip Voynich sendiri adalah salah satu buku kuno bahasa tak dikenal yang populer karena isinya yang sulit dipahami. Perpaduan aksara dan ilustrasi di dalamnya sampai saat ini masih terus berusaha dipecahkan oleh ilmuwan dan pakar kriptografi.
Lantas, apa sebenarnya isi dari Manuskrip Voynich ini? Mengapa kita sulit memecahkan isi yang ada di dalamnya? Simak pembahasannya berikut ini!
Manuskrip Voynich adalah sebuah buku kuno misterius yang ditemukan pada tahun 1912. Saat itu, Wilfrif Voynich, seorang pedagang buku antik berdarah Polandia-Amerika membeli buku ini dari sebuah biara di Italia. Jadi, penamaan “Voynich” pada buku ini memang berdasarkan nama pedagang tersebut.
Manuskrip ini terdiri dari sekitar 240 halaman perkamen yang menampilkan perpaduan antara teks dengan ilustrasi gambar. Selain alfabetnya yang tidak dikenal dan tidak mirip dengan bahasa apa pun di dunia, gambar yang memenuhi halamannya juga tidak bisa diketahu dengan pasti.
Ada ratusan gambar berwarna berupa tanaman aneh yang tidak ada di dunia nyata. Ada juga tanda zodiak, diagram astronomi sampai gambar-gambar wanita tanpa busana yang sedang mandi di kolam hijau atau jaringan.
Berdasarkan pengujian penanggalan karbon atau carbon dating, buku ini diperkirakan dibuat antara tahun 1404-1438. Namun, sampai sekarang tidak diketahui siapa orang yang menulisnya.
Meski belum ada yang bisa menerjemahkan buku ini, termasuk AI sekalipun, Voynich sama sekali bukan naskah yang dibuat asal-asalan. Ini merupakan manuskrip yang memiliki makna yang belum terpecahkan.
Ada beberapa alasan yang membuat manuskrip ini termasuk ke dalam kategori buku kuno bahasa tak dikenal. Apa saja?
Manuskrip Voynich dianggap sebagai tantangan kriptografi terbesar di abad pertengahan karena berhasil mengalahkan semua metode pemecahan sandi yang pernah dibuat manusia. Menilik tahun pembuatannya, naskah ini disebut sebagai anomali karena sistem pengunciannya jauh melampaui teknologi di era itu.
Tidak hanya para kriptografer, para jenius militer seperti William Friedman dan Elizebeth Friedman (yang pernah memecahkan kode pada perang Dunia II) hingga Alan Turing gagal menganalisis manuskrip ini. Jika naskah ini hanya tulisan acak atau hoaks, para ahli sudah pasti langsung bisa mendeteksinya.
Bahkan hingga memasuki era AI (artificial intelligence), manuskrip ini masih tetap menjadi rahasia yang belum bisa dipecahkan oleh siapa pun.
Karena belum ada yang bisa memecahkan isi di dalam Voynich, beragam teori mengenai isi manuskrip ini pun bermunculan. Beberapa yang populer antara lain:
Menurut Anda, bisakah suatu saat misteri Manuskrip Voynich yang belum berhasil dipecahkan ini bisa terungkap?
Aditya Pratama memiliki pengalaman 8 tahun bekerja di media online. Aditya mengawali kariernya sebagai staf riset di detik.com, lalu pindah menjadi editor liputan khusus. Selama pandemi, Aditya mencoba hal baru sebagai SEO Editor di Pikiran-Rakyat.com sebelum akhirnya menjadi Reporter di Retoria.id. Selain mengembangkan konten visual, program, dan kerja sama, Aditya juga menangani dan mengkurasi konten-konten pakar yang dipublikasikan secara menarik.