Retoria.id – Narrative fallacy mengacu pada kecenderungan manusia untuk menciptakan cerita-cerita sederhana dan seringkali cacat dari rangkaian kejadian nyata, guna memberi makna pada dunia di sekitar mereka.
Kita sering kali mengabaikan faktor kebetulan dan lebih menekankan pada bakat, kebodohan, atau niat sebagai penyebab suatu peristiwa.
Manusia ingin mempercayai sebuah cerita, dan ketika menghadapi ketidakpastian, mereka cenderung mencari penjelasan sebab-akibat.
Baca Juga: Fallacy of Division: Pengertian, Contoh Kasus dan perbedaannya dengan Fallacy of Composition
Otak intuitif kita ingin memaknai dunia. Ia berusaha menyusun data acak menjadi satu kesatuan yang masuk akal dan melihat pola-pola atau penafsiran yang mungkin sebenarnya tidak pernah dinyatakan secara eksplisit. Inilah yang menyebabkan terjadinya narrative fallacy.
Kita cenderung ingin membungkus dunia yang kacau ini ke dalam sebuah narasi yang rapi. Percaya bahwa hasil hidup kita ditentukan oleh kebetulan terasa tidak memuaskan, sebagian karena hal itu membuat masa depan menjadi tidak bisa diprediksi.
Namun, di dunia yang penuh dengan ketidakpastian, pola-pola yang tampak sering kali hanyalah ilusi.
Masalahnya adalah kita dikelilingi oleh begitu banyak informasi sehingga otak kita harus menyederhanakannya untuk bisa memproses dan memahami dunia.
Dalam banyak hal, hidup kita akan terasa kurang bermakna tanpa rasa sebab-akibat atau tanpa pola logis. Namun, pencarian naluriah akan keteraturan ini sering kali justru menyesatkan kita.
Narasi-narasi memberi kita penjelasan emosional yang kuat dan tampak masuk akal atas realitas. Tapi secara berbahaya, narasi juga bisa membuat kita berpikir bahwa kita bisa memprediksi masa depan.
Jika kita tidak waspada, narasi bisa menjerumuskan kita ke dalam keyakinan palsu bahwa hubungan sebab-akibat telah terjadi, terutama ketika hal tersebut menyentuh keyakinan terdalam kita.
Ketika narrative fallacy muncul, kita sering kali melupakan faktor-faktor dunia nyata seperti kebetulan, keberuntungan, kesempatan, dan waktu yang sederhana.
Kita merangkum cerita menjadi pendek, sederhana, dan padat. Dan saat kita menceritakannya ulang, kita menghilangkan detail-detail mengganggu yang tidak sesuai — padahal detail tersebut mungkin akan membawa kita pada kesimpulan yang sangat berbeda.
Beberapa narasi bahkan menjadi sangat populer dan mendalam, sampai-sampai digunakan untuk mendorong perubahan politik.
Narasi seperti ini memengaruhi sistem keuangan dunia, meyakinkan orang untuk berinvestasi, dan bahkan menarik perhatian serta dana untuk penelitian ilmiah.
Dalam Ilmu Keuangan Perilaku
Bias narrative fallacy menyebabkan investor tertarik pada cerita-cerita yang menarik dan menggugah, yang mendorong mereka membeli dan mempromosikan saham.
Pikiran manusia lebih suka mendengar cerita yang menarik daripada menganalisis angka dan grafik. Karena itu, bias naratif ini menghasilkan kesalahan berpikir dalam pasar keuangan.
Kita cenderung menghubungkan elemen-elemen yang mungkin tidak benar-benar berhubungan. Di dunia finansial, narasi sangat mendominasi. Setiap produk dijual dengan mengandalkan sebuah cerita.
Contoh dari Jeff Bezos dan Amazon
Dalam narasi Brad Stone tentang bangkitnya Amazon, Jeff Bezos sendiri memperingatkan bahaya terjebak dalam narrative fallacy ini.
Ia menyatakan bahwa tidak ada penjelasan sederhana tentang bagaimana beberapa produk—seperti Amazon Web Services (AWS), layanan komputasi awan yang menjadi unit paling menguntungkan di Amazon—bisa tercipta.
Tidak ada satu momen pun di mana mereka menyadari bahwa mereka bisa menghasilkan miliaran dolar hanya dengan melisensikan teknologi ini ke perusahaan lain.
Contoh dari Nassim Nicholas Taleb dalam The Black Swan
Nassim Taleb berpendapat bahwa manusia meremehkan peran kebetulan dan ketidaksengajaan dalam berbagai aspek kehidupan.
Ia mencontohkan laser, sebuah penemuan yang mengubah dunia bukan karena niat sadar, tetapi karena kebetulan. Laser kini menjadi bagian penting dari dunia modern: digunakan dalam penyimpanan data, bedah mata, pemindai barcode, hingga robotika.
Namun, Charles Townes, penemu laser, awalnya hanya ingin memecah berkas cahaya — bukan menciptakan teknologi revolusioner.
Demikian pula dengan Google. Tujuan awal mereka hanyalah menciptakan mesin pencari yang bekerja dengan baik. Mereka tidak bermaksud membangun perusahaan raksasa seperti sekarang.
Pesan utamanya adalah saat kita membuat keputusan, kita jarang memiliki semua fakta, dan bahkan jika kita memilikinya, kita tidak pernah benar-benar tahu.
Keberuntungan memainkan peran jauh lebih besar dalam hidup dan kesuksesan kita dibandingkan yang biasa kita akui dalam cerita-cerita kita. (*)