Retoria.id – Mengapa protes muncul dan terkadang mengarah pada kekerasan? Pertanyaan sederhana ini sekilas tampak sepele atau bahkan konyol.
Jawaban instan biasanya diarahkan pada faktor tekanan ekonomi, ketidakadilan, diskriminasi, atau penjelasan bernuansa keamanan seperti intervensi asing, infiltrasi, dan sebagainya.
Tiap jawaban itu mungkin benar dari sudut pandang tertentu, tetapi bagi seorang sosiolog macam gustave Le bon, jawaban tersebut belum cukup.
Mengapa Protes Hadir?
Kehidupan urban modern mempertemukan lebih banyak manusia dalam ruang bersama, sehingga memperbesar peluang terjadinya aksi kolektif.
Di sisi lain, dengan semakin kompleksnya masyarakat dan pembagian kerja yang makin maju, kendali pemerintahan demokratis berada di tangan segelintir elite.
Keputusan mereka dapat berdampak jauh lebih besar terhadap kehidupan seseorang dibandingkan keputusan individu itu sendiri.
Wajar bila rakyat kemudian mencari berbagai cara untuk menghadapi dampak negatif keputusan elite politik, baik melalui mekanisme demokratis maupun jalur aksi kolektif.
Bentuk aksi kolektif bisa berupa demonstrasi, petisi, mogok, boikot, hingga ikut serta dalam pemilu. Di era digital, ini diperluas dengan petisi daring, gerakan tanda pagar (hashtag), kampanye virtual, dan sebagainya.
Namun, aksi kolektif tidak selalu berjalan damai. Bentrokan “massa aksi” dengan polisi, benturan di jalanan dengan para pengemudi.
Mengapa aksi kolektif kadang berubah menjadi protes penuh kekerasan? Dari sinilah pentingnya memahami dimensi sosiologis dari protes.
Masalah Ini Tak Bisa Dipandang Dangkal
Mengapa protes terbentuk dan kadang mengarah pada kekerasan? Penjelasan klasik seperti tekanan ekonomi, penindasan, diskriminasi, atau intervensi asing tidak sepenuhnya keliru.
Namun beberapa fakta yang terjadi justru di tengah situasi penuh diskriminasi dan kesenjangan, di beberapa masyarakat protes tidak muncul, atau kalaupun ada, bentuknya berbeda-beda?
Mengapa justru di negara-negara dengan indikator kesejahteraan dan harapan hidup lebih baik, kadang meletus protes berdarah, sementara di masyarakat yang lebih lemah bahkan protes damai pun tak terjadi?
Mengapa Protes Menjadi Masalah Sosiologis?
Objek ilmu sosial adalah tindakan kolektif manusia. Tindakan ini bermakna: ia disengaja, memiliki tujuan, berakar pada konteks budaya, waktu, dan ruang tertentu.
Karena itu, sulit menetapkan hukum universal dalam ilmu sosial. Diktator bisa memicu protes, tapi tidak semua rezim diktator menghadapi protes.
Baca Juga: Bystander Effect: Mengapa Kita Tetap Diam Saat Menghadapi Bencana Dalam Keramaian?
Demokrasi dianggap membuka ruang, tetapi bukan berarti bebas dari protes. Banyak penelitian sosiologi tentang protes justru lahir dari konteks AS dan Eropa Barat.
Begitu juga faktor diskriminasi, kemiskinan, atau inflasi, bisa memicu protes, tetapi tidak selalu terjadi di semua negara.
Contoh-contoh semacam ini menjadikan akar penyebab protes sebagai persoalan ilmiah bagi para sosiolog. “Persoalan” di sini berarti objek pemikiran—sesuatu yang penting, layak mendapat perhatian dan perenungan.
Le Bon dan Aksi Kolektif yang Tak Sadar
Sosiologi, meski lebih tua dari psikologi, pada awal perkembangannya masih sangat dipengaruhi oleh teori psikologi. Karena itu, analisis awal tentang protes banyak disusun dengan dasar psikologi sosial.
Salah satunya adalah buku The Crowd: A Study of the Popular Mind karya Gustave Le Bon (1841–1931). Teorinya berakar pada konsep psikologi populer kala itu seperti alam bawah sadar, libido, dan regresi ke pola masa kecil.
Menurut Le Bon, ketika massa bertindak secara kolektif, pengaruh kelompok mengurangi pengaruh individu. Anggota kelompok menciptakan satu “pikiran kolektif” yang melemahkan ciri individual, membuat orang lebih rentan mengekspresikan dorongan bawah sadarnya. Ungkapan populer seperti “massa menyeret” mencerminkan ide Le Bon.
Ia melihat protes bukan sebagai tindakan rasional, melainkan reaksi negatif dan irasional individu kehilangan pikiran dan kehendak pribadi karena larut dalam kelompok. Kata kunci yang ia gunakan adalah “tindakan spontan dan tanpa perhitungan.”
Teori Kerumunan
Berbeda dengan sosiolog setelahnya, Le Bon tidak melihat organisasi dalam protes. Ia menjelaskan protes melalui konsep kerumunan (crowd, foule).
Kerumunan adalah kumpulan tanpa organisasi yang terbentuk karena kedekatan fisik dengan stimulus tertentu. Ciri-cirinya:
Le Bon menilai fenomena ini muncul dari tiga faktor:
Analisis ini ia kembangkan saat protes buruh abad ke-19 mengguncang Eropa Barat. Baginya, aksi pekerja menuntut upah layak, perumahan, dan kesejahteraan hanyalah gejala kerumunan tak rasional—“makhluk khusus yang berbahaya.”
Jenis-jenis Kerumunan
1. Kerumunan Konvensional – terbentuk karena norma atau perjanjian sosial, misalnya sambutan massa di bandara untuk tim olahraga.
2. Kerumunan Kebetulan – muncul akibat peristiwa, seperti kecelakaan atau gempa.
3. Kerumunan Ekspresif – berkaitan dengan ritual atau perayaan, misalnya karnaval atau upacara keagamaan.
4. Kerumunan Aktif – memiliki pemimpin, organisasi, dan tujuan jelas, seperti tim olahraga atau aksi massa terorganisir.
Ciri kerumunan menurut Le Bon:
Herbert Blumer menambahkan bahwa kerumunan terbentuk oleh dua faktor: pertemuan fisik dan kedekatan antarindividu.
Karya Sigmund Freud, yang kemudian memengaruhi Le Bon, melahirkan aliran psikologi massa. Saat itu psikoanalisis mendominasi psikologi, sehingga teori protes pun lahir dalam kerangka tersebut.
Namun, satu teori tidak bisa menjelaskan semua protes. Fakta bahwa ada protes yang tidak sesuai logika “kerumunan” menunjukkan perlunya teori baru. Salah satunya adalah teori deprivasi relatif, yang akan dibahas dalam kajian selanjutnya. (*)