Retoria.id – Pada dekade 1980-an, kondisi New York benar-benar buruk. Pemalakan di kereta bawah tanah adalah hal yang sangat biasa.
Orang-orang melompati pagar untuk masuk ke kereta tanpa membayar tiket, kursi-kursi dirusak, sampah dibuang sembarangan, dan yang paling parah, dinding serta pintu gerbong penuh coretan dan grafiti.
Seluruh enam ribu gerbong, dari atap sampai lantai, dipenuhi lukisan dan tulisan—hingga tampak gelap dan benar-benar berwajah buruk.
Kerusakan fasilitas dan penghindaran pembayaran tiket merugikan pemerintah sekitar 200 juta dolar per tahun. Di sisi lain, tingkat kejahatan juga sangat tinggi. Pemerintah pun membentuk tim khusus untuk mengatasi masalah ini.
Salah satu anggota tim khusus yang memikirkan kasus itu mengajukan klaim mengejutkan “Kebersihan kereta bawah tanah memengaruhi munculnya kejahatan.” Berdasarkan teori itu, fokus utama diarahkan pada kebersihan.
Baca Juga: Bystander Effect: Mengapa Kita Tetap Diam Saat Menghadapi Bencana Dalam Keramaian?
Kursi baru dipasang, dinding dicat ulang, grafiti dihapus, aroma ruangan diperbaiki, dan tempat sampah disediakan. Hasilnya? Tingkat kejahatan menurun secara mencengangkan.
Melihat hasil positif ini, pada tahun 1993 pemerintah memutuskan untuk menerapkan kebijakan tersebut di seluruh New York. Teori itu terbukti kuat dan berhasil.
Apa itu Teori Jendela Pecah?
George Kelling menamai teori ini “jendela pecah.” atau “Broken Windows Theory” Apa maksudnya?
Jika sebuah gedung memiliki jendela yang pecah, hal itu memberi pesan bahwa tempat tersebut tidak memiliki ketertiban yang baik.
Faktor inilah yang meningkatkan motivasi kejahatan dan mendorong orang lain untuk merusak jendela lainnya. Singkatnya, manusia menilai hal-hal besar dari tanda-tanda kecil. Mari kita lihat beberapa contoh.
Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa jika di trotoar diletakkan sebuah kantong sampah yang robek, dalam beberapa jam jumlah sampah akan bertambah berkali lipat karena setiap orang yang lewat akan membuang sampahnya di situ.
Tetapi jika trotoar bersih, tidak ada yang membuang sampah sembarangan. Hal ini tidak berkaitan dengan ada atau tidaknya kesadaran, melainkan pengaruh lingkungan.
Teori ini menyatakan jika di sebuah lingkungan ada satu rumah dengan jendela pecah—meskipun jendela itu pecah secara tidak sengaja dan tidak ada yang mengeluh.
Pemilik rumah tetap bertanggung jawab terhadap lingkungannya, karena jendela pecah itu bisa meningkatkan potensi kejahatan di sekitar.
Poin Penting Teori Jendela Pecah
Ada dua poin penting dalam teori jendela pecah: