Retoria.id – Pernahkah Anda mengalami situasi di mana teman Anda sedang presentasi, lalu dalam hati Anda berpikir bahwa kalau Anda yang berada di posisinya, pasti bisa melakukannya lebih baik?
Atau pernahkah Anda merasa bahwa jika suatu pekerjaan diserahkan kepada Anda, hasilnya akan jauh lebih baik? Pernahkah rekan kerja Anda melakukan sesuatu yang membuat Anda berkata pada diri sendiri “Kalau saya yang mengerjakannya, pasti hasilnya lebih baik.”
Atau, mari ambil contoh lain. Berapa kali Anda membuat rencana untuk diri sendiri, tapi batal karena berbagai alasan? Berapa kali Anda berkata, “Mulai hari Sabtu saya pasti akan mulai olahraga”?
Berapa kali Anda bertekad untuk mulai diet bulan depan, atau belajar bahasa baru, tapi tidak terlaksana?
Jika semua ini pernah Anda alami, jangan khawatir. Banyak orang lain juga mengalaminya. Menilai atau memutuskan sesuatu tanpa mempertimbangkan kondisi sebenarnya adalah kesalahan perilaku yang dikenal sebagai Prinsip Kurangnya Empati. Mari kita bahas lebih lanjut.
Apa itu Prinsip Kurangnya Empati?
Prinsip kurangnya empati membuat kita gagal memahami kondisi emosional dan mental yang berbeda dari keadaan kita saat ini.
Misalnya, ketika seseorang merasa sangat sedih karena suatu peristiwa, kita tidak bisa memahaminya dan justru berkata, “Kalau saya di posisinya, saya pasti bisa mengendalikan diri lebih baik.”
Baca Juga: Teori Jendela Pecah: Bagaimana Kekacauan Menyebabkan Meningkatnya Kejahatan
Menurut prinsip ini, orang sering mengabaikan peran pemicu emosional—seperti stres, kecemasan, atau ketakutan—dalam memengaruhi keputusan dan perilaku.
Misalnya, ketika seseorang marah, kita mungkin berkata, “Kalau saya, saya akan bertindak lebih bijak.” Padahal, ini adalah bentuk bias perilaku. Seharusnya kita memperhitungkan kondisi emosional dan bahkan kepribadian orang tersebut sebelum menghakimi.
Bias kognitif ini secara langsung memengaruhi penilaian kita. Dan bukan hanya terhadap orang lain, tapi juga terhadap diri kita sendiri.
Kita kerap salah menilai masa depan dengan membuat rencana emosional—seperti diet, belajar, atau olahraga—seolah-olah kondisi kita nanti akan sama dengan kondisi saat ini.
Contohnya ketika Anda tidak sedang marah, Anda tidak bisa sepenuhnya membayangkan perasaan orang yang sedang marah—atau bahkan perasaan diri Anda saat marah.
Ketika Anda tidak lapar, sulit membuat rencana diet. Saat tidak lelah, Anda merasa yakin bulan depan akan rajin ke gym. Demikian pula sebaliknya ketika sedang marah, sulit memahami ketenangan orang yang mengajak Anda untuk rileks.
Mengapa Kita Terjebak dalam Bias Ini?
Alasannya sederhana pemahaman kita terhadap emosi orang lain sangat bergantung pada kondisi kita sendiri. Jika kita tidak mengalami kondisi itu, kita sulit memahaminya.
Meski kita merasa selalu membuat keputusan dengan logika, kenyataannya emosi dan perasaan sangat memengaruhi pilihan kita. Inilah hal yang sering kita lupakan.
Cara Menghindari Bias Kurangnya Empati
Bias ini bisa membuat kita menyakiti orang lain—dengan ucapan yang menyinggung, atau bahkan merusak hubungan. Karena itu, penting untuk belajar menghindarinya.
Pertama, kita harus berusaha memahami orang lain. Sadari bahwa kita tidak bisa sepenuhnya menyingkirkan pengaruh emosi dari perilaku. Jika seseorang sedang sedih, pahami perasaannya, jangan mudah tersinggung oleh tindakannya. Karena kekuatan emosi seringkali lebih besar daripada logika.
Tips atau rekomendasi yang bisa dilakukan
Kurangnya Empati dalam Dunia pemerintahan
Dalam konteks pemerintahan, prinsip ini juga berlaku. Jika Anda mampu memahami emosi rakyat, kemungkinan besar Anda akan menjadi pemimpin atau pejabat publik yang lebih baik.
Salah satu poin penting yang harus diperhatikan pemimpin adalah jangan sampai menimbulkan ketakutan palsu pada rakyat apalagi merendahkan. (*)