Retoria.id – Di layar kaca, Ferry Irwandi tampil berapi-api. Ia bilang tak takut mati, tak takut dipenjara, asal bisa bersuara. Retorikanya kuat, penuh emosi, dan mudah memikat simpati.
Ia pandai memainkan diksi tentang keberanian, pengorbanan, bahkan ketakutan personal. Tapi di balik retorika yang memukau itu, logikanya sering goyah: penuh penyederhanaan, loncatan kesimpulan, dan bias emosional.
Baca Juga: Ferry Irwandi Singgung Filsafat Tak Relevan, Gus Dhofir: Indonesia Justru Sedang Darurat Akal Sehat
Kritik yang sehat memang perlu, tapi kritik tanpa kerangka logis bisa justru menyesatkan. Tidak bermaksud memihak siapapun karena saya yakin pada kebenaran kita akan bertemu di muara yang sama.
Mari kita bedah beberapa corak yang berpotensi bias dan fallacy dari argumentasi Ferry, lengkap dengan kenyataan yang barangkali sering ia abaikan.
1. Menyederhanakan Masalah
“Kalau pemerintah berjalan dengan baik, kita enggak perlu takut dengan ancaman-ancaman seperti ini.”
Kalimat ini terdengar meyakinkan. Tapi apakah benar negara yang pemerintahannya baik otomatis bebas dari kericuhan? Tidak juga.
Argumentasi itu berpotensi Oversimplification / False Cause. menyederhanakan masalah seolah-olah semua kericuhan hanyalah akibat “pemerintah tidak baik”
Prancis, negara demokrasi mapan, diguncang demo Yellow Vests sejak 2018. Korea Selatan, dengan indeks tata kelola tinggi, tetap rutin dilanda protes buruh.
Artinya, demonstrasi dan kericuhan bisa muncul bahkan di negara dengan pemerintahan yang relatif baik. Menyederhanakan sebab hanya pada “pemerintah tidak baik” adalah jebakan logika.
2. Menyamakan Polisi vs TNI
“TNI bilang hoaks, polisi bilang lain. Siapa yang harus kita percaya?”
False Equivalence atau Appeal to Ignorance. Ferry menempatkan dua pernyataan institusi seolah setara. Padahal bobot bukti tak bisa dipukul rata. Ada rekaman, saksi, dokumen, forensik—yang jauh lebih kuat daripada sekadar “kata A” atau “kata B.”
Contohnya tragedi Kanjuruhan 2022. Awalnya ada klaim yang saling bertolak belakang, tapi investigasi independen justru membuka fakta: gas air mata benar ditembakkan di stadion. Jadi, bukan soal siapa yang lebih dipercaya, tapi siapa yang bisa menghadirkan bukti.
3. Bermain di Ranah Emosi
“Saya takut anak saya tinggal di negara yang tidak benar. Saya takut anak saya tinggal di negara yang miskin.”
Appeal to Emotion, ini kalimat yang menyentuh hati, tapi bukan argumen yang solid. Rasa takut pribadi tidak sama dengan analisis faktual.
Menurut data BPS 2023, angka kemiskinan Indonesia turun ke 9,36 persen. Masalah masih banyak, tapi menggambarkan masa depan seolah pasti suram jelas bias emosional.
4. TikTok Bukan Alat Investigasi
“Kalau mau mencari dalang ya tinggal aja di TikTok. It’s not a rocket science.”
False Dilemma atau Hasty Generalization. Kedengarannya sederhana, tapi jelas menyesatkan. Investigasi kerusuhan tidak bisa hanya dengan scroll TikTok.
Kasus hoaks Pemilu 2019 membuktikan polisi harus memakai digital forensics, menelusuri server, hingga jaringan pendanaan. Tidak sesederhana menebak dari postingan viral.
5. Curiga Tanpa Bukti
“Jangan terus berpikir ini serangan eksternal. Siapa tahu dari internal.”
Speculative Inference, di sini Ferry membuka kemungkinan tanpa dasar data. Retorika “siapa tahu” memang bikin orang curiga, tapi tak membantu mencari solusi.
Kerusuhan Mei 1998 butuh bertahun-tahun penyelidikan untuk menyingkap aktor-aktor internal. Menuduh atau berspekulasi tanpa bukti hanya memperkeruh suasana.
Kritik Perlu, Logika Lebih Perlu
Ferry Irwandi lantang, emosional, dan berhasil memantik perhatian publik. Tapi kalau ditimbang dengan logika, argumennya rapuh terlalu banyak penyederhanaan, penuh emosi, dan sarat spekulasi.
Kritik yang sehat seharusnya tidak hanya menggugah hati, tapi juga berdiri di atas data. Tanpa itu, kita hanya terjebak pada retorika yang indah, tapi logika yang renta. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571543469/5-potensi-logical-fallacy-dalam-argumentasi-ferry-irwandi