Mengenal Efek Streisand: Upaya Menutupi Informasi, Justru Semakin bikin Viral

Retoria.id – Internet selalu menjadi semacam arena bermain bagi semua orang, yang diatur oleh aturan-aturan tidak biasa. Aturan itu kadang tampak tak masuk akal, tetapi sesungguhnya menunjukkan betapa uniknya cara kerja pikiran manusia. Salah satunya dikenal dengan nama Efek Streisand.

Apa itu Efek Streisand?

Psikologi terbalik (reverse psychology) adalah salah satu fenomena mental yang paling sering terjadi sekaligus menghibur. Jika dilakukan dengan tepat, seseorang bisa mendapatkan apa yang justru berusaha dihindari orang lain.

Prinsip yang sama berlaku ketika seseorang berusaha menyembunyikan sesuatu atau menjaga jarak dari pernyataan yang dianggap merusak wibawanya.

Kenapa WikiLeaks begitu populer di mata publik sekaligus ditentang pemerintah? Karena WikiLeaks berusaha membongkar sesuatu yang dengan putus asa disembunyikan.

Inilah contoh tidak langsung dari Efek Streisand. Analogi sempurna adalah ketika masyarakat berbondong-bondong ingin tahu sesuatu yang justru dilarang untuk dilihat.

Baca Juga: Mengenal Efek Kupu-Kupu: Bagaimana Satu Kejadian Kecil Bisa memicu dampak besar?

Efek Streisand adalah fenomena ketika upaya menekan atau menyensor informasi justru menarik perhatian lebih besar, sehingga memperluas jangkauan penyebarannya.

Sering kali, informasi yang dibiarkan begitu saja akan meredup dengan sendirinya. Namun, ketika ada usaha menutupinya, justru meledak secara berlebihan.

Di era internet, di mana orang ingin tahu segala hal—dari pakaian selebriti hingga proyek rahasia NASA—efek ini semakin kuat karena banyak yang meremehkannya.

Kasus Streisand

Kenapa dinamakan “Efek Streisand”? Ceritanya berawal pada 2003. Seorang fotografer, Kenneth Adelman, ditugaskan memotret garis pantai California untuk mendokumentasikan erosi.

Dari 12.000 foto, salah satunya (gambar nomor 3850) tanpa sengaja menampilkan rumah mewah milik penyanyi Barbra Streisand di Malibu.

Pengacara Streisand segera menuntut agar foto itu dihapus dari situs. Gugatan dilayangkan, namun pengadilan menolaknya. Alih-alih menghilang, foto itu jadi viral.

Sebelum kasus hukum, foto hanya diunduh enam kali (dua di antaranya oleh pengacara Streisand sendiri). Setelah tuntutan, foto itu dilihat lebih dari 420.000 kali. Dari sinilah Mike Masnick (Techdirt) menamai fenomena itu Efek Streisand.

Psikologi di Balik Efek Streisand

Fenomena ini merupakan bentuk klasik psikologi terbalik. Jika seseorang dilarang untuk melihat apa isi sebuah kotak hadiah misterius, ia justru semakin penasaran. Begitu juga anak-anak yang malah memanggil temannya dengan julukan yang dilarang.

Larangan menimbulkan dorongan alami untuk tahu. Semakin jelas ada yang ingin disembunyikan, semakin kuat pula keinginan orang untuk membongkarnya.

Contoh Lain, Banyak kasus serupa. Salah satunya adalah blog NeverSeconds milik Martha Payne, seorang siswi 9 tahun di Skotlandia. Ia mengunggah foto makanan sekolah dan berkomentar ringan bahwa makanannya terlalu sedikit.

Awalnya hanya dibaca keluarga dan tetangga. Namun setelah dewan sekolah melarang Martha memotret dan memposting makanannya, kisah ini justru jadi berita internasional. Blog-nya akhirnya dilihat lebih dari 9,5 juta kali dan bahkan membuat Martha bertemu koki terkenal Jamie Oliver.

Faktanya, fenomena seperti ini sudah ada sejak lama. Misalnya, ketika Vatikan melarang buku Copernicus De revolutionibus orbium coelestium pada tahun 1616. Akibatnya, buku itu justru dicetak ulang dan menyebar luas. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571551415/mengenal-efek-streisand-upaya-menutupi-informasi-justru-semakin-bikin-viral

Rekomendasi