Retoria.id – Bias kognitif adalah sekumpulan kesalahan berpikir, jalan pintas mental (heuristik), dan prasangka yang membuat cara kita menilai sesuatu menjadi condong ke arah tertentu.
Ketika mengalami bias ini, kita cenderung menafsirkan informasi dengan cara yang mendukung keyakinan atau pengalaman sebelumnya—meskipun hasil akhirnya mungkin tidak sejalan dengan kenyataan.
Seorang prajurit berdiri 100 meter dari papan sasaran dan membidik tepat ke titik tengah. Ia adalah penembak andal: tangannya stabil, napasnya teratur, dan ia menarik pelatuk dengan tenang.
Baca Juga: Apa Itu Bias Anchoring? Pengertian, Contoh, dan Dampaknya dalam Pengambilan Keputusan
Namun setelah selesai menembak, ia mendapati semua pelurunya meleset ke kanan bawah. Apa yang bisa kita simpulkan? Mungkin senjatanya cacat bawaan—misalnya bidikan senjata tidak disetel dengan benar.
Nah, kesalahan semacam ini juga terjadi pada pikiran kita. Kita pun sering “meleset” dalam penilaian.
Contoh Bias dalam Kehidupan Sehari-Hari. Pertimbangkan kalimat-kalimat berikut:
Tidak satu pun dari pernyataan ini berdasarkan analisis statistik atau data yang sah. Anda bisa saja bertemu perempuan yang menjadi juara balapan mobil.
Apakah ia pantas disebut pengemudi buruk? Ketika mengatakan “orang asing tidak berperasaan”, siapa yang dimaksud? Jepang? Chili? Jerman? Italia? Apakah warga Hamburg dan Munich itu sama? Apakah Shakespeare dan Churchill memiliki tingkat emosi yang identik?
Meski tidak berdasar, pernyataan semacam ini masih melekat dalam benak kita. Misalnya, ketika bertemu remaja kelahiran awal 2000-an, Anda langsung menganggap mereka tidak sabaran, suka teknologi, dan tidak suka kerja kantoran.
Tapi bagaimana jika Amir Mohammad, kelahiran 2003, ternyata rajin, sabar, dan menyukai pekerjaan administratif?
Bias kognitif membuat kita melihat dunia sebagaimana yang kita pikirkan, bukan sebagaimana adanya.
Miengapa Bias Kognitif Terjadi?
Cobalah berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu duduk. Sekarang pikirkan:
Setiap gerakan tadi melibatkan puluhan keputusan, dan satu saja keputusan salah bisa menyebabkan Anda terjatuh. Tapi seberapa banyak dari semua itu yang Anda pikirkan secara sadar? Hampir tidak ada.
Ini karena otak manusia (setidaknya sejak zaman nenek moyang kita) harus bekerja hemat energi. Otak mengonsumsi banyak kalori.
Jika kita harus berpikir sadar untuk setiap keputusan kecil, tubuh kita tidak akan mampu menyuplai cukup energi—dan kita bisa mati kelelahan.
Untuk menghemat energi, otak membentuk jalan pintas mental (mental shortcut). Ini berguna, terutama untuk pekerjaan berulang. Namun konsekuensinya, otak tidak memeriksa secara detail apakah suatu kejadian itu baru atau berulang.
Misalnya: Suara keras apa pun bisa membuat kita takut, baik itu ledakan granat atau musik rock di konser. Otak hanya tahu “ada suara keras”—dan langsung bereaksi. Inilah sebabnya otak rentan tertipu.
Contoh Penipuan Pikiran yang Umum. Kita sering terhibur oleh teka-teki yang sebenarnya memperdaya cara pikir:
1. Teka-teki Nama Anak
“Ibu Maryam punya tiga anak perempuan bernama Juni, Juli, dan…?” Banyak orang spontan menjawab: “Agustus”, karena mengingat bulan-bulan dalam kalender.
Padahal, salah satu anaknya bernama Maryam, sesuai dengan sebutan ibu maryam.
2. Teka-teki Tukang Bangunan
“Tiga pekerja membangun tiga tembok dalam tiga hari. Berapa hari lima pekerja membangun lima tembok?”
Banyak yang menjawab “lima”, karena pola 3-3-3.
Padahal, jika satu pekerja membangun satu tembok dalam tiga hari, maka lima pekerja juga butuh tiga hari untuk membangun lima tembok.
Bagaimana Cara Mengurangi Bias Kognitif?
Mari kembali ke cerita si penembak. Ia tahu senjatanya meleset ke kanan bawah. Untuk mengatasinya, ia tinggal membidik sedikit ke kiri atas.
Demikian juga dengan berpikir. Langkah pertama untuk melawan bias adalah menyadari bahwa bias itu nyata dan kita semua bisa mengalaminya.
Misalnya: Saat memberi harga barang milik kita, sadarilah bahwa harga yang kita bayangkan kemungkinan lebih tinggi dari harga wajar.
Saat melihat label “2 persen lebih sedikit lemak”, bayangkan juga versi lain: “mengandung 8 persen lemak”.
Adam Smith menyarankan kita untuk melihat dari sudut pandang orang luar. Misalnya: Jika saya adalah pembeli, berapa harga wajar untuk barang ini?
Mungkin bias paling berbahaya adalah percaya bahwa kita tidak punya bias. Dengan menyadari bahwa otak kita bisa salah, kita bisa membuat keputusan yang lebih rasional. (*)