Teori Greater Fool: Core of the Core dari Kedunguan

Retoria.id – Pernah beredar kabar bahwa produksi tapal kuda akan dihentikan karena dianggap tidak lagi menguntungkan. Artinya, tapal kuda akan jadi barang langka dan harganya melonjak.

Sebagian kecil orang yang memang punya kuda langsung membelinya untuk berjaga-jaga. Tapi lebih dulu dari mereka, para produsen dan orang dalam yang tahu lebih awal, sudah memborong tapal kuda murah di pasar dan menyimpannya.

Baca Juga: Efek Hiperbolik: Alasan Ilmiah Kenapa Kita Sering Menunda Pekerjaan

Karena langka, harga tapal kuda benar-benar naik. Orang-orang yang bahkan tidak punya kuda pun mulai membeli. Alasannya satu: karena harga terus naik, mereka yakin bisa menjualnya lebih mahal ke orang lain.

Semakin banyak yang ikut-ikutan, semakin langka dan mahal tapal kuda. Orang mulai bercerita soal mereka yang cepat beli dan dapat untung besar.

Misalnya: “Si Fulan beli tapal kuda dua bulan lalu, sekarang jadi tajir.” Cerita seperti ini menyebar, dan semua orang mulai ikut: pedagang, pegawai, mahasiswa, pengangguran. Semua ingin beli tapal kuda, berharap bisa dijual lebih mahal.

Banyak dari mereka bahkan nekat pinjam uang demi bisa ikut beli. Ketika ditanya, “Kalau semua orang beli, siapa yang akan beli darimu nanti dengan harga lebih mahal?”

Jawabannya: “Tenang aja, nanti ada orang yang lebih bodoh dari saya yang mau beli.”

Skema ini terus berjalan sampai tak ada lagi “si bodoh berikutnya” yang mau membeli. Saat itu terjadi, harga ambruk, dan mereka yang masih pegang tapal kuda merugi. Yang untung? Mereka yang lebih dulu menjual—yang lebih cerdik.

Apa Itu Teori Greater Fool (Si Bodoh yang Lebih Bodoh)?

Ini adalah situasi di mana orang membeli aset bukan karena nilainya, tapi karena yakin akan ada orang lain yang mau membeli lebih mahal.

Mereka tahu nilainya tak masuk akal, tapi berpikir bisa “lempar” barang itu ke orang berikutnya sebelum semuanya jatuh.

Baca Juga: Bias Otoritas: Mengapa Kita Cenderung Tunduk pada Sosok Berkuasa?

Masalahnya, jika kamu jadi orang terakhir dalam antrean ini—tanpa ada “si bodoh yang lebih bodoh” di belakangmu—kamu yang kena batunya.

 Apa Pelajaran Pentingnya?

Ketika harga naik karena cerita, emosi, dan spekulasi—bukan nilai sebenarnya—berhati-hatilah. Kamu mungkin sedang antri jadi “si bodoh berikutnya.” (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571497798/teori-greater-fool-core-of-the-core-dari-kedunguan

Rekomendasi