Retoria.id – Apakah Anda menganggap diri seseorang yang rasional atau tidak rasional? Kemungkinan besar Anda akan mengatakan bahwa Anda adalah orang yang rasional dan memiliki perasaan logis dalam berbagai situasi.
Mari kita perjelas topik ini. Misalnya, bagaimana Anda membayangkan lima tahun ke depan? Atau mari kita mundur sedikit. Lima tahun lalu, bagaimana gambaran Anda tentang hari ini?
Kemungkinan besar Anda juga membayangkan masa depan yang indah bagi diri Anda, dengan banyak kemajuan dalam berbagai bidang. Namun, apakah hal itu benar-benar terjadi dan semua bayangan Anda terwujud?
Berdasarkan penelitian, pikiran kita bekerja dengan cara yang sering kali berpihak pada dirinya sendiri dengan sikap optimis. Misalnya, Anda mungkin pernah menghadapi ujian dan dengan keyakinan bahwa Anda bisa menguasai materi hanya dalam satu malam, Anda menundanya.
Namun kenyataannya tidak demikian, dan saat belajar buku, Anda justru kesulitan. Atau Anda mungkin berpikir bahwa kecelakaan, kematian, perceraian, dan sebagainya tidak akan menimpa Anda, tetapi hanya orang lain.
Baca Juga: Apa Itu Bias Negativitas? Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya Menurut Psikologi
Banyak orang bahkan ketika memasuki hubungan emosional tahu bahwa pasangan tersebut tidak cocok, tetapi tetap melangkah dengan penuh optimisme, dan akhirnya berakhir dengan kegagalan.
Semua contoh ini mengantar kita pada pembahasan bias optimisme. Perlu Anda ketahui bahwa pikiran manusia secara alami memiliki bias ini. Bias kognitif ini juga sering disebut “ilusi ketidakrentanan,” “optimisme tidak realistis,” atau “mitos pribadi.” Berikut ini kita akan membahasnya lebih jauh.
Bias Efek Optimisme
Konsep bias optimisme pertama kali diperkenalkan oleh Neil Weinstein. Ia ingin menekankan bahwa terkadang optimisme bisa sepenuhnya realistis.
Saat kita mencoba memprediksi masa depan, kemungkinan besar kita, seperti kebanyakan orang lain, menilai risiko kegagalan sangat rendah dan memandang segalanya secara positif.
Bias kognitif inilah yang disebut efek optimisme. Efek ini membuat seseorang merasa beruntung dan percaya bahwa hal buruk tidak akan menimpanya.
Penelitian menunjukkan bahwa 80 persen orang di dunia mengalami bias ini: mereka tidak membayangkan masa depan yang buruk bagi diri mereka, dan selalu berharap semuanya berakhir dengan baik.
Kesalahan kognitif ini membuat kita berpikir bahwa kemungkinan kejadian positif dalam hidup jauh lebih tinggi dibandingkan kemungkinan kejadian negatif.
Misalnya, kita percaya bahwa orang Indonesia memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi, padahal kenyataannya tidak demikian.
Atau sejak kecil kita membayangkan bahwa kita pasti akan menjadi sukses dan kaya. Saat masuk universitas, kita membayangkan bahwa kita pasti akan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, dan tidak mungkin gagal atau menganggur. Namun kita perlu sadar bahwa bias optimisme adalah keyakinan yang keliru.
Penelitian juga menunjukkan bahwa orang cenderung berpikir kemungkinan bercerai atau menghadapi masalah besar lainnya sangat kecil, sementara peluang memiliki anak dan menjalani kehidupan bahagia dianggap jauh lebih besar.
Para pengusaha dan investor juga sangat rentan terhadap bias ini. Mereka yang hendak memulai bisnis baru sering kali menganggap usahanya pasti berhasil, tanpa memperhatikan kondisi pasar atau faktor lain. Padahal kenyataannya, banyak bisnis justru gagal di tahun-tahun awal.
Masalah Akibat Bias Efek Optimisme
Salah satu dampak buruk dari bias optimisme adalah mengabaikan banyak risiko dan bahaya potensial, serta melakukan tindakan yang bisa merugikan diri sendiri.
Kita mungkin mengambil keputusan keliru saat ini tanpa memikirkan masalah yang mungkin muncul di masa depan. Jangan salah paham, maksudnya bukan untuk menjadi pesimis terhadap masa depan.
Tujuan utama pembahasan ini adalah mengenalkan Anda pada bias ini dan mengingatkan pada beberapa hal penting.
Contohnya, Anda mungkin berpikir karena memiliki keterampilan mengemudi yang baik, maka tidak akan pernah mengalami kecelakaan, sehingga berani berkendara dengan kecepatan tinggi.
Atau Anda mungkin berpikir karena tidak akan jatuh sakit, maka tidak perlu memiliki asuransi. Banyak orang juga tidak membayangkan bencana seperti banjir atau kebakaran akan menimpa mereka, sehingga tidak pernah mengambil asuransi.
Dengan begitu, mereka justru membuka peluang bagi terjadinya peristiwa buruk, karena berpikir hal-hal tersebut mustahil terjadi pada diri mereka.
Keuntungan Bias Efek Optimisme
Tentu saja, bukan berarti selalu akan terjadi hal buruk. Kita hanya perlu menyadari keberadaan bias optimisme agar tidak mengambil keputusan keliru.
Namun pada dasarnya, jika Anda bersikap optimis, Anda akan merasakan perasaan yang lebih baik dan memiliki harapan lebih besar terhadap masa depan. Optimisme juga memberi kita motivasi untuk mengejar tujuan dan melangkah menuju pencapaiannya.
Bisa dikatakan, banyak rencana dan target jangka panjang manusia muncul dari bias ini, yang kadang membuat kita menetapkan tujuan yang sangat idealis dan tidak selalu realistis.
Menghindari Bias Efek Optimisme
Kita tidak boleh membiarkan bias optimisme menutup mata kita dari kenyataan. Melihat pengalaman hidup orang lain dan berkonsultasi dengan mereka yang pernah berada dalam situasi serupa dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijak.
Bayangkanlah kemungkinan terburuk. Selalu pertimbangkan skenario terburuk, buat daftar langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menghadapinya, dan persiapkan diri sejak dini. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571584021/efek-optimisme-mengapa-kita-merasa-kebal-dari-risiko-hidup