Raja yang Melarang Kentut: Kisah Satir Kekuasaan dan Tipu Muslihat Menteri

Retoria.id – Pada suatu masa, hiduplah seorang raja yang kejam tetapi licik, dengan seorang menteri yang lebih bengis dan culas darinya.

Suatu hari, raja itu duduk di singgasananya, lalu menoleh pada sang menteri dan berkata: “Temukan cara agar kita bisa menguasai jiwa rakyat tanpa mereka sadar dan melakukan perlawanan.”

Karena menteri ini pintar sekaligus penuh akal, ia merenung sebentar lalu menemukan rencana ganjil. Ia menulis sebuah maklumat dan menyuruh para juru warta membacakannya keras-keras di seantero kota. Isi maklumat itu berbunyi:

“Mulai hari ini, keyakinan agama dan kemampuan baca tulis dilarang, pajak dinaikkan tiga kali lipat, malam pertama pengantin perempuan menjadi hak raja, harga nyawa rakyat sama nilainya dengan ternak negeri tetangga, dan berdasarkan hukum baru, bahkan kentut pun dilarang. Siapa pun yang menolak aturan ini akan mendapat hukuman berat.”

Ketika raja mendengar tindakan menterinya, ia memanggilnya dengan suara geram “Apa-apaan ini, dasar tak berguna! Dengan aturan seperti ini, semua orang akan sadar. Tekanan sebesar ini akan memicu pemberontakan.

Bukankah yang kita butuhkan revolusi beludru? Apa kau sudah kehilangan akal?”

Menteri itu menjawab tenang: “Jangan cemas, Paduka. Rupanya Baginda tidak menyadari kekuatan larangan kentut. Aturan ini akan menjadi katup yang menyalurkan energi protes rakyat.”

Dan benar, semuanya terjadi seperti yang diperkirakan sang menteri. Protes rakyat memuncak, mereka turun ke jalan dan berteriak: Kebijakan baru raja adalah bentuk penindasan nyata.

 Baca Juga: Mengenal Efek Plasebo Dari Pernyataan Kosong Tapi Bisa Menggugah Rasa

Mengubah keyakinan dan melarang baca tulis masih bisa dimaklumi, menaikkan pajak bukan hal asing karena semua raja menyukainya. 

Bahkan mengambil malam pertama hanyalah adat lama, dan nyawa yang dianggap tak berharga dibandingkan tetangga bukan masalah besar. Tetapi, melarang kentut sama sekali tidak bisa diterima dengan nalar.

Orang-orang terdidik mulai menulis artikel bahwa buang angin itu sehat dan tidak ada yang keliru dengan itu. Mereka menyebut raja dan menterinya tolol yang menenggelamkan diri dalam abu rakyat.

Mereka menyebut diri mereka kaum intelektual, sambil saling berkata, “Bukankah raja sendiri pernah kentut?”

Kelompok lain menertawakan raja dengan cerita jenaka: ada yang bilang ia bisa meledak karena menahan perut, ada yang menuduh ia menyumbat selangkangannya dengan gabus, ada juga yang menyamakannya dengan anjing pelacak yang mengendus celah rakyat.

Menteri lalu menugaskan penjaga di berbagai sudut kota agar hukum ditegakkan. Sesekali mereka menggerebek jamban, menangkap pelanggar, dan menyeret mereka ke kamar mayat.

Tetapi rakyat tetap kentut sembunyi-sembunyi, menjadikan suara usus mereka sebagai bentuk perlawanan.

Ada yang pergi ke padang pasir untuk melampiaskan perut, ada pula yang berjalan di kota sambil melepas gas. Bahkan, muncul pesta bawah tanah di mana mereka makan kacang-kacangan dan merayakan kentut bersama.

Waktu pun bergulir. Hingga akhirnya, orang-orang melupakan kisah larangan agama, pendidikan, pajak, bahkan hak pengantin.

Semua tenaga mereka tersedot hanya untuk mempertahankan hak terakhir: kebebasan kentut. Dan di balik semua hiruk pikuk itu, raja dan menterinya tertawa puas di istana, kagum pada kelicikan mereka yang berhasil menenggelamkan rakyat dalam asap busuk mereka sendiri. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571540344/raja-yang-melarang-kentut-kisah-satir-kekuasaan-dan-tipu-muslihat-menteri

Rekomendasi