Retoria.id – Pernahkah Anda melihat orang yang percaya pada takhayul dari dekat? Pikiran seperti apa yang mereka miliki, atau bagaimana mereka membuat keputusan hingga Anda berpikir bahwa mereka percaya pada hal-hal mistik? Anda mungkin mengatakan bahwa mereka mempercayai hal-hal seperti sihir, energi kosmik, karma, atau ampas kopi.
Anda akan menganggap kepercayaan mereka takhayul karena diperoleh melalui cara yang tidak ilmiah. Namun, mungkin sulit bagi mereka untuk memahami bahwa kita semua juga memiliki keyakinan yang tidak kita ketahui asalnya, tanpa dasar ilmiah, tetapi tetap berperan dalam pengambilan keputusan kita.
Karena bias otoritas, kita mungkin secara membabi buta menerima banyak kepercayaan dari buku atau orang yang tampak dapat dipercaya, tanpa alasan dan tanpa meragukan kebenarannya. Padahal, kepercayaan keliru ini terkadang tak jauh berbeda dengan mempercayai ampas kopi atau penyembuhan energi.
Contoh Takhayul Ekonomi
Setelah pemerintahan Taliban menguasai Afghanistan dan seseorang tanpa gelar universitas mengambil alih Bank Sentral Afghanistan, orang-orang bertanya-tanya bagaimana mereka bisa begitu berhasil mengendalikan inflasi.
Baca Juga: Mengenal Efek Galatea: Cara Mengubah Hidup dengan Percaya Diri
Mereka ingin tahu bagaimana pemerintahan seperti itu mampu menjaga inflasi tetap satu digit meskipun banyak masalah melanda. Pertanyaan ini berakar pada keyakinan bahwa inflasi rendah merupakan tanda ekonomi yang baik.
Keyakinan ini jelas keliru. Memang, ekonomi yang baik biasanya memiliki inflasi rendah dan stabil. Namun, inflasi yang rendah tidak selalu berarti ekonomi yang baik. Tingkat inflasi dapat menurun seiring memburuknya situasi ekonomi karena beberapa alasan:
Ketika demam pasien turun setelah kematian, bukan berarti kondisinya membaik. Dalam ilmu ekonomi, penurunan inflasi tidak selalu menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi suatu negara.
Kesalahpahaman tentang Investasi
Ketika berbicara tentang takhayul dalam investasi, mungkin yang terbayang adalah membeli dan menjual saham dengan melihat rasi bintang (astrologi) atau membeli emas pada hari-hari keagamaan. Namun, ada banyak keyakinan keliru yang sebenarnya juga kita miliki.
Sebagai contoh:
Daftar keyakinan keliru ini bisa terus berlanjut tanpa akhir. Namun, Anda tentu sudah paham maksudnya. Mungkin kita tidak memakai ramalan kopi untuk membeli saham, tetapi kita tetap memiliki banyak keyakinan salah tentang ekonomi yang menjadi dasar keputusan investasi kita.
Keyakinan Tidak Mudah Berubah
Jika Anda seorang liberal, Anda mungkin menyadari bahwa penganut komunisme atau sosialisme jarang mau meninggalkan keyakinannya. Sebaliknya, kaum sosialis juga akan mengatakan hal yang sama kepada kaum liberal. Secara umum, kita semua cenderung mempertahankan keyakinan yang kita miliki, dan itu ada alasannya.
Dalam pembahasan tentang bias kognitif, dijelaskan bahwa manusia menciptakan jalan pintas mental untuk menghemat energi otak. Kita lebih suka membangun pola sederhana agar bisa menjawab pertanyaan berulang dengan cepat tanpa berpikir dari awal.
Keyakinan juga bekerja dengan cara yang sama. Mengubah keyakinan dan membangun sistem berpikir baru membutuhkan banyak energi, terutama karena seseorang harus menemukan jawaban baru untuk berbagai persoalan.
Baca Juga: 9 Buku Kanonik Tentang Pesantren Yang Disarankan, Sebelum Membuat Konten Tentang Pesantren
Misalnya, seseorang percaya bahwa pegawai terbaik adalah mereka yang lahir di bulan Libra, sementara orang yang lahir di bulan Gemini tidak berguna bagi organisasi. Anda mencoba menjelaskan bahwa tidak ada penelitian yang menunjukkan hubungan antara bulan kelahiran dan kinerja kerja.
Jika ia menerima penjelasan Anda, maka ia harus mencari metode baru untuk wawancara kerja dan mengubah pandangannya terhadap para pegawai. Cara yang lebih mudah? Ia hanya akan menonjolkan kebaikan pegawai Libra dan keburukan pegawai Gemini. Karena bias konfirmasi, ia akan mengabaikan semua bukti yang menentang keyakinannya dan hanya memperhatikan yang memperkuatnya.
Hubungan Takhayul dengan Anggapan Diri Cerdas
Tak seorang pun ingin terlihat bodoh atau tidak tahu. Mengakui kesalahan dan ketidaktahuan bisa terasa menyakitkan karena membuat kita tampak lemah. Dalam percakapan tentang takhayul, orang sering kali tidak berusaha memahami kebenaran, melainkan mencari alasan untuk mempertahankan pendapatnya, agar tidak terlihat kurang pintar.
Karena itu, jika saat berbicara tentang takhayul kita membuat lawan bicara merasa bodoh, kemungkinan besar ia tidak akan menerima argumen kita. Sebaliknya, perlu membuatnya merasa bahwa ia tetap dianggap cerdas, dan bahwa menerima atau menolak teori tersebut tidak akan mengubah pandangan kita terhadap dirinya.
Keyakinan Takhayul dan Pencarian Dukungan Sosial
Manusia adalah makhluk sosial yang secara naluriah ingin menjadi bagian dari kelompok. Penggemar Real Madrid, pengguna iPhone, komunitas pesepeda—semua adalah contoh kelompok yang memberikan identitas sosial bagi anggotanya.
Dalam beberapa kasus, kita bisa menerima suatu gagasan tanpa dasar kuat hanya karena penerimaan terhadap gagasan itu membuat kita merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu. Misalnya, mengapa ketika dihadapkan pada pilihan antara liberalisme dan sosialisme, kita jarang memilih fasisme? (Padahal kaum fasis Italia dahulu mengklaim diri sebagai jalan ketiga antara keduanya.) Jawabannya sederhana: karena mengaku sebagai fasis bisa membuat kita kehilangan penerimaan sosial dari teman dan lingkungan sekitar.
Banyak tokoh berpengaruh di media sosial pun berhati-hati untuk tidak mengutarakan pendapat yang bisa membuat mereka kehilangan pengikut. Bahkan ketika pendapat itu benar, mereka memilih diam—dan akibatnya, para pengikut kehilangan kesempatan untuk mendengar kebenaran.
Dengan demikian, kita sering kali berpegang pada keyakinan salah dan menjadikannya dasar keputusan, semata-mata demi mendapat pengakuan dan penerimaan sosial.
Cara Menghadapi Bias Ini
Kita menerima banyak pernyataan hanya karena datang dari sumber yang tampak kredibel, atau karena ingin mengambil keputusan dengan cepat. Masalahnya, bias seperti ini sulit dikenali. Dalam banyak kasus, kita bahkan tidak sadar bahwa keyakinan yang kita pegang sebenarnya bersifat takhayul.
Satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan membaca banyak sumber dari berbagai perspektif. Perlu diingat, tidak setiap buku berisi kebenaran. Bacaan yang terbatas justru dapat memperkuat keyakinan keliru, terutama karena kita cenderung membaca hal-hal yang sejalan dengan pandangan kita sendiri.
Selain itu, berdialog secara terbuka dan intelektual dengan orang yang tidak sependapat dapat membantu kita menyadari bahwa sebagian dari keyakinan kita mungkin salah. Jadi, lain kali Anda bertemu dengan orang yang berbeda pandangan, jangan terburu-buru membencinya atau merasa harus membuktikan bahwa Anda benar. Anggaplah ia sebagai kesempatan berharga untuk menemukan dan memperbaiki keyakinan keliru dalam diri sendiri. (*)