Retoria.id – Salah satu kesalahan besar dalam cara kita membaca tradisi Islam hari ini adalah kecenderungan untuk memperlakukannya secara hitam-putih.
Sahih atau tertolak, valid atau bid‘ah, ilmiah atau sesat. Hamza Yusuf, dalam satu ceramahnya memberikan uraian yang sangat filosofis, sembari mengajak kita kembali pada cara berpikir ulama klasik
Sebuah pendekatan atau cara berpikir yang bernuansa, probabilistik, dan sangat sadar akan keterbatasan manusia.
Ia memulai dari sesuatu yang sering menjadi sumber kegaduhan terutama di bumi nusantara ini yakni soal “hadis lemah”.
Hamza Yusuf menghindari menjelaskan hadis lemah sebagaimana ta’rif yang terdapat di kitab-kitab hadis.
Dia memberikan penjelasan analogis sederhana tapi aktual dan sangat modern yaitu sistem penilaian akademik.
Hadis lemah, kata dia, berada di rentang “B minus sampai D minus”. Ia bukan hadis palsu, bukan pula sesuatu yang otomatis dibuang. Ibarat disertasi ilmiah, Ia lulus, hanya saja dengan margin kesalahan yang lebih besar dibanding hadis sahih.
Jika diperhatikan, Hamza Yusuf sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang penting: ia sedang mengajarkan logika epistemologi Islam.
Hadis lemah bukan berarti “salah”, melainkan “tidak mencapai tingkat kepastian tertinggi”. Ini bukan soal benar–salah secara absolut, tapi soal derajat kemungkinan.
Logika ini sejalan dengan prinsip dasar ilmu: sesuatu tidak dibatalkan hanya karena ia tidak mencapai kepastian maksimal.
Bahkan dalam ilmu modern, probabilitas 60–70 persen tetap bermakna. Maka, menolak hadis lemah secara total justru merupakan sikap yang tidak ilmiah.
Baca Juga: Hamza Yusuf, Nisfu Sya‘ban, dan Tradisi Sunni: Merawat Waktu, Rahmah, dan Kedewasaan dalam Perbedaan
Dari sini Hamza Yusuf membawa kita pada sikap para ulama. Hadis lemah, menurut mayoritas ulama, boleh diamalkan dalam wilayah fadhā’il al-a‘māl (amal-amal kebajikan) selama tidak menyentuh wilayah penetapan hukum halal dan haram.
Artinya, ulama tidak naif, tetapi juga tidak kaku. Mereka tahu bahwa agama tidak hanya hidup di wilayah hukum, tetapi juga di wilayah pengharapan, penguatan iman, dan penyucian batin.
Karena itu, Hamza Yusuf menyebut bahwa serangan terhadap hadis lemah hari ini justru merupakan argumen yang lemah. Ia miskin nuansa, miskin sejarah, dan miskin pemahaman terhadap bagaimana ilmu Islam bekerja selama berabad-abad.
Ia bahkan menyebut Imam Malik salah satu raksasa intelektual Islam yang dikenal mampu menjawab puluhan ribu pertanyaan, dan justru kemampuannya terletak pada satu hal penting: mengetahui kapan harus mengatakan “tidak tahu”.
Ini menunjukkan bahwa kebesaran ilmu bukan pada klaim kepastian, tetapi pada kejujuran epistemik.
Hamza Yusuf tidak berhenti pada legitimasi teoretis. Ia jujur bahwa praktik ini berbeda-beda: di Sudan ada yang mengamalkan, ada yang tidak; di Mauritania pun demikian. Ini bukan kelemahan Islam, tetapi justru kekuatan tradisi ilmiahnya.
Islam tidak dibangun di atas satu suara tunggal, melainkan di atas dialog panjang antarulama. Dalam konteks ini, mengamalkan atau tidak mengamalkan hadis lemah bukan soal iman atau kufur, tetapi soal ijtihad dan kecenderungan metodologis.
Masuk ke bagian berikutnya, Hamza Yusuf menuturkan bahwa secara pribadi, ia memang baru belakangan ini melakukan amalan Sya‘ban.
Namun, ia menegaskan bahwa secara pribadi ia mendapatkan manfaat darinya. “Itu pengalaman pribadi saya,” Jelasnya.
Dan Dalam praktiknya, pada bacaan Yasin pertama diniatkan untuk umur panjang dalam ketaatan, Yasin kedua diniatkan untuk perlindungan dari musibah, dan Yasin ketiga diniatkan agar hanya bergantung kepada Allah, dibebaskan dari kebutuhan kepada selain-Nya. Itulah praktik yang mereka lakukan.
Sekali lagi, ini didasarkan pada hadis tentang Yasin, bahwa Yasin itu sesuai dengan niat apa ia dibaca. Jika dibaca dengan niat tertentu, maka ia membawa keberkahan itu.
Di sini tampak jelas bahwa Yasin tidak diperlakukan sebagai mantra, melainkan sebagai tindakan spiritual yang disertai niat.
Logikanya sederhana, bacaan memperoleh maknanya dari niat. Ini bukan sesuatu yang asing dalam Islam. Seluruh ibadah berdiri di atas prinsip ini.
Maka, membaca Yasin dengan niat bukanlah irasional, melainkan konsisten dengan teologi amal dalam Islam.
Puncak uraian Hamza Yusuf justru bukan pada argumen ilmiah, melainkan pada pengalaman eksistensial.
Ia menceritakan bagaimana sebuah barang mahal hilang di kereta di Inggris,barang milik orang lain yang membuatnya benar-benar terpukul.
Seorang pria Nigeria menyarankan sesuatu yang, bagi banyak orang modern, mungkin terdengar “tidak rasional”: membaca 41 kali Yasin.
“Demi Allah, saya menghabiskan sepanjang malam membaca 41 kali Yasin benar-benar dengan keyakinan penuh terhadap apa yang dia katakan,”. Jelasnya.
Dan keesokan harinya, barang itu ditemukan begitu saja di stasiun, terbuka, tanpa penjagaan.
Apakah ini bukti ilmiah? Tidak. Tapi di situlah justru poin Hamza Yusuf: Allah membalas keikhlasan, bukan sekadar kesempurnaan dalil.
Bahkan sesuatu yang berada di “kelas B” bisa menghasilkan dampak spiritual yang luar biasa jika dilakukan dengan iman yang utuh.
Hamza Yusuf menutup dengan penegasan yang jujur dan seimbang: tentu saja, yang terbaik adalah mengikuti apa yang Nabi lakukan secara langsung.
Tetapi itu tidak berarti menutup mata terhadap karunia-karunia Allah yang diberikan kepada umat ini.
Yasin, katanya, adalah jantung Al-Qur’an. Ia memiliki daya pengaruh spiritual yang besar, sebagaimana telah “dicoba dan dibuktikan” dalam pengalaman umat, dari generasi ke generasi.
Uraian Hamza Yusuf ini penting bukan hanya untuk membela hadis lemah atau amalan tertentu, tetapi untuk mengembalikan cara berpikir Islam yang dewasa: akal yang logis, hati yang hidup, dan iman yang tidak paranoid.
Islam tidak meminta kita menjadi robot dalil, tetapi manusia yang berpikir, merasakan, dan berharap kepada Allah dengan penuh kejujuran.
Dan mungkin, di zaman yang terlalu curiga pada segala hal yang tidak “sempurna”, pesan Hamza Yusuf ini justru terdengar paling masuk akal. (*)