Retoria.id – Dunia ini, sejak mula, memang tidak pernah dijanjikan sebagai ruang balasan. Ia diciptakan sebagai medan cobaan dan ujian. Dalam keyakinan agama Islam, hal ini bukan persoalan teoretik yang rumit, apalagi problem metafisis yang bertele-tele. Dunia memang demikian adanya tempat di mana manusia diuji, bukan diadili secara final.
Karena itu pula, dalam tradisi Islam khususnya Ahlussunnah wal Jamaah, tidak dikenal apa yang disebut sebagai problem kejahatan sebagaimana ramai diperdebatkan dalam tradisi lain. Kejahatan bukan anomali kosmik.
Ia adalah bagian dari dunia, bagian dari ciptaan Allah subhanahu wa ta‘ala, dan bagian dari ketetapan-Nya. Namun, ia tidak kembali kepada Allah sebagai kejahatan, melainkan hadir sebagai sarana ujian bagi manusia.
Pada titik inilah seringkali terjadi kekeliruan yang tampak sepele, namun berdampak besar manusia mengira dunia adalah tempat keadilan mutlak atau keadilan absolut.
Silogismenya menjadi begini: Negasi konsekuen negasi anteseden (naqidh al tali) contoh: Jika Dunia adalah tempat keadilan mutlak maka tidak akan ada hari pembalasan, Nyatanya hari pembalasan itu ada. Maka dunia ini bukanlah tempat keadilan mutlak.
Baca Juga: Hamza Yusuf: Kebangkitan Pikiran Zombi Hidup di Luar, Mati di Dalam
Artinya, Allah menciptakan dunia ini sebagai tempat ujian belaka, bukan tempat balasan. Balasan itu ada di akhirat. Kabar buruknya, banyak manusia justru mengharapkan keadilan final di dunia, seakan-akan dunia berfungsi seperti hari pengadilan.
Seperti ini misalnya: Jika Tuhan adil, mengapa orang jahat hidup kaya dan nyaman, sementara orang baik hidup miskin dan menderita?
Ketika manusia menuntut keadilan yang sempurna di dunia, sesungguhnya ia sedang salah alamat. Dunia bergerak dengan hukum sebab-akibat, dengan keterbatasan dan ketimpangan. Keadilan di dunia selalu bersifat parsial.
Adapun keadilan mutlak yang tidak menyisakan satu pun ketimpangan adalah milik Tuhan dan disediakan di akhirat. Ini bukan pembenaran atas ketidakadilan, melainkan penempatan dunia pada fungsinya yang tepat: ia bukan arena keadilan terakhir.
Baca Juga: Hamza Yusuf: Dari Era Iman, Era rasio menuju Era Perasaan
Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari enam periode waktu yang hakikatnya tidak kita pahami sepenuhnya. Satu “hari” itu bisa setara dengan seribu tahun, bahkan lima puluh ribu tahun.
Bagi manusia, ini rentang yang nyaris tak terbayangkan. Namun bagi Allah, tidak ada masa lalu dan masa depan. Semuanya hadir dalam waktu kini. Allah meliputi seluruh waktu, dan waktu sendiri berada di bawah kuasa-Nya.
Maka, jika sains modern menyebut angka miliaran tahun untuk menjelaskan hadirnya alam semesta, itu tidak menimbulkan kegelisahan teologis. Bagi Allah, semua itu terjadi dalam satu kehendak yang sama.
Para nabi telah lama mengatakan bahwa alam semesta diciptakan, sementara para filsuf selama berabad-abad bersikukuh pada kekekalan alam. Kini, sains justru mengafirmasi apa yang telah disampaikan wahyu sejak awal.
Para nabi juga mengabarkan bahwa manusia akan mati dan dibangkitkan. Sekali lagi, filsafat lama menolak hal ini. Namun kesalahan mereka berulang: salah tentang penciptaan, salah pula tentang kebangkitan. Ketika manusia diingatkan tentang hari kebangkitan, sebagian menutupinya dengan ejekan, menyebutnya sihir yang nyata.
Padahal, hidup manusia sejak awal memang disusun sebagai rangkaian ujian. Al-Qur’an menyebutnya dengan dua kata yang dominan: bala’ dan fitnah. Fitnah berarti menguji dengan api. Api bersifat merusak dan tidak stabil sebagaimana Iblis yang diciptakan darinya. Berbeda dengan cahaya, yang konstan dan menenteramkan. Itulah sebabnya cahaya dijadikan ukuran tetap dalam sains modern (konstanta).
Manusia diciptakan dari tanah dan air yang artinya ada unsur stabilitas sekaligus instabilitas. Api bisa memanaskan air hingga mendidih. Amarah yang meluap adalah kerja api. Tanpa cahaya yang menstabilkan, manusia kehilangan keseimbangan. Maka fitnah hadir untuk menyingkap unsur apa yang dominan dalam diri manusia “kemurnian atau kotoran”.
Adapun bala’ adalah ujian yang mengikis. Seperti pakaian yang lama dipakai hingga usang, ujian menggerus manusia sampai ia lelah, sampai ia tunduk. Pada titik itulah setan kehilangan kuasanya. Manusia yang tunduk sepenuhnya pada Allah keluar dari wilayah kendali Iblis.
Seperti musuh yang dipaksa menyerah hingga mengangkat tangan dan berkata, “Aku tunduk.” Ketika sampai pada titik itu, setan tidak lagi memiliki kekuasaan atasmu. Engkau masuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak dikuasainya. Mereka adalah hamba-hamba Allah.
Apa itu kesehatan sejati? Dalam bahasa Arab, kata itu sulit diterjemahkan. Menurut Hamza Yusuf, kesehatan sejati adalah ketenangan hati dari kegelisahan. Hati yang tidak bergejolak. Inilah yang kita butuhkan di zaman akhir ini, ketika semua orang berada dalam keadaan gelisah.
Allah menyebut kegelisahan itu sebagai “panas”. Ketika mereka dipenuhi api, Allah menurunkan sakinah ke dalam hati mereka. Mereka menjadi tenang. Mereka bahkan tidur sebelum perang dan bermimpi indah. Allah memberi mereka ketenangan yang luar biasa.
Orang-orang yang tidak memiliki keimanan akan berputus asa ketika diberi ujian, dan Ketika diberi nikmat, mereka menjadi sombong. Ini kebalikan dari sikap orang beriman.
Allah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, dengan seluruh kode genetik yang luar biasa. Namun Allah melebihkan sebagian atas sebagian yang lain sebagai ujian. Orang kaya adalah ujian bagi orang miskin, dan sebaliknya. Orang berilmu adalah ujian bagi yang tidak berilmu, dan sebaliknya.
Allah berfirman: Kami jadikan sebagian kalian ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar? Rahasia ujian adalah sabar dan syukur.
Dunia dengan segala perhiasannya adalah ujian. Kekayaan, ilmu, perbedaan ras, bahkan perbedaan agama semuanya adalah alat uji. Orang kaya diuji oleh kemiskinan orang lain; orang berilmu diuji oleh ketidaktahuan sesamanya.
Setiap jiwa akan merasakan kematian. Manusia diuji dengan kebaikan dan keburukan. Yang sombong gagal dalam ujian kelapangan; yang putus asa gagal dalam ujian kesempitan. Kisah-kisah ujian itu berulang, dari yang botak, yang belang, hingga yang buta sebagian gagal, sebagian lulus.
Hari ini, ujian itu tampak dalam bentuk yang lebih kasat: kelaparan, pengungsian, perang, dan siklus berita yang membuat manusia hanya peduli ketika kamera menyala. Ketika orang bertanya, “Di mana Tuhan?” barangkali pertanyaan itu pantas untuk dibalik: “Di mana kamu?”
Pada akhirnya, kesimpulan itu selalu kembali pada satu kata “sabar”. Sabar bukan sekadar menahan, melainkan tunduk sepenuhnya pada keputusan Allah tanpa keluhan, tanpa klaim. Dunia ini akan berakhir. Hari Kiamat akan membuka semua rahasia.
Saat itu, mereka yang hidup nyaman akan berharap seandainya dahulu mereka diuji lebih berat, karena tidak ada satu pun penderitaan dunia yang tersisa dalam ingatan akhirat.
Kenapa generasi terdahulu yang hidup dalam penderitaan, kekurangan materi, finansial, keterbatasan, perang dan wabah lebih sedikit angka bunuh dirinya, sementara hari ini era penuh materi dan kecukupan angka bunuh dirinya tinggi? Orang dulu membungkus penderitaan dengan iman dan makna (kasb).
Sementara, hari ini cenderung meta narrative itu hampir sepenuhnya digeser pada dirinya. Sukses aku, gagal aku, semuanya berpusat pada dirinya semata. Sehingga ketika ia gagal dan menerima ujian ia benar-benar putus asa begitu juga ketika ia mendapatkan begitu banyak materi ia kehilangan makna.
Begitulah sunnatullah dunia: ujian yang tak berhenti. Namun bagi mereka yang sabar dan bertakwa, ujian itu bukan kehancuran, melainkan jalan pulang pun begitu juga sebaliknya. (*)
*Catatan: Artikel adalah hasil terjemahan dan penulisan ulang dari cermah-ceramah Syaikh Hamza Yusuf, Zaytuna College California.
Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572336874/panduan-profetik-dalam-menghadapi-penderitaan