Hamza Yusuf: Setan Mengalir Dalam Pembuluh Darah Kita

Retoria.id – Di suatu dulu, saat masih lugu memandang dunia, saya kerap bertanya-tanya: Mengapa setan sampai hati mengganggu manusia? Bukankah kita sama-sama makhluk Tuhan?

Tapi setelah mendengar penjelasan para arif billah, saya mulai paham, setan itu memang musuh telanjang, tapi nafsu dalam diri kita adalah musuh bersembunyi yang lebih licik.

Syekh Hamza Yusuf, dalam salah satu ceramahnya yang hingga kini masih saya putar ulang di sela-sela sahur, menjelaskan ihwal ini dengan jenial.

Nafsu (an-nafs) dan setan (asy-syaythān) adalah dua kekuatan gelap yang bekerja sama menjerumuskan anak Adam. Yang pertama dari dalam, yang kedua dari luar. Dua-duanya perlu dikenali, dua-duanya perlu dilawan.

Nafsu: Diri yang belum suci

Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata nafs dalam Al-Qur’an untuk bermacam-macam maksud. Kadang ia berarti diri sebagaimana firman-Nya tentang Ya’qub yang menjaga putranya.

Kadang ia bermakna jiwa yang belum tersucikan. Para ulama menyebutnya sebagai “kesadaran non-materi” yang kita bawa sejak lahir.

Nafsu ini punya syahwat hasrat-hasrat yang melekat erat dengan keberadaan jasmani kita. Kita adalah ruh yang ditempatkan dalam jasad.

Ruh itu mulia, tapi jasad punya kebutuhan seperti: makan, minum, dan lain sebagainya. Ketika kebutuhan itu menjadi tuan, bukan pelayan, maka kacaulah tatanan.

Lihat saja bagaimana Allah menciptakan manusia urutannya kepala di atas (tempat akal dan mata hati) lalu dada (tempat iman dan keyakinan) lalu perut; dan paling bawah, kemaluan. Urutan ini bukan kebetulan. Ia semacam hierarki yang mengajarkan bahwa akal harus memimpin nafsu, bukan sebaliknya.

Tapi ketika seseorang dikendalikan perut dan kemaluannya ketika yang paling bawah memerintah yang paling atas maka ia telah membalik tatanan fitrah. Dan di situlah setan masuk lewat pintu yang telah dibukakan nafsu.

Baca Juga: Panduan Profetik dalam Menghadapi Penderitaan

Nabi SAW. bersabda, “Sesungguhnya setan mengalir dalam pembuluh darah anak Adam.” Kalimat singkat, tapi kedalamannya tidak terkira. Ia mengalir, bergerak, mencari celah. Karenanya, Islam memberi kita perlindungan: dzikir, doa, tilawah, dan yang paling utama di bulan ini “puasa”.

Di bulan Ramadan, setan-setan dibelenggu. Setidaknya menurut teks hadits yang sahih. Tapi, seperti kata Imam al-Ghazali, “Jika engkau masih melihat kejahatan terjadi di bulan Ramadan, itu menunjukkan betapa buruknya nafsumu.”

Nafsu tetap ada. Ia tidak dibelenggu. Maka jangan salahkan setan melulu, kadang kita sendiri yang menjadi setan bagi diri kita.

Ada ulama yang membedakan yang dibelenggu hanya setan pembangkang (al-maradah), sementara setan rendahan masih lalu-lalang. Tapi apapun itu, Ramadan adalah momentum emas untuk melatih pengendalian diri bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi menahan syahwat dan amarah.

Api kemarahan dan periuk yang mendidih

Orang Arab punya istilah yang dalam untuk memahami emosi. Ketika seseorang marah, mereka bilang ghalā, mendidih. Seperti air yang dipanaskan hingga meluap.

Lawannya adalah al-hilm, ketenangan, lawan dari al-jahl (kebodohan emosional). Dalam tradisi mereka, al-halīm adalah orang yang tak mudah meluap, jiwanya teduh meski diterpa badai.

Penyair Jahiliyah, Hātim aṭ-Ṭā’ī yang masyhur dengan kedermawanannya pernah membanggakan kaumnya: “Periuk-periuk di perkemahan kami hitam legam karena tak pernah padam api di bawahnya. Wanita-wanita kami terus-menerus mengaduknya.”

Maksudnya? Kedermawanan yang tak pernah berhenti. Tapi ada pesan lain: periuk yang mendidih harus terus diaduk agar tak meluap. Demikian pula jiwa yang panas perlu dikelola, dididik, ditenangkan.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah al-halīm sejati. Jiwa beliau begitu seimbang, hampir tak pernah tercatat beliau marah untuk kepentingan pribadi.

Bandingkan dengan Umar bin Khattab sahabat yang dikenal tegas dan cepat panas. Umar mudah tersulut, tapi kehadiran Nabi selalu menenangkannya. Itulah fungsi teladan: ia menstabilkan, mengarahkan, mengingatkan.

Kisah Aisyah dengan seorang Yahudi yang lewat dan melontarkan ucapan kasar juga menarik. Aisyah marah, membalas dengan kata-kata. Tapi Nabi menegur, “Janganlah engkau mengutuk mereka.” Beliau tidak membenarkan perbuatan Yahudi itu, tapi beliau mengajarkan adab: kemarahan tak boleh melahirkan keburukan serupa.

Kisah Aus dan Khazraj

Di Madinah, pernah hampir terjadi pertumpahan darah antara suku Aus dan Khazraj dua suku yang baru saja dipersaudarakan oleh Islam. Seorang Yahudi tua, yang sakit hati melihat persatuan mereka, menyewa pemuda untuk membacakan syair-syair kebanggaan masa lalu. Syair tentang peperangan mereka di zaman jahiliyah.

Awalnya hanya sekadar bait-bait yang “membangkitkan kenangan”. Tapi syair punya kekuatan magis: ia menyentuh relung jiwa yang paling dalam. Maka mulailah mereka saling ejek, saling tantang, hingga akhirnya seruan perang bergema: “Keluarkan senjata kalian! Kita selesaikan di medan laga!”

Nabi yang mendengar kabar itu segera keluar. Beliau tidak mengirim utusan atau menunggu esok hari. Beliau datang langsung ke tengah-tengah mereka, dan bersabda dengan suara yang menggetarkan:

“Apakah kalian melakukan ini, sementara aku masih ada di tengah-tengah kalian?! Demi Allah, kalian hendak kembali ke masa jahiliyah, padahal aku telah mempersaudarakan kalian?!”

Seketika mereka tersadar. Mereka menangis, berpelukan, saling meminta maaf. Kehadiran Nabi secara fisik mengubah segalanya.

Dalam tradisi Maroko dan banyak negeri Muslim, ketika pertengkaran terjadi, orang akan berteriak, “Rasulullah! Rasulullah!” Mereka ingin menghadirkan nama dan ruh Nabi di tengah krisis. Bukan sekadar nostalgia, tapi upaya mengingatkan: ada teladan yang harus kita ikuti, ada akhlak yang harus kita jaga.

Ruh Nabi hadir di mana sunnah-Nya hidup

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Amal perbuatan umatku diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat kebaikan, aku memuji Allah. Jika aku melihat keburukan, aku memohon ampunan untuk mereka.”

Subhanallah. Beliau masih peduli pada umatnya, bahkan setelah wafat. Lalu, bagaimana mungkin kita melupakan beliau? Bagaimana mungkin kita sibuk saling serang, saling klaim kebenaran, sementara ruh Nabi hadir di mana pun ajarannya diajarkan?

Sayangnya, di banyak tempat, sunnah nyaris tak berbekas. Orang sibuk dengan jenggot, sorban, dan simbol-simbol lahiriah, tapi akhlak mulia yang merupakan inti risalah justru terlupakan.

Mereka lupa bahwa jenggot adalah sunnah, tapi al-khuluq al-‘azhīm (akhlak agung) adalah sunnah yang lebih utama. Mereka hafal ayat-ayat, tapi tak meresapi pesan di baliknya.

Bahkan di dunia maya, ulama atau yang mengaku ulama saling hujat. Seorang di Kuwait bicara, seratus di negara lain langsung bereaksi. Mereka lupa bahwa Nabi pernah bersabda, di akhir zaman nanti, orang-orang cerdas sekalipun akan bingung dan kacau. Dan inilah kita, hidup di zaman itu.

Di bulan Ramadan ini, mari kita rawat kembali cita-cita untuk menghidupkan sunnah. Bukan sekadar sunnah-sunnah kecil yang ritualistik, tapi sunnah agung yang transformatif: sabar, pemaaf, dermawan, dan penyayang.

Sebab, setan mengalir dalam darah, tapi iman pun bisa mengalir dalam amal. Dan siapa yang mengalahkan nafsunya di bulan ini, insyaallah ia akan menuai kemenangan di akhir nanti. (*) 

 

*Catatan: Artikel adalah hasil terjemahan dan penulisan ulang dari cermah-ceramah Syaikh Hamza Yusuf, Zaytuna College California. 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572340160/hamza-yusuf-setan-mengalir-dalam-pembuluh-darah-kita

Rekomendasi