Manakah Yang lebih Dahulu Eksistensi atau Esensi? Dari Muktazilah Hingga Hikmah Mutaaliyah Mulla Sadra

Retoria.id – Dari pengalaman sehari-hari, kita memang tak bisa menyangsikan realitas luar dan realitas dalam pikiran kita. Keduanya ada, keduanya dapat dijadikan subjek alias pokok kalimat berupa kata benda.

Semua yang ada dapat dijadikan pokok kalimat. Inilah yang disebut oleh Aristoteles sebagai substansi. Bagi Aristoteles, substansi atau dzat itulah yang mempunyai eksistensi.

Yang lainnya, yaitu kata kerja, kata sifat, dan lain sebagainya merupakan keterangan alias aksiden yang ditambahkan, atau sesuatu yang melekat pada substansi.

Pengetahuan kita tentang substansi itu termasuk aksiden. Tetapi pengetahuan kita tentang diri kita termasuk esensi, begitu juga pengetahuan Tuhan tentang diri-Nya. Begitu pula sifat–sifat Tuhan lainnya. Lalu, manakah yang lebih fundamental antara keduanya?

Pandangan Mu’tazilah

Bagi kaum Mu’tazilah, sebagian dari sifat-sifat Tuhan bersifat esensial, termasuk wujud, esa, ‘ilm, dan lain sebagainya.

Sekarang timbul pertanyaan: apakah sifat-sifat itu abadi atau tidak? Jawab yang umum tentulah: ya, sifat-sifat itu abadi. Nah, kalau sifat-sifat itu abadi, apakah sifat-sifat itu ada atau tidak? Tentu saja jawabnya: sifat-sifat itu ada.

Jika tidak ada, bagaimana pula sifat-sifat itu akan disebut dalam firman-firman-Nya? Di sinilah kaum Mu’tazilah berkeberatan. Kalau sifat-sifat itu ada dan abadi, maka dengan sendirinya Tuhan mempunyai sekutu alias syirik.

Tentu saja ini bertentangan dengan sifat Tuhan yang paling pokok, yaitu keesaan-Nya. Untuk menyelesaikan persoalan pelik ini, mereka mengatakan sifat-sifat itu tidak ada, yang ada hanyalah nama-nama yang diberikan oleh Tuhan untuk menjelaskan pada manusia.

Baca Juga: Novel 1984 George Orwell: Perang adalah Perdamaian, Kebebasan adalah Perbudakan, dan Ketidaktahuan adalah Kekuasaan

Metode penelitian kaum Mu’tazilah adalah penggunaan manthiq (logika) untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang suci. Dari penalaran seperti itu mereka hanya mengenal dua realitas: yang mutlak dan yang nisbi, dengan jurang tak terseberangi antara keduanya kecuali dengan iman yang rasional.

Pandangan Hikmatul Masya’iyyah (Peripatetik)

Kaum filosof Masya’iyyah, seperti Ibn Sina, punya pendapat lain, walaupun sama-sama menganggap tinggi logika Yunani. Tuhan itu ada dan sifat-sifat-Nya juga ada.

Hanya saja, keberadaan dzat Tuhan berbeda dengan keberadaan sifat-sifat Tuhan. Dzat atau substansi, keberadaan atau eksistensi Tuhan bersifat primer, sedangkan keberadaan sifat-sifat Tuhan, termasuk esensi-Nya, bersifat sekunder.

Tak terbayangkan yang kedua tanpa yang pertama; sebaliknya, tidak demikian. Jadi, eksistensi Ilahi mendahului esensi-Nya.

Dalam bahasa ilmu Kalam, dzat mendahului sifat. Dzat dan sifat sama-sama merupakan realitas yang nyata. Begitulah pandangan mazhab Peripatetisme Islam atau Hikmatul Masya’iyyah, yang ditegakkan para pendirinya dengan menggunakan nalar rasional terhadap konsep-konsep intelektual.

Berbeda dengan ontologi Kalam yang hanya memahami dua realitas, yang mutlak dan yang nisbi, para filosof mengakui adanya perjenjangan diskrit antara keduanya, seperti kaum Neoplatonis.

Pandangan Hikmatul Wahdatiyah

Akan tetapi, para ahli sufi aliran wujudiyah, misalnya Ibn Arabi, berlawanan dengan pandangan para filosof. Katanya, wujud itu hanya satu, yaitu Tuhan.

Benda-benda lain tak punya wujud, apalagi sifat-sifatnya. Sedangkan sifat-sifat Tuhan yang mereka sebut a’yan tsabitah (realitas-realitas tetap) itu adalah bentuk-bentuk dalam pengetahuan-Nya.

Sebenarnya, a’yan tsabitah itu juga dikenal oleh para pemikir lainnya di kalangan muslim dan non-muslim. Kaum mutakalimun menyebutnya ma’lumat (yang diketahui), dan kaum falasifah menyebutnya mahiyyat (quidditas, ke-apa-an atau esensi).

Aristoteles menyebutnya morphe (bentuk-bentuk), dan gurunya Plato menyebutnya eidos (ide-ide). Bagi Ibn Arabi, apa yang kita hadapi sebagai benda-benda fisik itu tak lain dari bayangan realitas-realitas tetap itu. Inilah pandangan irfan Wahdatul Wujud alias kesatuan realitas.

Dalam pandangan ini, wujud atau eksistensi mendahului mahiyyat atau esensi. Para arifin ini mencurigai penggunaan rasio atau aql, dan sebagai gantinya mereka menggunakan intuisi atau pengalaman batin mengenai realitas sebagai sumber utama pengetahuan.

Di samping pengalaman mistik mereka, mereka menyimpulkan adanya jenjang realitas dan kesadaran yang bersifat diskrit.

Pandangan Hikmatul Isyraqiyah

Seorang sufi lainnya dari Persia, Syihabuddin Suhrawardi, yang juga seorang kritikus tajam filsafat Ibn Sina, berusaha mengekspresikan pengalaman kesatuan mistiknya dalam pandangan yang sama sekali lain.

Katanya, wujud alias eksistensi hanya ada dalam pikiran manusia. Yang benar-benar ada hanyalah esensi-esensi itu, yang tak lain daripada bentuk-bentuk cahaya dari Maha Cahaya, yang tak lain daripada Tuhan.

Cahaya itu satu, dan benda-benda yang banyak lagi berbeda-beda itu hanyalah gradasi intensitasnya atau kebenderangannya.

Dalam pandangan metafisika cahaya Persia ini, wujud bersifat sekunder, dan sifat-sifat atau esensi bersifat primer. Dalam bahasa filosofis, ini berarti esensi lebih fundamental atau mendahului, secara logis, eksistensi.

Inilah pandangan filsafat iluminasionisme alias Hikmatul Isyraqiyah. Suhrawardi, pendiri mazhab Isyraqiyah, mengambil kesimpulannya melalui suatu penelitian filosofis yang menggabungkan metode intuitif mistikus dengan metode rasional filosofis sebagai pelengkapnya.

Pandangan Sintesa: Hikmatul Muta’aliyah

Pandangan Suhrawardi itu menjadi dominan di kalangan filsuf Persia di masa kejayaan Daulah Shafawiyah di Iran, yang kemudian dikenal sebagai mazhab Isfahan.

Begitulah Mulla Sadra diajarkan oleh gurunya, Mir Damad. Akan tetapi, ia juga sangat mengagumi pandangan Ibn Arabi yang menakjubkan itu. Oleh karena itu, ia membalik ajaran Isyraqiyah dengan mengambil pandangan Ibn Arabi tentang prioritas eksistensi atau wujud terhadap esensi atau mahiyyah, namun menolak pandangan Ibn Arabi tentang ketunggalan wujud.

Bagi Mulla Sadra, benda-benda sekitar kita di alam bukanlah tanpa eksistensi atau ilusi, melainkan juga ada sebagaimana adanya Tuhan. Sedangkan sifat-sifat atau esensi tidak mempunyai eksistensi sama sekali.

Esensi adalah kebalikan dari eksistensi. Jika Tuhan adalah Ada dan benda-benda juga ada, maka tak dapat secara logis dihindarkan kesimpulan bahwa segala benda adalah Tuhan atau panteisme, seperti yang dituduhkan secara salah oleh para ulama terhadap pandangan wahdatul wujud.

Solusi Mulla Sadra dalam hal ini adalah gagasan tasykik al-wujud atau gradasi wujud, yang mengatakan bahwa eksistensi alias wujud mempunyai gradasi yang kontinu seperti halnya cahaya yang diidentifikasi sebagai esensi oleh Suhrawardi.

Jadi, menurut Mulla Sadra, dari Ada Mutlak hingga Tiada terdapat gradasi “ada-ada nisbi” yang tak terhingga banyaknya. Dengan perkataan lain, realitas alam semesta merentang dari kutub Tiada ke kutub Ada Mutlak.

Inilah pandangan kesatuan realitas versi Mulla Sadra, yang disebutnya sebagai Hikmatul Muta’aliyah. Pandangan ini merupakan sintesa besar yang meliputi pandangan teologis kalam, pandangan filosofis hikmat, dan pandangan mistis irfan.

Secara sederhana pada aliran tradisional memiliki pokok-pokok pemikiran sebagai berikut: 

  1. Mu’tazilah: Sifat Tuhan hanyalah nama-nama; yang nyata hanyalah Tuhan. Logika jadi dasar pemahaman.
  2. Hikmat Masya’iyyah (Ibn Sina): Eksistensi Tuhan primer, esensi sifat-Nya sekunder. Rasio menjadi alat utama.
  3. Wujudiyah (Ibn Arabi): Wujud hanya satu, yaitu Tuhan. Esensi benda hanyalah bayangan dalam pengetahuan Tuhan. Intuisi dan pengalaman mistik jadi sumber utama.
  4. Hikmat Isyraqiyah (Suhrawardi): Esensi primer, wujud sekunder. Cahaya Tuhan sebagai sumber semua bentuk eksistensi.
  5. Hikmat Muta’aliyah (Mulla Sadra): Sintesis: eksistensi primer, tapi memiliki gradasi dari Tuhan hingga alam. Esensi hanya bentuk, bukan realitas nyata.

Intinya, Menurut Mulla Sadra, semua yang ada berada dalam spektrum wujud, dari Ada Mutlak (Tuhan) sampai ada nisbi (benda-benda) hingga Tiada. Esensi hanyalah konsep; wujudlah yang paling mendasar. Pandangan ini menyatukan pemikiran kalam, filsafat, dan mistisisme dalam satu kesatuan logis. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571581349/manakah-yang-lebih-dahulu-eksistensi-atau-esensi-dari-muktazilah-hingga-hikmah-mutaaliyah-mulla-sadra

Rekomendasi