Retoria.id – Sumbangan Tan Malaka pada bangsa Indonesia adalah visinya tentang masyarakat. Baginya, masyarakat Indonesia perlu merdeka seutuhnya, tidak terkecuali merdeka secara pikiran.
Itu artinya, pikiran masyarakat Indonesia harus beralih dari pikiran yang dikuasai oleh mistik menuju pikiran yang ilmiah. Pikiran mistik hanya dimiliki oleh pribadi-pribadi terjajah, sementara pikiran ilmiah dimiliki oleh orang-orang merdeka.
Visi ini disebutkannya dalam bukunya, Madilog, singkatan dari Materialisme Dialektika Logika. Saya mengenal buku ini sejak kuliah S1. Seperti biasa, masa kuliah adalah masa bergelora dan terpesona dengan buku-buku pendobrak. Buku-buku Tan Malaka adalah salah satu perbincangan sangat menarik saat itu.
Namun buku Madilog rupanya bukan tipe buku yang bagus dibaca lalu mudah dilupakan. Pesan-pesan yang ditanamkannya terasa abadi dan relevan hingga kini.
Baca Juga: Jejak Plagiarisme Tan Malaka di Balik Parlemen atau Soviet?
Seiring membaca tulisan orang lain tentang Tan Malaka, saya mendapati banyak hal yang disoroti dari tulisan-tulisannya. Setidaknya saya melihat dua fenomena menarik tentang pandangan orang-orang tentang Tan Malaka.
Tan Malaka dan Bahasa Indonesia
Saat membaca lagi buku Madilog beberapa tahun lalu, saya mengamati bahwa Tan Malaka berusaha menerjemahkan istilah-istilah ilmiah ke dalam bahasa Indonesia. Hasil terjemahannya jadi terasa ganjil, tapi Tan Malaka sudah berusaha.
Sebagian dari istilah-istilah itu saya catat, tapi saya tidak punya kesabaran ekstra sehingga gagal mencatatnya secara lengkap. Berikut adalah istilah-istilah yang berhasil saya catat.
Cells = biji-asli, Ilmu kimia = ilmu pisah, Force/energy = kodrat, Evolusi = undang pertumbuhan, Hukum kekekalan energi (law of conservation of force)= undang ketetapan jumlah benda, Atom = zat asli, Law of constant compotition = undang perpaduan yang konstan.
Upaya ini bisa dianggap sebagai sumbangan Tan Malaka pada bahasa ilmu pengetahuan. Upaya seperti ini tentu juga diupayakan oleh banyak orang. Setiap upaya adalah sumbangan yang bisa memperkaya bahasa Indonesia. Kita tentu tidak bisa melupakan upaya yang dilakukan oleh Tan Malaka.
Saya teringat sebuah twit di medsos X yang meminta siapapun menyebutkan terjemahan Indonesia yang bagus dan indah dari bahasa asing. Banyak yang membalas twit tersebut. Banyak dari balasan tersebut mengatakan bahwa Galaksi Bima Sakti adalah terjemahan sangat indah dari Milky Way Galaxy. Terjemahan ini tidak harfiah, tapi diterima oleh masyarakat dengan tanpa protes. Konon terjemahan ini disumbangkan oleh Soekarno. Pesawat Ulang-alik, sebagai terjemahan dari starship, adalah contoh lain dari terjemahan yang bagus dan indah.
Ahmad Sahidah, pada tahun 2016, menuliskan hasil amatannya terhadap kosakata yang digunakan Tan Malaka dalam Madilog. Menurutnya, Tan Malaka berupaya membuat kosakata ilmiah yang akrab di telinga orang Indonesia tanpa begitu saja menyerap kosakata asing. Meski pada akhirnya, upayanya ini tetap harus diseleksi sebab ada sebagian yang dirasa kurang pas.
Dibaca Kawan dan Lawan
Seruan Tan Malaka agar logika ilmiah menjadi penguasa alam pikiran masyarakat Indonesia diamini oleh kawan maupun lawan-lawannya. Artinya, seruannya tersebut dirasakan sebagai kebutuhan mendesak oleh berbagai kalangan.
Rasanya di sini tidak perlu disebutkan bagaimana kawan-kawannya sesama kaum kiri mengamini seruan Tan Malaka tersebut. Mereka yang berdiri dalam barisan sosialis dan Marxis adalah yang dimaksud sebagai kawan-kawan Tan Malaka.
Namun, di barisan sebaliknya, yaitu mereka yang berdiri dalam barisan non-sosialis, juga mengamini seruan tersebut. Ini, dalam pandangan saya, adalah fenomena yang menarik.
Sebut saja sebuah contoh: Malaka Project. Anak-anak muda yang menggagas program besar ini jelas-jelas terinspirasi dari Tan Malaka, tapi ide mereka tentang ekonomi dan politik tentu tidak sama dengan Tan Malaka, bahkan bisa dikatakan berseberangan. Ini benar-benar menarik. (*)