Perkawinan Agatha Christie dan Max Mallowan: Cinta Tak Perlu Minta Izin Kalender

Retoria.id – IA JANDA berusia 40, dan terkenal. Si pria berumur 26, dan tengah menggali pasir gurun Irak. Saat ia melamar, si perempuan langsung menolak. Tapi dua jam kemudian ia membalik pikiran. Dan dengan itu ia mengubah cara pandang dunia tentang cinta.

Di bulan Maret 1930, Agatha Christie mengunjungi Ur, kota kuno yang kini menjadi Baghdad, sebuah tonggak peradaban. Saat itu sudah menjadi salah satu penulis misteri paling mashur di dunia. Ia berdiri di antara reruntuhan Mesopotamia, mencoba menyusun kembali dirinya sendiri.

Empat tahun sebelumnya, suaminya meminta cerai. Skandal yang menyusul nyaris menghancurkannya. Ia menghilang selama 11 hari, ditemukan di sebuah hotel dengan nama samaran, dan mengaku mengalami amnesia.

Tabloid-tabloid Inggris segera berpesta pora. Hidupnya menjadi misteri yang ingin dipecahkan semua orang. (Sampai wafatnya ia tak pernah mengungkap apa yang terjadi selama masa sebelas hari itu).

Kini, pada usia 40, ia bepergian sendirian ke Baghdad, mencari penghiburan, sinar matahari, dan mungkin kedamaian di antara serakan artefak yang telah bertahan ribuan tahun lebih lama daripada pernikahan siapapun.

Di sanalah ia bertemu Max Mallowan.

Saat itu Ia berusia 26, asisten Leonard Woolley di penggalian tersebut, ditugaskan memberi tur kepada para tamu. Ia muda, menawan, penuh gairah pada pekerjaannya. Ia menunjukkan area penggalian kepada Agatha, menjelaskan pecahan tembikar dan gading kuno dengan antusiasme yang membuat peradaban 4.000 tahun itu hidup kembali.

Baca Juga: Cashless Only dan Nenek yang Tertinggal: Apakah Rupiah Sudah Tak Laku?

Mereka berbincang tentang arkeologi, sastra, sejarah. Agatha terpikat pada pekerjaannya. Max terpukau pada kecerdasan dan keluwesannya. Usia menjadi tak berarti ketika mereka berdiri dalam bayang-bayang ziggurat yang telah ada ribuan tahun sebelum keduanya lahir.

Ketika musim penggalian berakhir, Max mengunjungi Agatha dan puterinya, Rosalind, di Devon. Pada malam keduanya di rumah Agatha, saat berjalan-jalan di tengah hujan di padang Devon, ia melamar. “Agatha kontan menolak,”.

Mereka berdebat selama dua jam

Perbedaan usia membuatnya takut. Ia 40 tahun — dianggap setengah baya untuk standar 1930an. Max 26, baru memulai karier. Agatha seorang ibu yang terkenal dan telah bercerai. Max arkeolog muda, sedang berdiri di gerbang masa depan yang terbentang luas.

“Ini tidak akan berhasil,” kata Agatha. “Orang akan menggunjingkannya. Dan kau akan menyesal. Aku terlalu tua.”

Tapi Max bergeming. Ia tak peduli selisih 14 tahun itu. Ia tak peduli apa kata masyarakat — siapa mereka, dan apa pula hubungannya dengan urusan pribadinya? Yang ia tahu hanya satu hal: Agatha adalah perempuan brilian, kreatif, penuh jiwa petualang, dan menyimpan selera humor yang memikat.

Kakak Agatha, Madge, menentang keras rencana pernikahan itu. Puterinya, Rosalind, dan sekretarisnya, Carlo, mendukung. Keluarga besar berdebat. Masyarakat pasti menghakimi.

Namun, entah di titik mana dalam dua jam perdebatan di padang Devon itu, Agatha membuat keputusan yang kelak menentukan sisa hidupnya: ia memilih kebahagiaan ketimbang ketakutan.

Hanya enam bulan setelah perkenalan mereka, pada September 1930, Agatha Christie dan Max Mallowan menikah.

Dunia mengangkat alis sambil berbisik dan bergosip. “Ia terlalu tua.” “Ia terlalu muda.” “Perkawinan mereka tak akan lama.”

“Tak akan lama” itu ternyata 46 tahun.

Pernikahan mereka menjadi salah satu kemitraan paling hebat dalam sejarah sastra dan arkeologi. Setiap musim gugur dan musim semi, mereka bepergian ke Timur Tengah untuk penggalian.

Agatha menjadi fotografer resmi di tiap ekspedisi, dan mengembangkan foto sendiri di ruang gelap darurat. Ia menemukan bakat merestorasi tembikar—menyusun kembali pecahan berusia ribuan tahun dengan kesabaran tanpa batas.

Max kemudian menulis: “Imajinasi terkendali Agatha sangat membantu kami” dalam melestarikan artefak rapuh. Ia terkenal menggunakan krim wajah Innoxa untuk membersihkan gading kuno, sambil mengeluh, “krim wajahku jadi laris banget sampai tak tersisa untuk wajahku sendiri!”

Kemitraan mereka lebih dalam daripada sekadar arkeologi.

Saat terpisah oleh Perang Dunia II, mereka saling menulis surat setiap hari. Agatha berkata ia merindukannya dengan “semacam rasa mencengkeram seperti pembuka botol.” Max menulis ia merindukan Agatha dengan “semacam kekosongan, seperti rasa lapar.”

Max berbagi teori-teorinya. Agatha menguji ide-ide plot novel kepadanya. Mereka berdebat tentang teater, sastra, dan formasi geologi. Mereka setara secara intelektual, mitra kreatif, sahabat terbaik.

Dalam petualangan Timur Tengah inilah Agatha menulis beberapa karyanya yang terbesar: “Murder on the Orient Express” (1934), “Death on the Nile” (1937), “Appointment with Death” (1938), dan “Murder in Mesopotamia.”

Ia menggambarkan pernikahan mereka “seperti rel kereta api paralel—masing-masing membutuhkan yang lain di dekatnya, namun tak pernah bersinggungan.” Dua garis terpisah namun esensial, berjalan berdampingan ke arah tujuan yang sama.

Max menjadi salah satu arkeolog terkemuka di zamannya. Pada 1968, ia dianugerahi gelar kebangsaan atas kontribusinya pada arkeologi. Agatha mendapat gelar Dame Commander of the Order of the British Empire. Maka perkawinan Sir Max dan Dame Agatha menjadi monumen kemitraan yang dibangun atas sikap saling menghormati, hasrat yang sama, dan cinta yang tulus.

Dalam memoarnya, Max menulis: “Hanya sedikit lelaki yang tahu rasanya hidup selaras, berdampingan dengan pikiran imajinatif dan kreatif yang mengisi hidup dengan gairah.”

Agatha sendiri, dengan gaya guyonnya yang mashur, pernah berkata: “Saya pikir lelaki ideal bagi perempuan adalah arkeolog. Sebab, makin tua diri kita, makin tertarik dia pada kita.”

Ketika Agatha Christie wafat pada 12 Januari 1976 dalam usia 85, ia telah menjalani hidup yang penuh dan luar biasa. Ia menulis 66 novel detektif, 14 kumpulan cerita pendek, dan drama terlama di dunia — “The Mousetrap”, yang dipentaskan setiap malam di London sejak 1952, stop selama 14 bulan karena wabah Covid, lalu sejak Mei 2021 dipentaskan lagi sampai tadi malam.

Ia telah menjelajahi dunia, menemukan peradaban kuno, dan menciptakan tokoh-tokoh yang terus hidup jauh melampaui masa hidupnya.

Namun mungkin pencapaiannya yang terbesar lebih sederhana: ia memilih cinta ketika dunia mencegahnya. Ia mengambil risiko kebahagiaan ketika rasa takut tampak lebih aman.

Max Mallowan wafat dua tahun kemudian, pada 19 Agustus 1978, di usia 74. Mereka dimakamkan berdampingan di halaman gereja St. Mary di Cholsey, Oxfordshire—inisial A dan M terpahat membentuk ligatur anggun di batu nisan mereka.

Penulis-janda berusia 40 dan arkeolog 26 tahun itu membuktikan bahwa usia hanyalah angka ketika dua jiwa saling mengenali. Bahwa opini masyarakat jauh lebih sepele daripada keberanian pribadi. Bahwa kadang keputusan paling bijak bukanlah “menunggu dan melihat”—melainkan melangkah maju ke terra incognito, wilayah tak dikenal.

Mereka membuktikan bahwa cinta tak perlu minta izin dari kalender atau akta kelahiran. Cinta hanya bertanya: apakah kau berani menjawab ‘ya’ ketika semua orang berkata ‘tidak.’ (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572102516/perkawinan-agatha-christie-dan-max-mallowan-cinta-tak-perlu-minta-izin-kalender

Rekomendasi