Retoria.id – Baterai merupakan komponen paling penting sekaligus paling mahal pada mobil listrik. Tidak heran jika banyak calon maupun pemilik kendaraan listrik khawatir soal umur pakai baterai dan biaya penggantiannya di masa depan. Namun, kekhawatiran bahwa baterai mobil listrik akan cepat rusak dalam beberapa tahun ke depan, sebenarnya tidak sepenuhnya tepat.
Dengan memahami cara merawat baterai mobil listrik agar awet, kamu dapat memperlambat penurunan kapasitas baterai dan menjaga performanya tetap optimal dalam jangka panjang. Temukan informasi lengkapnya dengan membaca artikel ini!
Degradasi baterai adalah penurunan kemampuan baterai dalam menyimpan energi seiring waktu dan penggunaan. Sama seperti baterai pada ponsel atau laptop, baterai mobil listrik juga akan mengalami penurunan kapasitas secara alami.
Kondisi kesehatan baterai ini sendiri sering disebut sebagai battery health mobil listrik. Sementara itu, angka battery health menunjukkan seberapa besar kapasitas baterai yang masih tersisa dibandingkan kondisi saat masih baru.
Sebagai contoh, jika sebuah baterai memiliki battery health 90%, berarti kapasitas penyimpanan energinya masih sekitar 90% dari kapasitas awal. Lalu, kenapa kapasitas penyimpanannya bisa turun? Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia baterai, jumlah siklus pengisian daya, suhu lingkungan, serta pola penggunaan sehari-hari.
Kabar baiknya, teknologi baterai kendaraan listrik modern terus berkembang. Data dari berbagai studi yang dirangkum oleh International Energy Agency (IEA) dan penelitian industri menunjukkan bahwa banyak baterai mobil listrik hanya mengalami degradasi sekitar 1–3% per tahun dalam kondisi penggunaan normal.
Artinya, degradasi merupakan proses yang wajar terjadi pada peralatan yang menggunakan baterai sebagai sumber tenaga. Kondisi ini tidak otomatis berarti baterai harus segera diganti karena dalam banyak kasus, baterai masih dapat digunakan dengan baik bahkan setelah bertahun-tahun pemakaian.
Salah satu faktor yang paling sering dibahas dalam perawatan kendaraan listrik adalah pola pengisian daya. Banyak orang mengira mengisi baterai hingga 100% setiap hari merupakan pilihan terbaik.
Padahal, sebagian besar produsen kendaraan listrik justru menyarankan pola pengisian yang lebih moderat untuk penggunaan harian. Inilah alasan mengapa memahami batas persentase charging EV merupakan hal yang penting.
Secara umum, rentang pengisian antara 20% hingga 80% dianggap lebih ramah terhadap baterai lithium-ion. Rentang ini membantu mengurangi tekanan kimia di dalam sel baterai sehingga proses degradasi dapat berlangsung lebih lambat.
Meski demikian, bukan berarti baterai tidak boleh diisi hingga penuh. Pengisian sampai 100% tetap dapat dilakukan, terutama saat akan melakukan perjalanan jauh dan membutuhkan jarak tempuh maksimal.
Perbedaan kedua cara pengisian ini terletak pada frekuensinya. Untuk kebutuhan sehari-hari, lebih baik mempertahankan level baterai di rentang yang direkomendasikan dibanding selalu mengejar angka 100%. Sebagian produsen bahkan menyediakan fitur pengaturan batas pengisian otomatis untuk memudahkan pengguna dalam menerapkan kebiasaan pengisian ini.
Selain memperhatikan persentase pengisian, berikut beberapa kebiasaan yang sebaiknya dihindari atau tidak terlalu sering dilakukan:
Kebiasaan-kebiasaan di atas memang tidak langsung merusak baterai. Namun jika dilakukan terus-menerus selama bertahun-tahun, dampaknya dapat mempercepat proses degradasi.
Selain pola charging, suhu juga memiliki pengaruh besar terhadap umur baterai. Melansir dari Holo Battery, baterai lithium-ion dapat bekerja secara optimal pada rentang suhu tertentu. Apabila terpapar panas ekstrem dalam waktu lama, ini dapat mempercepat reaksi kimia yang berkontribusi terhadap degradasi baterai.
Karena itu, jika memungkinkan, parkirlah kendaraan di area yang teduh atau tertutup, terutama saat cuaca sedang sangat panas.
Mobil listrik modern sebenarnya sudah dilengkapi sistem manajemen termal yang berfungsi menjaga suhu baterai tetap stabil. Teknologi ini membantu mengurangi risiko kerusakan akibat perubahan suhu yang berlebihan.
Meski demikian, langkah sederhana seperti menggunakan carport, parkir di basement, atau memilih area yang tidak terkena sinar matahari langsung tetap dapat memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan baterai.
Selain itu, jika kendaraan tidak digunakan dalam waktu lama, usahakan baterai berada pada level menengah dan simpan kendaraan di lokasi dengan suhu yang relatif stabil.
Degradasi baterai merupakan bagian normal dari siklus hidup kendaraan listrik. Seiring waktu, kapasitas baterai memang akan berkurang, tetapi proses tersebut umumnya berlangsung secara bertahap dan tidak secepat yang sering dikhawatirkan.
Dengan memahami cara merawat baterai mobil listrik agar awet, mulai dari menerapkan batas persentase charging EV yang tepat hingga menjaga suhu baterai saat parkir, kamu bisa mempertahankan battery health mobil listrik dalam kondisi optimal.
Siti Zulaikha merupakan reporter Retoria.id sejak 2019 yang kini berdomisili di Yogyakarta. Mulai menekuni dunia kepenulisan terkait otomotif sejak 2009, ia pernah masuk ke beberapa portal berita otomotif terpopuler di Indonesia. Sebagai reporter Retoria.id, Siti Zulaikha berfokus membuat tulisan otomotif, termasuk mengulik isu-isu yang sedang viral dari berbagai sisi dengan gaya tulisan ringan dan informatif.