Retoria.id – Di dunia modern, salah satu musuh terbesar manusia bukanlah kemiskinan atau kekurangan informasi, melainkan “distraksi” gangguan perhatian yang terus-menerus menarik pikiran kita menjauh dari hal yang benar-benar penting.
Distraksi ini bukan sekadar masalah kecil. Ia telah menjadi ciri khas peradaban modern, sebuah kondisi di mana manusia tidak memiliki ketahanan untuk memusatkan perhatian pada satu hal dalam waktu yang cukup lama.
Klaim besarnya adalah ini adalah era di mana perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan oleh perusahaan teknologi, media, dan industri hiburan.
Namun sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami satu pertanyaan mendasar agar konsep dan gambaran kita sama tentang apa sebenarnya distraksi itu?
Jika manusia pertama Adam dan Hawa hidup dalam kondisi yang hampir mustahil mengalami distraksi. Di taman surga, segala sesuatu yang mereka lihat merupakan tanda-tanda kehadiran Tuhan. Tidak ada hiruk-pikuk dunia yang mengalihkan perhatian mereka dari keindahan spiritual.
Baca Juga: Hamza Yusuf: Orang-orang Mendambakan Untuk Jatuh Cinta
Berbeda dengan kondisi manusia modern. Dunia hari ini justru dipenuhi oleh berbagai bentuk gangguan: notifikasi ponsel, video pendek, hiburan tanpa henti, dan arus informasi yang tak pernah berhenti.
Secara tidak langsung, dunia modern dibangun di atas ekonomi distraksi. Banyak perusahaan besar memperoleh keuntungan dengan menciptakan konten yang membuat orang terus menatap layar, meskipun sering kali konten tersebut dangkal atau bahkan tidak bermakna.
Dalam tradisi Islam, kondisi ini memiliki istilah yang tepat yaitu ghaflah, (kelalaian) keadaan ketika manusia kehilangan kesadaran dan perhatian terhadap hal yang benar-benar penting dalam hidup.
Distraksi bukan hanya masalah produktivitas. Ia juga berkaitan dengan kualitas moral manusia. Banyak keputusan buruk terjadi boleh jadi bukan karena seseorang tidak tahu mana yang benar, melainkan karena ia tidak sepenuhnya hadir secara mental ketika membuat keputusan.
Dalam kondisi terdistraksi, manusia cenderung menutup suara hati dan membiarkan dorongan nafsu mengambil alih.
Untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, seseorang membutuhkan kejernihan pikiran dan perhatian penuh. Ketika perhatian itu terganggu, kemampuan moral manusia ikut melemah.
Distraksi juga mengurangi intensitas pengalaman hidup. Ketika perhatian kita terpecah, kita tidak benar-benar merasakan apa yang terjadi di sekitar kita baik keindahan, kebahagiaan, maupun makna kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan berikutnya adalah: apakah kita sendiri yang menciptakan distraksi, atau ada pihak lain yang secara aktif memproduksinya?
Realitasnya, banyak perusahaan besar memang berkompetisi untuk merebut perhatian manusia. Platform hiburan digital seperti Netflix, layanan streaming, hingga media sosial menawarkan dunia imajinasi yang dirancang untuk membuat orang terus terlibat.
Masalahnya bukan sekadar hiburan itu sendiri, melainkan ketika hiburan tersebut menggantikan ruang refleksi dan pemikiran mendalam.
Dengan kata lain, seseorang bisa menghabiskan berjam-jam dalam dunia digital tanpa pernah berhenti untuk memikirkan pertanyaan yang lebih besar tentang hidupnya.
Distraksi sangat mudah mempengaruhi anak-anak. Setiap guru atau orang tua mengetahui bahwa anak kecil dapat dengan mudah kehilangan fokus bahkan oleh hal sederhana seperti seekor kucing yang lewat di luar jendela bisa dipastikan semua murid dikelas akan melihat ke arah jendela.
Namun di masa lalu, kemampuan konsentrasi biasanya berkembang seiring bertambahnya usia. Anak-anak belajar secara bertahap untuk mengendalikan perhatian mereka.
Masalahnya, teknologi modern seringkali justru memperpanjang kondisi kekanak-kanakan ini. Platform seperti TikTok, Instagram, atau video pendek lainnya dirancang untuk memberikan rangsangan cepat yang membuat otak terus berpindah dari satu hal ke hal lain.
Sebagian peningkatan kasus gangguan perhatian pada anak memang berkaitan dengan faktor biologis. Namun banyak peneliti juga menyoroti paparan layar sejak usia sangat dini sebagai faktor yang signifikan.
Anak-anak yang masih belajar memahami dunia nyata sudah harus menghadapi rangsangan visual yang sangat cepat dari layar digital. Otak yang masih berkembang harus memproses terlalu banyak informasi sekaligus.
Kondisi ini dapat menciptakan overload kognitif, yang pada akhirnya mempengaruhi perkembangan kemampuan konsentrasi.
Alamiahnya, kemampuan konsentrasi manusia berkembang seiring waktu. Anak-anak cenderung mudah terdistraksi, sementara kemampuan fokus biasanya meningkat pada masa dewasa.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan perhatian mencapai puncaknya sekitar awal usia 40-an, ketika pengalaman hidup dan kematangan mental bertemu pada titik optimal.
Namun kemampuan ini bisa kembali menurun jika seseorang terus hidup dalam lingkungan yang penuh distraksi.
Ketika melihat sejarah intelektual Islam, kita menemukan contoh luar biasa tentang kekuatan konsentrasi manusia.
Para ulama klasik hidup di dunia tanpa ponsel, tanpa media sosial, dan tanpa arus informasi yang berlebihan. Banyak dari mereka memiliki kemampuan mengingat yang luar biasa.
Misalnya para ulama di Mauritania dapat mendengar sesuatu dalam sekali dan tidak pernah melupakannya. Salah satu contoh yang sering disebut adalah Ali ibn Abi Talib, yang dikenal sebagai tokoh dengan kecerdasan dan kefasihan luar biasa.
Dalam sejarah Islam juga terdapat ulama yang menulis ratusan buku dengan argumentasi kompleks, sering kali dalam puluhan jilid. Karya-karya tersebut ditulis tanpa komputer, tanpa perangkat digital, bahkan tanpa proses revisi yang berulang-ulang seperti penulis modern.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya konsentrasi manusia ketika tidak terganggu oleh distraksi modern.
Tradisi keagamaan sebenarnya telah lama menyediakan cara untuk melatih perhatian manusia.
Salah satu contohnya adalah shalat. Ketika seorang Muslim mengucapkan “Allahu Akbar” di awal salat, secara simbolis ia meletakkan seluruh urusan dunia di belakangnya. Beberapa menit berikutnya menjadi ruang untuk konsentrasi dan refleksi spiritual.
Hal yang sama juga terlihat dalam praktik puasa. Selain manfaat fisik, puasa membantu seseorang lebih sadar terhadap tubuh dan pikirannya. Tanpa konsumsi makanan atau minuman sepanjang hari, perhatian seseorang menjadi lebih terfokus.
Bahkan penelitian modern tentang intermittent fasting menunjukkan bahwa puasa dapat membantu proses regenerasi sel dan meningkatkan kejernihan mental.
Dalam konteks ini, bulan Ramadhan sebenarnya dapat dilihat sebagai latihan tahunan untuk mengembalikan perhatian manusia.
Puasa, ibadah, dan pengurangan distraksi duniawi memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memulihkan fokusnya. Idealnya, Ramadhan bukan menjadi bulan kemalasan, tetapi justru bulan peningkatan produktivitas spiritual dan intelektual.
Dunia modern sering meyakinkan manusia bahwa kebahagiaan terletak pada hiburan tanpa henti. Namun kenyataannya, semakin banyak distraksi justru sering membuat manusia semakin gelisah.
Solusinya mungkin jauh lebih sederhana daripada yang kita bayangkan: mematikan layar sejenak, melihat alam di sekitar, membaca kitab suci, atau sekadar menikmati keheningan.
Dalam tradisi spiritual, perhatian bukan hanya kemampuan mental, tetapi juga jalan menuju ketenangan hati.
Ketika manusia mampu kembali hadir sepenuhnya dalam hidupnya, ia tidak lagi terombang-ambing oleh distraksi dunia yang tak ada habisnya. (*)
*Catatan: Artikel terinspirasi dari ceramab-ceramah Syaikh Abdal Hakim Murad Cambridge University