Jam telah mengubah cara manusia memandang dunia lebih dalam daripada risalah filsafat mana pun

Retoria.id – Sebuah renungan dari ceramah Hamza Yusuf tentang jam, kota, dan kesadaran manusia yang perlahan berpindah arah.

Waktu sesuatu yang paling sering kita sebut, namun paling jarang kita pikirkan maknanya. Ia kita kejar, kita keluhkan, kita hemat, bahkan kita takuti. Namun hampir tak pernah kita tanyakan “Dari mana cara kita memahami waktu itu berasal?”

Barangkali, waktu hari ini bukan lagi hadir sebagai anugerah yang mengalir, tetapi ia sudah menjadi hasil produksi. Ia tidak lagi datang dari langit, tetapi dari mesin.

Ada seorang pemikir kota bernama Lewis Mumford. Ia penulis yang memperhatikan bagaimana teknologi melakukan pergeseran. Tentang desa yang ditinggalkan, tentang kota yang membesar, tentang manusia yang berpindah dari ladang ke pabrik, dari tanah ke beton.

Mumford mencatat segala sesuatu yang sering luput dari perhatian kita dua ratus tahun lalu, hanya segelintir manusia yang hidup di kota. Selebihnya tinggal di desa, hidup bersama, dan begitu akrab dengan musim, matahari, dan perubahan alam yang tak bisa dipercepat.

Baca Juga: Panduan Profetik dalam Menghadapi Penderitaan

Lalu teknologi datang. Kota tumbuh. Mesin bekerja. Manusia berpindah. Dan bersama perpindahan itu, satu hal yang barangkali jarang disadari adalah cara manusia memandang hidup pun ternyata berubah.

Mumford tidak berhenti pada bangunan, jalan, dan populasi. Ia menoleh pada sesuatu yang jauh lebih kecil, namun dampaknya jauh lebih besar yaitu “jam”.

Benda kecil yang tergantung di dinding atau melekat di pergelangan tangan itu, oleh Mumford, tidak dianggap netral. Jam, katanya, adalah mesin kekuasaan.

Produk jam bukan besi, bukan roda gigi, melainkan detik dan menit satuan kecil yang perlahan mengikat sekaligus mengubah bagaimana manusia hidup.

Baca Juga: Hamza Yusuf: Menjaga Martabat Diri adalah Sunnah Nabi

Di dunia lama, waktu tidak berdiri sendiri. Ia menyatu dengan peristiwa. Orang berkata, “setelah Ashar”, bukan pukul sekian lewat sekian. Waktu mengikuti cahaya, mengikuti bayangan, mengikuti langit. Matahari dan bulan menjadi penentu, bukan tabel dan kalender.

Tetapi jam datang membawa bahasa baru. Detik. Menit. Jadwal. Tenggat. Sejak itu, waktu dipisahkan dari pengalaman manusia. Ia berdiri sendiri, seolah objektif, seolah mutlak.

Padahal, di situlah perubahan paling senyap terjadi perlahan-lahan otoritas alam disingkirkan, digantikan oleh mekanisme. Manusia pun berubah. Dari penjaga waktu, menjadi penghemat waktu, lalu akhirnya pelayan waktu.

Mumford menyadari sesuatu yang menggetarkan dirinya, ketika hidup diatur oleh detik dan menit, manusia perlahan belajar kehilangan rasa hormat pada matahari, musim, dan bulan.

Bukan karena membencinya, tetapi karena tak lagi membutuhkannya. Tanda-tanda alam digantikan oleh tanda-tanda buatan.

Dulu, bulan ditunggu. Langit diperhatikan. Orang-orang menengadah bersama. Kini, kita membuka kalender. Kita percaya angka. Kita yakin pada sistem. Bukan karena itu salah, melainkan karena ia menandai pergeseran cara manusia membaca dunia.

Mumford bahkan sampai pada kesimpulan yang nyaris tak terpikirkan: detak jam yang tak pernah berhenti mungkin lebih berpengaruh dalam melemahkan kesadaran ketuhanan daripada seluruh risalah filsafat modern.

Bukan karena jam menolak Tuhan, tetapi karena ia mengajarkan manusia untuk berpaling dari ayat-ayat alam kepada ciptaan tangannya sendiri.

Jam mengajarkan kita berbincang dengan waktu, tetapi perlahan lupa berbincang dengan langit. Ia membuat kita sibuk, tetapi kehilangan hening. Ia membuat kita tepat waktu, tetapi sering kehilangan makna.

Maka persoalannya bukan lagi sekadar berapa waktu yang kita punya? Melainkan siapa yang mengajari kita memahami waktu seperti ini?

Barangkali kita tak bisa hidup tanpa jam. Namun kita masih bisa hidup dengan kesadaran. Bahwa sebelum detik dan menit, ada matahari yang terbit perlahan. Ada bulan yang muncul tanpa suara. Ada waktu yang tidak diproduksi, tetapi dihadirkan.

Dan mungkin, jika sesekali kita menengadah kembali, waktu akan berhenti menjadi tekanan lalu kembali menjadi pengingat.

Bahwa hidup bukan sekadar soal tepat waktu, tetapi tentang tepat makna.

Semoga renungan kecil ini menyadarkan bahwa Tuhan tidak hanya memberi kita waktu, tetapi juga tanda-tandanya. Kita tinggal memilih ingin membaca waktu sebagai angka, atau sebagai ayat.

Karena sebelum jam mengatur hidup manusia, alam telah lebih dulu mengajarkan cara memahami waktu. (*)

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572383122/jam-telah-mengubah-cara-manusia-memandang-dunia-lebih-dalam-daripada-risalah-filsafat-mana-pun

Rekomendasi