Zionis Langkah Demi Langkah Meniru Nazi: Apakah Netanyahu Juga Akan Meniru Bunuh Diri Hitler?

Retoria.id – Holocaust adalah pembantaian sistematis enam juta orang Yahudi oleh rezim Nazi Jerman dalam Perang Dunia II—dikenang dunia sebagai tragedi kelam umat manusia.

Padahal, jumlah populasi Yahudi dunia sebelum periode Holocaust dilaporkan sekitar 17 juta orang. Wajar bila klaim pembunuhan yang lebih dari sepertiga populasi itu diragukan banyak pihak.

Selain jumlah korban, soal metode pembunuhan juga banyak klaim yang jika diterima akan memunculkan bayangan sebuah kejahatan penuh di benak publik. Namun ketika diminta bukti, jawabannya adalah Nazi telah menghapus sebagian besar jejak kejahatannya.

Di Eropa soal jumlah korban ini, tidak boleh ada keraguan, bahkan di 16 negara Eropa—termasuk Jerman, Prancis, Italia, Belgia, Ceko, Swiss, Austria, Polandia, Hungaria, hingga wilayah pendudukan Israel penyangkalan Holocaust adalah tindak pidana yang bisa disanksi dan didenda.

Di Inggris pun, meski mengklaim dirinya sebagai negara pemenang dalam hal kebebasan berekspresi, pengadilan pernah menjatuhkan putusan terhadap seorang penyanyi, yang menyangkal dan mengecilkan Holocaust. 

Baca Juga: Inggris Siap Akui Negara Palestina: Keputusan Bersejarah dari Keir Starmer

Pada 21 Januari 2022 PBB atas usulan Jerman dan Israel, mengesahkan resolusi untuk menghadapi penyangkalan Holocaust. Dalam resolusi itu disebutkan bahwa mengecilkan jumlah korban secara mencolok termasuk bentuk penyangkalan.

Semua ini barangkali tidak cukup meyakinkan, tetapi hanya itulah justifikasi yang dipakai Israel dan pendukung Baratnya untuk menghindari pertanyaan tentang alasan mereka mengokupasi Palestina dan mengusir rakyatnya. 

Yang jelas-jelas bukan satu ras, bukan satu agama, dan bukan satu tanah air dengan Hitler. Bahkan kalaupun Holocaust benar, pertanyaannya: Mengapa rakyat tanah yang simbolnya zaitun dan damai harus menanggung bebannya, bukan mereka yang meneriakkan “Hai Hitler”?

PBB yang tampil empatik dan gagah mengeluarkan resolusi mengecam penyangkalan Holocaust, sampai hari ini tidak berbuat apa-apa terhadap pembantaian ribuan anak di Gaza.

Delapan dekade sejak Holocaust diklaim terjadi, kejahatan Israel terhadap anak-anak dan perempuan Palestina semakin bertambah, dengan bukti jauh lebih nyata daripada Holocaust.

Israel mengingat semua kisah Holocaust hanya untuk mempraktikkannya kembali setiap hari di Sabra, Shatila, dan Gaza.

Holocaust Ditulis, Gaza Dibaca

Salah satu cara belajar menulis puisi adalah mengganti kata dan rima dalam karya terkenal. Berikut potongan kisah Holocaust yang diulang-ulang di media Barat dengan gaya dramatis. Coba ganti kata Nazi dengan Zionis dan Yahudi dengan Palestina, maka kisahnya akan terdengar lebih dramatis.

Poster “Orang Yahudi Tidak Punya Tempat di Sini” menyebar di seluruh Jerman. Undang-undang Nuremberg melarang Yahudi ikut pemilu, juga melarang mereka keluar rumah pada malam hari.

Dalam Kristallnacht, rumah dan toko Yahudi diserang. Banyak pria Yahudi dibunuh atau dikirim ke kamp kerja paksa.

Hitler menuduh Yahudi menghasut negara lain melawan Jerman dan bersumpah akan memusnahkan mereka jika perang pecah. Di Polandia, Yahudi dipindahkan ke ghetto tanpa hak apa pun, banyak yang mati kelaparan.

Pada 1941, mereka dipaksa mengenakan bintang kuning Daud. Di tahun yang sama, unit SS bernama Einsatzgruppen membantai lebih dari satu juta Yahudi di Eropa Timur.

Tahun 1942, dalam Konferensi Wannsee di pinggiran Berlin, pimpinan Nazi memutuskan solusi final untuk persoalan Yahudi, yakni genosida sistematis.

Di Bawah Bom Kenyataan

Kisah pilu yang tadi Anda baca di atas, dijalani rakyat Palestina setiap hari. Antara 1948–1950, lebih dari 530 kota dan desa Palestina dihancurkan. Itu dilakukan agar pengungsi tidak bisa kembali ke rumah mereka.

Dalam 75 tahun terakhir, lebih dari 100 ribu Palestina gugur oleh tembakan langsung, dan satu juta orang ditangkap—angka riil, dengan bukti nyata di kamp-kamp pengungsi di Yordania, Suriah, dan Lebanon.

Klaim pembantaian enam juta Yahudi masih diperdebatkan, sementara bukti kejahatan Zionis justru melimpah.

April 1948, di Deir Yassin, militer Zionis menyiksa, memperkosa, memotong anggota tubuh, membelah perut ibu hamil, dan melempar 53 anak dari tembok.

Pada September 1982, di Sabra dan Shatila, selama tiga hari lebih dari 2000 hingga 5000 pengungsi Palestina dibantai oleh Zionis dan milisi Falangis. Kepala dipenggal, tubuh disalib, perut ibu hamil dicerai-beraikan.

Padahal sebelumnya ada jaminan internasional bahwa pengungsi akan dilindungi bila perlawanan diakhiri. Janji itu diingkari, sama seperti Muslim Bosnia yang diserahkan ke Serbia dan disembelih di Sarajevo, genosida terbesar Eropa setelah Perang Dunia II—namun tak pernah sebesar Holocaust sorotannya di media Barat.

Jejak darah masih tercium dari Salameh, Biyar ‘Adas, Tiberias, Haifa, Quds, Acre, Jaffa, Safed, Beisan, hingga Gaza. Jalur Gaza, wilayah kecil paling padat di dunia, sejak 2008 hingga 2023 telah menyaksikan ribuan syahid.

Siapa Teroris?

Setelah serangan mendadak Hamas, wartawan pro-Israel panik. Presenter Manoto TV berkabung dengan pakaian hitam, reporter CNN menyebarkan berita bohong tentang 40 anak dipenggal Hamas—tanpa satu bukti pun. Berita itu dibantah semua pihak kecuali Zionis, lalu dihapus dengan alasan “kurang teliti”.

Sementara itu, Ehud Barak tampil di media, menyebut Hamas teroris untuk membenarkan ribuan ton bom fosfor yang dijatuhkan ke warga Gaza.

Padahal, Hamas justru membebaskan tawanan ibu dan anak, menunjukkan rekaman perawatan anak-anak, dan tawanan Israel sendiri bersaksi tentang perlakuan manusiawi mereka.

Sebaliknya, sejarah Zionis penuh catatan teror: menyembelih anak, membedah perut ibu, hingga genosida berulang.

Mengurangi Holocaust Adalah Kejahatan, Mengurangi Gaza Tidak

Tidak ada resolusi PBB yang mengecam kejahatan Zionis, tidak ada larangan mengingkari.

Ehud Barak dengan percaya diri muncul di BBC, menyangkal fakta genosida, menyebut perlawanan Palestina sebagai “kekejaman terhadap kemanusiaan,” dan melegitimasi serangan ke wilayah dua juta penduduk.

Ditanya kenapa sekolah jadi target, ia menjawab Hamas bersembunyi di sana, sehingga “tidak ada pilihan” selain membunuh warga sipil.

Ia membenarkan 3000 kematian Palestina dengan kalimat: “Ketika menghadapi teroris yang bersembunyi di antara warga sipil, kerugian tak terhindarkan, warga sipil juga akan mati.”

Jika Gaza yang dibicarakan, kata-kata “sebagian” dan “tak terhindarkan” sah dipakai untuk mengecilkan arti tragedi. Tetapi jika Holocaust, sedikit saja meragukan angka enam juta dianggap kejahatan.

Berjalan di Jejak Hitler

Netanyahu menyalin mentah-mentah peta genosida Hitler, bahkan dalam strategi militer.

Hitler sempat sukses menduduki Eropa Barat, lalu dengan serakah meluncurkan Operasi Barbarossa untuk menaklukkan Uni Soviet dengan tiga juta pasukan dan 3500 tank. Ia hendak merebut Baltik, Leningrad, Moskow, Ukraina, dan Rusia selatan.

Operasi Typhoon ke Moskow dimulai 2 Oktober 1941, tentara Jerman sudah 90 mil dari ibukota. Namun hujan lebat, jalan berlumpur, dan perlawanan sengit Soviet membuat mereka gagal. Serangan balasan Uni Soviet menghentikan ofensif Nazi, yang menjadi awal kekalahan Jerman dan berakhirnya okupasi.

Kini, delapan dekade kemudian, Netanyahu seolah gila menapaki jalan yang sama—berambisi memusnahkan identitas Palestina lewat perang besar dengan Gaza.

Namun perang itu justru bisa membuka banyak front baru melawan Israel, sekaligus mengakhiri puluhan tahun okupasi penuh darah di tanah Palestina. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571629887/zionis-langkah-demi-langkah-meniru-nazi-apakah-netanyahu-juga-akan-meniru-bunuh-diri-hitler

Rekomendasi