Retoria.id – Ketika Turki, Qatar, Arab Saudi, bahkan Mesir berlomba menawarkan diri sebagai mediator perundingan nuklir Iran–Amerika Serikat, pilihan Teheran justru jatuh pada Oman.
Keputusan ini mengundang tanya. Oman bukan negara dengan pengaruh besar, bukan pemain utama kawasan, apalagi pusat sorotan geopolitik.
Namun justru di sanalah jawabannya. Iran tidak mencari mediator yang kuat. Iran mencari mediator yang dapat dipercaya.
Pilihan ini tidak lahir dari kebetulan, apalagi sekadar kalkulasi instan. Ia berakar pada memori geopolitik yang panjang.
Jauh sebelum JCPOA 2015 disepakati, kanal rahasia Iran–AS pada 2012–2013 telah berjalan sunyi di Muscat, tanpa kebocoran, tanpa politisasi dan tanpa panggung.
Dari jalur senyap itulah negosiasi besar mulai dirajut. Bagi Teheran, Oman bukan sekadar “penawar jasa mediasi”, melainkan mitra yang telah teruji kemampuannya menjaga rahasia.
Bandingkan dengan kandidat lain. Turki adalah kompetitor geopolitik Iran di Suriah, Kaukasus, dan Asia Tengah. Qatar terlalu lekat dengan keberadaan pangkalan militer AS di Al Udeid.
Arab Saudi merupakan rival strategis regional. Mesir berada dalam orbit kebijakan Teluk dan Washington. Masing-masing membawa agenda, kepentingan, dan ambisi yang ingin ikut duduk di meja perundingan, Oman tidak.
Baca Juga: Perundingan Iran–AS di Oman, Teheran dinilai Unggul Secara Diplomatik
Sejak Revolusi Iran 1979, ketika banyak negara Teluk memilih mengambil jarak bahkan bermusuhan dengan Teheran, Oman justru menempuh jalur berbeda: menjaga hubungan.
Tidak larut dalam retorika, tidak ikut blokade, tidak mengikuti arus permusuhan sektarian. Dalam politik internasional, konsistensi semacam ini jauh lebih mahal nilainya dibanding aliansi yang lahir secara oportunistik.
Keistimewaan Oman bukan terletak pada kekuatan militernya, melainkan pada gaya politiknya: quiet diplomacy atau iplomasi senyap tanpa kebocoran media.
Tanpa hasrat mencari pengakuan publik. Dalam isu sepeka hubungan Iran–AS, satu celah kecil saja cukup untuk menggagalkan seluruh proses. Iran memahami betul bahwa di Muscat, pembicaraan bisa berlangsung benar-benar sunyi.
Ada pula faktor yang kerap luput dari perhatian: geografi. Letak Oman menjadikannya aktor penting bagi Iran. Negara ini berada di sisi selatan Selat Hormuz, urat nadi energi dunia.
Jika perundingan gagal dan eskalasi meningkat, Oman adalah pihak pertama yang merasakan dampaknya. Stabilitas, bagi Muscat, bukan sekadar kepentingan politik, melainkan kebutuhan eksistensial.
Karena itu, Oman memiliki kepentingan nyata agar meja perundingan tetap hidup bahkan agar diplomasi Iran membuahkan hasil. Dalam konteks ini, akan sangat tidak rasional jika Oman menyimpan misi terselubung untuk mengkhianati Teheran.
Yang lebih langka lagi, Oman dipercaya oleh Washington dan Teheran sekaligus. Di kawasan yang dipenuhi kecurigaan, posisi semacam ini nyaris tidak dimiliki negara lain.
Pada akhirnya, pilihan Iran terhadap Oman menyampaikan pesan penting dalam diplomasi tingkat tinggi: yang dicari bukanlah panggung, melainkan kepercayaan.
Bukan mediator yang berisik, tetapi mediator yang tidak mengganggu. Bukan negara yang ingin memimpin proses, melainkan negara yang mampu menjaganya tetap tenang.
Dan di Timur Tengah hari ini, hanya Oman yang memenuhi seluruh syarat itu secara bersamaan. (*)
*Ismail Amin, Penulis asal Indonesia dan Alumnus Almustafa Internasional University Iran.
Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572272765/mengapa-iran-memilih-oman-bukan-yang-lainnya