Retoria.id – Apakah orang Indonesia benar-benar manusia paling bahagia sedunia? Jawabannya: bisa iya dan tidak tergantung siapa yang bertanya dan bagaimana pertanyaannya diajukan.
Jika merujuk Global Flourishing Study (GFS), jawabannya iya. Indonesia menempati peringkat pertama dari 22 negara pada laporan tahun 2025.
Namun, jika mengacu pada World Happiness Report (WHR) yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa, jawabannya berbalik: Indonesia berada di peringkat 83 dari 147 negara (laporan 2025).
Dua laporan global, dua kesimpulan yang tampak saling bertentangan. Di sinilah persoalannya bermula: bukan pada datanya, melainkan pada cara bertanyanya.
Baca Juga: Respons Negara atas Tragedi Kematian Anak Usia 10 Tahun di NTT
Perbedaan hasil antara GFS dan WHR tidak lahir dari kekeliruan metodologis, melainkan dari perbedaan paradigma pengukuran kebahagiaan.
Secara garis besar, GFS mengukur kesejahteraan manusia melalui persepsi batin subjek apa yang dirasakan seseorang tentang hidupnya.
Sementara WHR mengukur kebahagiaan melalui kepuasan terhadap kondisi objektif yang melingkupi kehidupan seseorang.
Singkatnya, GFS bertanya tentang dunia dalam, WHR bertanya tentang dunia luar. Perbedaan cara bertanya inilah yang menghasilkan jarak peringkat yang begitu jauh.
Pilihan istilah flourishing dalam GFS bukan kebetulan. Ia berakar pada perkembangan Psikologi Positif, khususnya pemikiran Corey L. M. Keyes melalui artikelnya The Mental Health Continuum: From Languishing to Flourishing in Life (2002).
Dalam kerangka ini, kesejahteraan mental tidak lagi dimaknai sekadar sebagai ketiadaan gangguan mental, melainkan sebagai spektrum dinamis dari kondisi “layu” hingga “berbunga”.
Manusia tidak hanya diukur dari apakah ia sakit atau sehat, melainkan sejauh mana ia merasa hidupnya bermakna dan utuh.
Gagasan ini kemudian dirumuskan lebih sistematis oleh Taylor J. VanderWeele (2017) melalui enam indikator human flourishing, yaitu:
Keenam indikator ini diukur melalui sejumlah pertanyaan dengan skala 0–10, di mana 0 berarti sama sekali tidak dirasakan, dan 10 berarti dirasakan sepenuhnya.
Kerangka VanderWeele inilah yang digunakan GFS dengan sedikit modifikasi dalam menyusun kuesionernya.
Hasilnya, Indonesia berada di posisi teratas. Tak heran jika temuan ini kemudian ditafsirkan secara populer sebagai bukti bahwa orang Indonesia adalah yang paling bahagia di dunia.
Tafsiran itu tidak sepenuhnya keliru, selama kata “bahagia” dipahami sebagai keadaan batin subjektif: bagaimana seseorang menilai hidupnya sendiri, terlepas dari kondisi objektif yang mengitarinya.
Namun, tafsir tersebut menjadi problematis jika disamakan dengan pengertian kebahagiaan dalam versi WHR.
Berbeda dengan GFS, World Happiness Report tidak menanyakan “apakah Anda bahagia?”, melainkan “sejauh mana Anda puas dengan kondisi kehidupan Anda?”.
Untuk itu, WHR menggunakan enam indikator kebahagiaan yang bersifat eksternal dan struktural, yaitu:
Dengan indikator-indikator tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-83 dari 147 negara pada laporan WHR 2025.
Apakah ini berarti masyarakat Indonesia tidak bahagia? Bisa iya, bisa juga tidak tergantung definisi kebahagiaan yang digunakan.
Jika kebahagiaan dimaknai sebagai kualitas kondisi hidup yang objektif, maka posisi Indonesia dalam WHR menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Membaca dua laporan ini secara bersamaan justru menghadirkan potret yang lebih jujur tentang Indonesia.
Pertama, masyarakat Indonesia memiliki daya tahan batin dan hubungan sosial yang kuat. Persepsi diri yang positif sebagaimana tercermin dalam GFS menunjukkan bahwa solidaritas sosial, peran tokoh masyarakat, pemuka agama, dan jejaring sipil bekerja cukup efektif.
Ungkapan “masyarakat jaga masyarakat” bukan sekadar slogan, melainkan praktik sosial yang nyata.
Kedua, kebijakan publik Indonesia masih menyisakan banyak persoalan. Posisi Indonesia dalam WHR mengindikasikan bahwa aspek-aspek struktural mulai dari ekonomi, layanan kesehatan, hingga persepsi terhadap integritas institusi belum sepenuhnya mampu menopang kesejahteraan warga.
Di titik inilah, respons emosional elite terhadap data GFS perlu dikoreksi secara proporsional. Presiden Prabowo Subianto wajar merasa tersentuh dan bangga melihat kekuatan batin masyarakat Indonesia.
Namun, sebagai pemegang kendali kebijakan publik tertinggi, ujian sesungguhnya justru ada pada data WHR.
Sebab di sanalah negara bukan masyarakat menjadi aktor utama. Dan di sanalah, kebahagiaan tak lagi soal perasaan, melainkan soal tanggung jawab. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572277912/orang-indonesia-paling-bahagia-sedunia-benarkah