Retoria.id – Dalam pidato perdananya di Great Lecture bertajuk “Transformasi Ekonomi Nasional: Pertumbuhan Inklusif Menuju 8 persen (11/9/2025), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengemukakan strategi pertumbuhan dengan mengaktifkan dua mesin ekonomi sekaligus negara dan swasta.
Ia menegaskan, ketika pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) swasta menjadi penggerak utama, Indonesia mampu mencapai pertumbuhan sekitar 6 persen.
Sementara pada era Joko Widodo, saat mesin negara bekerja dominan, pertumbuhan stabil di kisaran 5 persen. Dengan menggabungkan kedua mesin ini, Purbaya optimistis Indonesia bisa menembus angka 8 persen.
Optimisme ini memicu diskusi hangat di kalangan ekonom. Pertanyaan yang muncul apakah logika penjumlahan tersebut realistis, atau justru menyederhanakan kompleksitas pembangunan ekonomi nasional?
Baca Juga: Memahami Logika Pemikiran Menkeu Purbaya Dalam Menguatkan Ketahanan Ekonomi
Sejumlah pengamat menilai bahwa analogi “mesin ganda” berisiko jatuh pada apa yang disebut fallacy of composition.
Pertumbuhan 6 persen di masa SBY tidak hanya digerakkan oleh sektor swasta, melainkan juga ditopang oleh commodity super cycle, derasnya likuiditas global pasca-krisis 2008, serta bonus demografi yang masih utuh. Kondisi struktural itu berbeda dengan situasi saat ini.
Literatur pembangunan menegaskan adanya hukum diminishing returns to capital accumulation. Banyak negara yang membutuhkan puluhan tahun untuk keluar dari middle income trap.
Korea Selatan, misalnya, baru mampu bertransisi setelah sekitar 25 tahun konsisten membangun produktivitas total faktor produksi (total factor productivity). Indonesia sendiri sudah lebih dari dua dekade berada dalam posisi stagnan di kelas menengah.
Sejumlah ekonom besar Indonesia pada masa lalu dengan beragam kebijakannya dapat menjadi materi berharga bahwa pembangunan tidak bisa dipandang semata-mata sebagai penjumlahan instrumen.
Widjojo Nitisastro menekankan pentingnya peningkatan efisiensi total. Ali Wardhana menggarisbawahi disiplin fiskal sebagai prasyarat pengendalian inflasi. Sementara Mubyarto mengingatkan bahaya pertumbuhan tinggi yang timpang jika tidak disertai pemerataan.
Peringatan tersebut relevan untuk konteks saat ini. Tanpa koordinasi erat antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil, upaya mendorong pertumbuhan tinggi bisa berbalik menjadi sumber instabilitas.
Struktur Ekonomi yang Rapuh
Purbaya juga menekankan konsumsi domestik yang mencapai 90 persen dari PDB sebagai keunggulan Indonesia. Namun sejumlah ekonom melihat kondisi ini justru sebagai kelemahan struktural.
Negara maju umumnya memiliki porsi konsumsi yang lebih rendah karena investasi dan ekspor memainkan peran besar. Konsumsi tinggi bisa menandakan produktivitas rendah serta keterbatasan dalam membangun kapasitas tabungan dan investasi jangka panjang.
Pengalaman Jepang dan Korea Selatan menunjukkan bahwa pertumbuhan berkelanjutan hanya mungkin jika ditopang oleh fondasi struktural yang kuat.
Jepang pada 1960–1990 tumbuh dengan tabungan rumah tangga tinggi, investasi riset besar-besaran, serta pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan.
Korea Selatan tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga membangun kapasitas kelembagaan, pendidikan kelas dunia, diversifikasi industri, dan kebijakan transfer teknologi.
Indonesia, sebaliknya, masih menghadapi ketergantungan pada ekspor komoditas, produktivitas tenaga kerja yang rendah, dan sistem pendidikan yang belum terhubung erat dengan kebutuhan industri.
Jalan ke Depan
Dalam wawancara, Purbaya mengakui bahwa target 8 persen mungkin tidak tercapai dalam waktu dekat. Ia menargetkan percepatan menuju 6 persen terlebih dahulu dalam dua hingga tiga tahun ke depan, sebelum melangkah lebih jauh.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa di balik optimisme, terdapat kesadaran realistis mengenai tantangan yang ada.
Namun, para pengamat menegaskan bahwa target pertumbuhan tinggi harus diiringi dengan agenda transformasi struktural. Ada beberapa prioritas yang dapat menjadi pegangan:
1. Meningkatkan produktivitas total – memastikan setiap investasi dan tenaga kerja menghasilkan output yang lebih besar.
2. Membangun ketahanan ekonomi – menghadapi ketidakpastian global dengan memperkuat kapasitas domestik.
3. Investasi pada kualitas pertumbuhan – pendidikan, riset, teknologi, serta institusi yang kredibel.
4. Menghidupkan ekonomi kerakyatan berbasis teknologi – sebagaimana dipesankan Bung Hatta, koperasi dan UMKM harus menjadi soko guru perekonomian, kini melalui transformasi digital.
Pada akhirnya, Optimisme Purbaya layak diapresiasi, tetapi strategi mesin ganda tidak boleh dipahami sebagai formula instan.
Pertumbuhan 8 persen hanya bisa dicapai bila Indonesia berani melakukan transformasi menyeluruh: memperkuat fondasi struktural, membangun produktivitas, serta memastikan pertumbuhan inklusif.
Dengan demikian, tantangan utama bukan sekadar menyalakan dua mesin sekaligus, melainkan memastikan keduanya berjalan dalam harmoni, di jalan yang tepat, dengan fondasi yang kokoh. (*)