Retoria.id – Seperti yang lazim kita pelajari di Madrasah-madrasah sifat Qidam artinya adalah terdahulu, tapi tidak sekadar terdahulu dari adanya alam sebab yang demikian itu hanya menunjukkan bahwa Allah lebih tua saja.
Yang tepat adalah Allah terdahulu dari ketiadaannya, artinya Allah tidak pernah tiada dan selalu ada. Karena inti dari sifat Qidam sejatinya adalah untuk menunjukkan bahwa Allah tidaklah diciptakan “huwa al awwal wa al akhir”.
Kita semua sudah sepakat bahwa alam itu diciptakan oleh Allah SWT. Dan itu telah selesai di masalah hudust al alam. Sekaligus adanya alam menunjukkan adanya Allah tapi apakah kebaruan dan adanya alam itu telah menunjukkan bahwa Allah itu Qadim?
Dari sini kita mulai berpikir Allah itu Qadim atau hudust, atau Allah itu tidak diciptakan atau jangan-jangan pernah diciptakan? Dalam artian keduanya belum jelas ingin berkata Qadim tidak tau buktinya mau bilang baru tidak enak karena dari SD sudah didoktrin bahwa Allah itu Qadim misalnya.
Maka perlu adanya dalil atau sesuatu yang bisa menghilangkan kesamaran dengan memberikan penjelasan-penjelasan yang rasional agar iman kita semakin bersosok dan berotot.
Baca Juga: Efek Optimisme: Mengapa Kita Merasa Kebal dari Risiko Hidup?
Bagaiman cara membuktikan bahwa Allah itu qadim salah satunya adalah dengan qiyas syartiyyah munfasilah atau dengan mengemukakan dua opsi pilihan.
Jika Allah itu qadim maka Allah pasti tidak hudust begitu juga sebaliknya sebab tidak ada washitah atau opsi tengah-tengah dari keduanya sebagaimana bilangan genap dan ganjil.
Setelah itu mulailah mempertanyakan dan mencari hudustnya Allah benarkah Allah itu baru? Jika memang Allah itu baru maka berarti Allah diciptakan oleh sesuatu yang menciptakannya.
Anggap saja diciptakan oleh si A misalnya, karena A ini baru maka si A diciptakan oleh B, si B juga baru maka B diciptakan oleh C, si C juga baru maka C diciptakan oleh si D dan jika berhenti pada D dalam artian D tidak ada yang menciptakan maka D Qidam dan D itulah Allah SWT.
Tapi jika rangkaian di atas tidak berhenti dan tak terbatas maka itu adalah tasalsul (infinite regress) dan hukum dari tasalsul adalah mustahil
Lalu bagaimana cara menunjukkan bahwa tasalsul itu mustahil?
Maka jawabannya sederhana yakni “wujud al alam”. Adanya alam ini menunjukkan bahwa tasalsul itu tidak ada. Misalnya begini Ziad memiliki teman namanya reval dia mau pergi ke Yogyakarta tapi dia masih nunggu Zaid, si Zaid nunggu Solihin, Solihin nunggu si H si H nunggu si G si G nunggu si T si T nunggu si Z dan si Z nunggu orang sekampungnya dan begitu seterusnya tidak berhenti.
Pertanyaannya apakah ada yang jadi berangkat ke Yogyakarta? Maka jawabannya bisa dipastikan tidak akan ada yang berangkat karena nunggunya sesuatu yang tak terbatas.
Tetapi ternyata Solihin berangkat atau alam ini ada, maka bisa dipastikan tasalsul itu tidak ada dengan adanya alam atau berangkatnya solihin. Karena alam ini ada maka regresi itu wajib berakhir, yakni pada yang Niscaya Ada, yang ada tanpa penyebab, tanpa permulaan. Atau para filosof menyebutnya sebagai prima kausa.
Selanjutnya, masih di ranah tasalsul jika contoh di atas penalarannya ke atas dari alam lalu Allah, lalu si A lalu si B dan tak terbatas otomatis ke bawahnya juga tak terbatas dan seharusnya alam bisa menciptakan A lalu A bisa menciptakan B tapi faktanya alam ini terhenti.
Kita tidak bisa menciptakan sesuatu, jangankan menciptakan mengubah fungsi mata untuk melihat menjadi alat untuk mendengar saja tidak akan bisa.
Dan perlu diperhatikan bahwa yang saya maksud menciptakan di sini adalah “Al ijad minal Adam”. Dan saya kira para ilmuwan pun sepakat bahwa manusia memang tidak mampu menciptakan sesuatu.
Hal itu mereka tunjukkan dengan teori kekekalan energi. Jadi manusia tidak menciptakan dari tidak ada menjadi ada, namun manusia hanya mengubah dari sesuatu yang ada ke bentuk yang lain.
Misalnya energi panas ke energi listrik dst. Sampai di sini saya kira sudah cukup untuk menunjukkan kemustahilan tasalsul dan kemustahilan Allah baru dengan tasalsul karena jika Allah baru dengan tasalsul maka implikasinya akan menegasikan alam. Dan itu keliru sebab alam ini ada.
Tasalsul ini sebenarnya mirip belaka dengan yang diperagakan oleh Spongebob dan Patrick tepatnya pada suatu episode di film Spongebob Squarepants, yakni ketika Patrick bertanya kepada Spongebob:
“sampai kapan kau tidak keluar rumah Spongebob?” Lalu Spongebob menjawab: “Selama-lamanya Patrick.” Lalu Patrick masih menanyakan dengan kritis: “Selama-lama-lama-lamanya?” Dan Spongebob menjawab: “Ya, selama-lama-lama-lama-lama-lamanya.” Dan begitulah seterusnya.
Pembuktian yang kedua ad dhaur atau tautologi, sebagaimana ulasan di atas bahwasanya tasalsul itu adalah penciptaan yang tak terbatas.
Lalu bagaimana jika penciptaannya terbatas misalnya ada Allah yang menciptakan alam tapi alamlah yang menciptakan Allah.
Yang pertama Allah menciptakan alam, lalu alam menciptakan Allah (tautologi) maka jawabannya sama-sama mustahil, dalilnya “ijadul maujud muhallun” menciptakan sesuatu yang sudah ada itu tidak mungkin, dan penciptaan oleh sesuatu yang tidak ada itu juga salah.
Sementara tasalasul dan ad dhaur adalah syarat untuk Allah dapat dikatakan baru, sementara tasalasul dan ad dhaur keduanya mustahil. Maka mustahil pulalah kebaruan Allah dengan demikian Allah itu Qidam. Dan tidaklah diciptakan. (*)