Jika Bukan Karena Guru, Aku Tak Akan Mengenal Tuhanku

“Jika bukan karna pendidik (guru), maka aku tidak akan mengenal Tuhanku”

Retoria.id – Proposisi di atas adalah salah satu contoh uslub syarat dengan perangkat huruf imtina’ Li wujud (marfu’) maka aturan yg berlaku bagi uslub sperti ini wajib menghapus Khabar.

Dan proposisi awalnya adalah kurang lebih (dan bermacam-macam) “tanpa seorang guru (yg mengajarkanku tauhid) maka aku tidak akan mengenal tuhanku” tapi Khabarnya dibuang.

Khabar semacam ini kalau di balaghah hampir mirip dengan wajah tasybih (yg tidak disebut).

Kalau mamakai pendekatan ilmu Mantiq proposisi seperti di atas disebut sebagai Qadhiyyah syartiyyah muttasil salibah yang memiliki (talazum) antara anteseden dan konsekuen.

Baca Juga: Tsalsul dan Ad dhaur: Menguji Eternalitas Tuhan Benarkah Dia Tidak diciptakan?

Sedangkan kita semua tahu, guru itu banyak modelnya maka dalam hal ini Imam Al akhdari berpesan untuk mengutamakan dan memperjelas terlebih dahulu konsepsinya, guru yang seperti apa?

Guru yang mengajarkan apa? jika kita mau jujur banyak sekali guru-guru yang justru sebaliknya membawa muridnya menjauh dari Tuhan

Maka jika hanya memakai analisis mantiqi semata, kata-kata di atas sepintas tidak bisa dibenarkan saya pribadi sulit untuk menerimanya.

Maka yang lebih tepat kita menggunakan Qadhiyyah syartiyyah mumfasil saja “adakalanya tanpa seorang guru aku tidak akan mengenal Tuhanku”.

Tapi sebab adanya Nahwu dan sebab adanya (kaidah wajib menghapus Khobar) maka kata-kata diatas dapat diterima tanpa perlu memakai Qadhiyyah syartiyyah mumfasil.

Begitu kira-kira tapi tunggu dulu coba periksa sekali lagi apakah kata guru di situ menunjukkan kulliyah (universal) atau muhmalah (general)? Pertanyaan ini hanyalah sebuah isyarat bahwa kajian ini tidaklah berhenti di sini saja. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571587081/jika-bukan-karena-guru-aku-tak-akan-mengenal-tuhanku

Rekomendasi