Debat Klasik Seputar Keberadaan Tuhan: Dua Penafian Bukanlah Sebuah Tasybih

Retoria.id – Beberapa hari terakhir, beranda Facebook saya yang sudah lama tak dibuka lewat salah satu tulisan yang mengkritik tulisan Abdul Wahab Ahmad seorang Kyai cum intelektual yang dikenal sebagai orang yang mendalami teologi Asy’ariyah.

Saya tidak ingin menyebutkan nama akunnya, mari kita sebut A saja, yang jelas dia memberi kritik tegas dengan nada satir, dengan menulis bahwa Asy’ariyah menolak akidah Allah di atas langit, alasannya Allah tidak bertempat karena hanya makhluk yang bertempat.

Tapi ujung-ujungnya Allah disamakan dengan Alam lalu menunjukkan screenshot komentar Abdul Wahab Ahmad yang menyebutkan Alam tidak bertempat.

Unggahan A ini kemudian memicu diskusi kritis dan tantangan diskusi terbuka dari mahasiswa Masisir, soal konsep kunci perdebatan yaitu kontradiksi logika antara dua penafian dan tasybih.

Dalam pandangan mahasiswa B menegaskan prinsip klasik logika: kesamaan dalam negasi tidak berarti penyamaan. Konsep ini sebenarnya menyentuh inti teologi dan prinsip logika murni.

Argumen A: Dari Tasybih ke Tasybih

A menilai Asy’ariyah terjebak dalam kontradiksi.

  • Mereka menolak keyakinan Allah di atas langit dengan alasan “kalau begitu Allah bertempat, padahal yang bertempat hanyalah makhluk.”
  • Tetapi anehnya, mereka sendiri percaya bahwa alam semesta… tidak bertempat.
  • Dalam artian Allah sama dengan Alam

Bagi A, ini adalah tasybih baru. Dengan nada satir, ia menulis: “Kalau mau punya akidah selucu dan seabsurd itu, jadilah Asy’ariyah.”

Argumen B: Penafian Bukan Penyamaan

Balasan datang dari B. Ia menganggap kritik A salah kaprah karena menyamakan penafian dengan penyamaan.

  • “Kesamaan dalam penafian tidak bermakna menyamakan. Penafian levelnya jauh di bawah penetapan.”
  • Banyak hal yang sama-sama “tidak,” tapi tidak berarti sama dalam hakikat.
  • Maka, menafikan tempat dari Allah dan menafikan tempat dari alam tidak bisa disamakan.

Menurut B, A keliru mencampuradukkan antara logika negasi dan logika afirmasi.

Debat ini memperlihatkan dua logika yang saling menegasikan:

1. Logika A: Penafian tetap membawa konsekuensi perbandingan. Begitu Allah disejajarkan dengan makhluk dalam aspek “tidak bertempat,” maka tasybih terjadi, meski di level negasi.
2. Logika B: Penafian berbeda dengan penyamaan. Sama-sama “tidak” bukan berarti sama-sama “iya.” Seperti Kucing bukan Manusia, Batu Bukan Manusia apakah kesimpulannya Kucing sama dengan batu? 

Kedua pihak sama-sama tampil percaya diri, sama-sama mengutip logika, dan sama-sama merasa menang.

Dari perdebatan A vs B terlihat jelas bahwa argumen B lebih tepat secara logika. Kesamaan dalam penafian—menafikan Allah bertempat dan menafikan alam bertempat— tidak sama dengan menyamakan Allah dengan alam, sehingga ini bukan bentuk tasybih.

Analogi lain yang lebih sederhana:Jika pisang bukan manusia dan roti bukan manusia, kita tidak bisa menyimpulkan pisang sama dengan roti.

Atau yang lain, burung hantu bukan mobil dan kaktus bukan mobil, bukan berarti burung hantu sama dengan kaktus.

Prinsip ini konsisten dengan logika mana pun di Barat ia disebut “Negation does not imply equivalence”. Menafikan kesamaan dengan pihak ketiga tidak membuat dua hal itu otomatis sama.

Dalam konteks akidah Asy’ariyah, prinsip ini menegaskan bahwa Allah maha berbeda dari makhluk-Nya (tanzih). Menafikan predikat “bertempat” dari Allah bukan berarti Allah disamakan dengan alam; sebaliknya, ini justru menegaskan transendensi-Nya. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571590849/debat-klasik-seputar-keberadaan-tuhan-dua-penafian-bukanlah-sebuah-tasybih

Rekomendasi