Retoria.id – Sejak dulu saya tipe orang yang lebih suka dan merasa lega dengan menyimpan uang sendiri saja di halaman buku. Motif buat rekening saja disebabkan alasan administratif untuk syarat tertentu. Ada rasa aman ketika kertas itu sudah berada di genggaman, meski hanya selembar, meski cepat juga habisnya.
Ironisnya, justru dengan cara itu saya tidak boros. Uang yang ada tak bisa digesek sembarangan, tak bisa ditransfer tergesa. Transaksi jadi landai, tidak sat set seperti jari yang tergoda tombol-tombol di layar ponsel. Tapi kadang ada keadaan juga menggoda. Ketika Kedai kopi di pinggiran kota, semuanya memakai QR code seakan uang kertas sedikit inferior di bawahnya.
Dunia makin cashless. Sedang saya, memilih menyentuh lembaran fisik, bukan angka-angka di layar. Mungkin karena percaya, angka bisa lenyap tiba-tiba. Tapi sekarang, rekening kita juga bisa dibekukan kalau tak ada transaksi selama tiga bulan. Peraturan baru.
Baca Juga: Refleksi Kritis: Robohnya Bangunan Pesantren Al-Khaziny dan Kasus Sahara dengan Yai Mim
Niatnya baik, katanya. Demi keamanan. Demi mempersempit gerak kejahatan finansial: pencucian uang, judi online, mafia gelap yang bersembunyi di balik digit. Tetapi, banyak orang biasa justru jadi korban. Uang mereka mengendap di tabungan, mendadak tak bisa disentuh. Dingin, beku, tak bergerak.
Saya lalu teringat ayat itu: “Rahasiakanlah perkataanmu, atau nyatakanlah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui isi hati.”
Kalau Tuhan tahu isi hati, apakah Dia juga tahu isi ATM?
Pertanyaan ini mungkin terdengar jenaka, seperti gurauan anak-anak di warung kopi.
Tapi di balik jenaka, ada semacam resah. Sebab kita hidup di dunia di mana rahasia tak lagi hanya soal batin, melainkan juga saldo, mutasi, dan catatan transaksi.
Di sinilah saya teringat perdebatan panjang antara al-Ghazali dan Ibn Sina. Tentang pengetahuan Tuhan. Al-Ghazali menolak keras gagasan para filsuf: bahwa Tuhan hanya mengetahui yang universal, bukan yang partikular.
Bagi al-Ghazali, itu penghinaan pada kemahakuasaan. Tuhan, katanya, tentu tahu daun yang gugur, rambut yang rontok, isi hati yang bergetar, bahkan angka terakhir di saldo tabungan seseorang.
Tapi Ibn Sina, dengan logika yang tajam, menawarkan penjelasan lain. Kita bisa jumpai argumentasinya dalam al-Najat. Tuhan, katanya, mengetahui hal partikular dari segi universalitasnya.
Ia tahu gerhana, bukan karena menatap langsung cahaya yang redup, tapi karena mengetahui seluruh hukum pergerakan langit yang melatarinya. Maka, Tuhan tahu detail bukan karena Ia menghitung satu per satu, melainkan karena Ia adalah Prinsip dari segala hukum yang melahirkan detail itu.
Jika begitu, mungkin Tuhan tak melihat angka di layar ATM saya sebagaimana PPATK atau kasir bank bisa melakukannya. Ia melihat sebab-sebabnya, alurnya, arus besar yang membuat saldo itu bertambah dan berkurang.
Ia tahu detik ketika gaji masuk, juga alasan mengapa segera saya tarik tunai. Ia tahu keresahan saya pada angka-angka digital yang bisa dibekukan sewaktu-waktu.
Mungkin, pengetahuan Tuhan bukan seperti kamera CCTV yang merekam setiap menit, melainkan seperti pengetahuan seorang ahli astronomi: ia tahu kapan gerhana akan terjadi, tanpa harus menatap langsung langit setiap malam. Ia tahu karena ia paham hukum gerakannya. Begitulah, kata Ibn Sina, cara Tuhan tahu hal-hal yang partikular.
Tapi manusia, seperti saya, ingin Tuhan hadir lebih dekat. Ingin percaya bahwa Tuhan benar-benar tahu isi hati, juga isi dompet. Ada semacam penghiburan di situ. Bahwa di tengah saldo yang habis, Tuhan tahu keresahan saya. Bahwa di antara antrian ATM yang menolak kartu saya karena “saldo tidak cukup”, Tuhan tahu rasa malu itu.
Atau barangkali kita justru ingin Tuhan tidak tahu. Sebab, kalau Ia tahu isi hati, berarti Ia tahu juga betapa seringnya kita menghitung-hitung uang dengan serakah. Betapa hati bisa kecut ketika melihat mutasi berkurang lebih cepat dari perkiraan. Betapa kecilnya iman ketika rekening terasa lebih menenteramkan daripada doa.
Pertanyaan tentang Tuhan dan ATM ini, tentu saja, bukan soal teologi semata. Ini soal bagaimana manusia modern memandang rahasia. Apa yang masih bisa disebut rahasia, ketika bank, negara, bahkan aplikasi pinjol tahu lebih banyak tentang kita daripada orang tua sendiri? Nomor KTP, alamat rumah, transaksi digital, semua terekam.
Kalau begitu, apa masih ada ruang yang hanya diketahui Tuhan? Hati, kata al-Qur’an. Tapi hati pun kini menjadi data. Psikolog bisa menguji kecenderunganmu lewat kuesioner. Algoritma bisa memprediksi suasana hatimu dari riwayat pencarian. Lalu, di manakah Tuhan ditempatkan?
Barangkali, di tengah dunia yang semakin transparan dan terpantau, kita justru rindu ada sesuatu yang tetap tak bisa diketahui siapa pun, selain Dia. Rindu ada ruang sunyi, yang hanya bisa disentuh oleh pengetahuan yang tak bisa dibekukan seperti rekening.
Dan pada akhirnya, pertanyaan itu kembali mengendap: kalau Tuhan tahu isi hati, apakah Ia juga tahu isi ATM-ku?
Mungkin jawabannya tak pernah tunggal. Sebab Tuhan bisa dilihat sebagai Pengetahuan Absolut yang mencakup semua, atau sebagai Misteri yang tak perlu kita tafsirkan dengan angka-angka. Mungkin, pertanyaan itu bukan untuk dijawab, melainkan untuk ditinggalkan, sebagai gema yang membuat kita terus merenung.
Maka, saya biarkan pertanyaan itu tetap terbuka: jika saldo di ATM bisa beku, apakah doa-doa kita juga bisa tersangkut di ruang tunggu yang sama? Atau justru, doa-doa itu mengalir ke dalam catatan yang tak pernah dibekukan, catatan yang hanya bisa dibaca oleh Yang Maha Mengetahui? (*)
Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571689087/kalau-tuhan-tahu-isi-hati-apa-dia-juga-tahu-isi-atm-ku