Logika Ngibul Guru Gembul: Mengatakan Takdir Adalah Melecehkan Tuhan

Retoria.id – Argumentasi retoris sejak dulu hampir selalu berhasil mengambil hati pembaca, memompa dengan cepat sisi terdalam dari dimensi emosional pendengarnya. Setiap baris kalimatnya terasa lebih basah dari air, terkadang, ia terasa lebih panas dari pada api.

Sayangnya, tidak setiap kalimat yang berapi-api sama dengan benar, dan tidak semua kalimat yang berhasil membuat mata basah itu sama dengan rasional. Kalimat emosional justru seringkali mengacaukan dan mengaburkan rasionalitas pembaca atau pendengar.

Begitulah yang saya jumpai dalam video unggahan Guru Gembul di channel Youtubenya saat mengkuliti Kyai, Pesantren dan Santri, kalimatnya meledak-ledak penuh percaya diri. Setiap kata terdengar seperti peluru yang ditembakkan pada citra pesantren. Seolah-olah dialah sang pencerah akhir zaman yang paling modern dan sahih. Sementara pesantren tempat primitif yang penuh dengan kesan fanatik, kumuh, tak tahu berhitung, kimia dan tak berkemajuan.

Saya ingin kutipkan kalimat Guru Gembul yang sudah mendapat 17 ribu like dan 10 ribu komentar itu sekaligus yang akan menjadi inti tulisan ini, redaksinya begini:

“Di Pesantren tergantung pada gurunya, bahkan ketika gurunya misalkan melakukan pelecehan pada Tuhan, ada bangunan runtuh gara-gara kesalahan mereka sendiri kemudian yang disalahkan Tuhan, ini takdir Tuhan! dia melakukan pelecehan pada Tuhan tetapi dia akan dibela habis-habisan sama para santrinya. Nggak papa Tuhannya dilecehkan, nggak papa Tuhannya disalahkan.” Tuturnya dengan berapi-api dan Jumawa.

Kebesaran dirinya nampaknya telah membuatnya kesulitan untuk sekadar melihat kesalahan dirinya sendiri. Dia membuat karikatur argumen tentang pesantren, kyai dan santri untuk kemudian dia patahkan dan hancurkan sendiri, ini terlihat gagah memang tapi palsu dan pecundang istilahnya Straw Man Fallacy.

Baca Juga: Straw Man: Manipulasi Wacana dan Pengaburan Fokus Perdebatan

Namun fokus tulisan ini bukan untuk itu, lihatlah bagaimana cara berpikir Guru Gembul dia menyebut Seorang Kyai yang mengatakan musibah sebagai Takdir Tuhan sama dengan atau ekuivalen atau musyawiyan dengan melecehkan Tuhan atau menyalahkan Tuhan.

Kalimatnya nampak seperti membela Tuhan tapi justru terlihat bak pahlawan kesiangan dan kekurangan literatur nanti kita buktikan. Sebab yang terjadi pak gembul justru mengacaukan Tuhan. Dari mana sebenarnya pak Guru yang begitu besar memperoleh premis bahwa menyebut musibah sebagai pelecehan terhadap Tuhan?

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun : 11)

Katakanlah: ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal’” (At-Taubah : 51)

Padahal dalam video di channel youtubenya yang berdurasi cukup panjang pak gembul berlagak seolah Guru yang paling mengerti Tuhan, itu terlihat dari nada bicaranya “padahal Tuhan tidak pernah begitu” “padahal nabi tidak pernah begitu” rasa-rasanya VO trans7 perlu berguru dengan pak gembul ini agar terdengar lebih menyebalkan.

“Rasulullah SAW berkata, iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.” (HR. Muslim)

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’”

Di sini, Ayyub secara eksplisit menyandarkan musibah (penyakit) kepada Allah: “Aku telah ditimpa (anni massaniyadh-dhurr).” Namun, bukan dalam arti menuduh Allah kejam, melainkan dalam bentuk pengakuan total akan kekuasaan-Nya.

Artinya ketika seorang kyai menyebut musibah sebagai Takdir Tuhan, itu tidak lain adalah manifestasi keimanan kepada Allah, bahwa sebaik apapun dirinya, sekeras apapun usahanya dan sekuat apapun materialnya di hadapan takdir Tuhan dia hanyalah hamba yang papa ia menyadari keterbatasan dirinya itu, dan menyadari kebesaran Tuhan. La hawla wala kuwwata illa billah.

Bagaimana mungkin sosok yang begitu intim dengan Tuhan, menghadirkan kekuasaan Tuhan dalam kehidupannya dituduh melecehkan dan menyalahkan Tuhan? Nampaknya bocah MI lebih akrab dengan rukun iman yang ke 6 dari pada pak gembul.

Apakah Guru Gembul membela Tuhan?

Cara bernalar model pak gembul ini sejatinya sudah ada sejak dulu. Membela Allah dari segala perbuatan buruk dalam wacana teologis konsep ini disebut dengan istilah ash-shalah wa al-ashlah merujuk pada pemahaman aliran Mu‘tazilah.

Mereka meyakini dan mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhan wajib menciptakan sesuatu yang baik atau yang terbaik. Dengan kata lain, Tuhan tidak boleh menciptakan keburukan dalam bentuk apapun.

Saya menduga pak gembul terkena sedikit pantulan konsep muktazilah ini, sehingga lahirlah kemudian premis yang sesat bahwa mengembalikan takdir buruk kepada Tuhan adalah melecehkan Tuhan. Karena Tuhan harus selalu menciptakan kebaikan saja.

Menurut mereka (muktazilah), keadilan berarti Allah tidak mungkin menciptakan keburukan atau kejahatan sebab jika Allah menciptakan kejahatan, berarti Allah tidak adil. Dari situ lahirlah doktrin bahwa: “Allah wajib melakukan yang terbaik bagi makhluk-Nya”

Artinya, segala penderitaan, musibah, atau kejahatan tidak mungkin berasal dari Allah, karena bertentangan dengan “keharusan moral” yang mereka sematkan pada Tuhan.

Madzhab Ahlus Sunnah (Asy‘ariyah dan Maturidiyah) telah membuktikan kerancuan dan kebuntuan konsep ini secara rasional dan logis, karena jika Tuhan wajib berbuat sesuatu, berarti ada “otoritas di atas Tuhan” yang memaksanya. Padahal prinsip Tauhid “Lā ḥukma fauqa ḥukmillāh” Artinya: tidak ada hukum di atas hukum Allah.

Jadi, kebaikan dan keburukan tidak diukur dengan standar moral manusia, melainkan didefinisikan oleh kehendak dan hikmah Allah sendiri. Maka, Allah tidak “wajib” berbuat baik, tetapi segala yang dilakukan-Nya pasti baik, karena sumber nilai baik itu sendiri berasal dari-Nya.

Kalau pak gembul maksa konsisten dengan premis Mu‘tazilah, maka akan muncul beberapa akibat fatal di antaranya yang pertama dalam aspek ontologis dunia ini seolah punya dua sumber Allah untuk kebaikan, manusia untuk keburukan. Ini mendekati dualisme Zoroastrian, bukan monoteisme Islam.

Kedua masalah epistemologi bahwa ukuran “baik” jadi berpindah atau bergeser otoritasnya dari Tuhan ke manusia. Maka manusia menilai Tuhan berdasarkan perasaan moralnya sendiri. Sebagaimana pak gembul seenak jidat menilai pesantren dengan hasratnya sendiri.

Yang ketiga aspek teologis, Tuhan menjadi “terikat moral”, bukan “sumber moral”. Maka setiap musibah atau tragedi tidak boleh disebut takdir Allah sebab “Tuhan tidak mungkin menimpakan keburukan.”

Dan di sinilah persis posisi Gembul berdiri tanpa sadar ia sedang mengulang argumen Mu‘tazilah versi populer, tanpa menyadari implikasi logisnya. Jadi, sampai di sini siapa yang sebenarnya yang sedang melecehkan dan membela Tuhan? Tentu tidak mungkin jika setiap saat harus mengundang Muhammad Nuruddin untuk membuat pak gembul sadar bukan? (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571700169/logika-ngibul-guru-gembul-mengatakan-takdir-adalah-melecehkan-tuhan

Rekomendasi