Retoria.id – Selalu saja ada penumpang gelap di tengah keriuhan media sosial. Setiap kali sebuah video santri berjalan membungkuk di depan kiainya muncul di linimasa, serentak komentar pun bermunculan. Katanya, itu perilaku feodal. Simbol tunduk pada kekuasaan.
Lalu datanglah “pencerah baru” yang mengunggah tutorial bagaimana cara bersalaman yang “setara”: guru berdiri tegap, murid berdiri tegap, tangan saling menggenggam tanpa ada yang membungkuk. Katanya, beginilah seharusnya relasi guru dan murid modern: egaliter, beradab, tanpa simbol penindasan.
Tapi ada yang ganjil dalam gagasan kesetaraan itu. Dalam potongan video lain, tampak murid-murid duduk bersila di lantai, sementara sang guru duduk di kursi empuk, ada makanan bergizi, ada minuman menyegarkan, dan berbicara dengan nada penuh wibawa.
Kesetaraan? Entahlah. Kadang yang tampak tegak justru menyembunyikan kepongahan lain. Feodalisme, kata para teoritikus sosial, adalah sistem yang diciptakan. Ada yang mengkondisikan. Ada struktur. Ada paksaan yang mengekalkan relasi kuasa.
Tapi apakah setiap bentuk ketundukan otomatis berarti perbudakan? Tak jarang, kepatuhan lahir bukan dari takut. Tapi ia lahir dari pengakuan akan keutamaan yang lebih tinggi. Barangkali begitu pula dengan santri dan kiainya. Dalam dunia pesantren, membungkuk bukan simbol kuasa, melainkan simbol rasa.
Rasa hormat, rasa cinta, rasa ingin dekat pada sumber ilmu. Seperti bunga yang condong ke arah matahari bukan karena diperintah, tapi karena mencari cahaya. Santri membungkuk bukan karena ia budak, tapi karena ia mencintai. Ia ingin menundukkan ego, merendahkan diri di hadapan orang yang telah membuka pintu pengetahuan.
Dalam dunia yang sibuk mengajarkan “setara”, kita lupa bahwa cinta memang tidak mengenal logika kesetaraan. Cinta, katanya, adalah kekuasaan yang tak menindas, melainkan sebentuk penyerahan.
Lagipula, santri yang membungkuk di hadapan kiainya tidak akan melakukan hal yang sama di hadapan pejabat negara. Tak ada ritual menunduk di depan kekuasaan duniawi. Tak ada cium tangan untuk menteri, bupati, atau presiden.
Karena yang dihormati bukan pangkat, melainkan ilmu. Di situ letak bedanya: membungkuk kepada pengetahuan tidak sama dengan tunduk pada kekuasaan.
Namun, dunia digital suka sekali meratakan segalanya. Dalam layar datar, semua sikap tampak sama. Setiap gestur dianggap pernyataan politik. Maka, tunduk dibaca sebagai feodal, hormat dibaca sebagai inferior, cinta dibaca sebagai ketakutan.
Kita menjadi masyarakat yang kehilangan kehalusan rasa. Masyarakat yang tak bisa lagi membedakan antara penghormatan dan penindasan. Padahal, kalau kita mau jujur, tentu dalam setiap hubungan manusia selalu ada sebentuk “ketundukan.”
Bukankah kita semua pernah menundukkan kepala di depan orang yang kita cintai? “Cinta adalah perbudakan sukarela,” kata Roland Barthes dalam A Lover’s Discourse: Fragments.
Tapi justru di situlah letak kebebasannya; karena ia dipilih, bukan dipaksa. Barthes menggambarkan mekanisme halus dari penghambaan cinta itu dengan getir namun jujur.
Ia menulis, bahwa agar ketergantungan itu tampak dalam kemurniannya, ia harus meledak dalam hal-hal paling sepele, seperti menunggu panggilan telepon yang tak kunjung datang. Di situ, katanya, seseorang menjadi tawanan dari alat komunikasi itu sendiri.
Ia menunggu, menunda, bahkan menyiksa diri dengan hal-hal kecil agar tetap punya alasan untuk terus bergantung. Dan yang lebih rumit, ia bukan hanya teralihkan oleh ketergantungan itu, tapi juga dihina oleh keteralihan itu sendiri.
Bukankah di situ cinta memperlihatkan kejujurannya yang paling telanjang? Dalam tunduk yang tampak sia-sia, manusia justru merasa hidup sepenuhnya.
Dalam rasa ingin menyerah, ada dorongan untuk bertahan. Dalam ketundukan, terselip kebanggaan yang tak bisa dijelaskan oleh logika kesetaraan.
Di dunia yang sibuk menegakkan kepala, mungkin sesekali menunduk justru menyelamatkan kemanusiaan kita. Dalam tunduk ada pengakuan akan sesuatu yang lebih luhur. Dalam merendah ada kebesaran hati. Dan dalam cinta, tak ada feodalisme. Karena tak ada yang benar-benar berkuasa selain rasa itu sendiri.
Mungkin yang kita butuhkan bukan pelajaran tentang cara bersalaman yang benar. Tapi tentang bagaimana menghargai orang lain dengan tulus. Sebab kadang yang tampak tegak, sebenarnya sedang membeku. Sementara yang membungkuk, diam-diam ia sedang bermekar.
Lalu, siapa yang sebenarnya lebih merdeka: yang berdiri tegak karena gengsi, atau yang menunduk karena cinta? (*)
*Dani Ramdani, Pengajar dan Penerjemah Kitab Al Najat Karya Ibn Sina.