Retoria.id – Sebelum memberikan koreksi pada kritik guru gembul tentang diktum lama soal “belajar sendiri” perlu diluruskan dulu antara belajar sendiri dan belajar mandiri. Nampaknya, si Gembul lagi-lagi tidak memahami bahwa perbedaan mendasar di antara keduanya terletak pada fokus epistemiknya.
Belajar mandiri lebih tentang sikap dan tanggung jawab internal meliputi kesadaran, inisiatif, dan kontrol penuh atas proses belajar. Sementara belajar sendiri hanyalah tentang metode fisik, yakni melakukan kegiatan belajar tanpa ada orang lain di sekitar. Artinya, seseorang bisa saja belajar mandiri dalam kelompok, tetapi belajar sendiri belum tentu mandiri.
Apakah belajar mandiri membutuhkan pembimbing seperti guru?
Jawabannya, ya. Belajar mandiri tetap membutuhkan bimbingan dari guru, karena guru berperan sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemandiriannya. Meskipun siswa belajar sendiri, bimbingan guru diperlukan untuk memberikan arahan, motivasi, fasilitas, dan umpan balik agar proses belajar efektif dan siswa dapat menemukan jawabannya sendiri.
Contoh terbaik dari hal ini terlihat pada Aristoteles, yang belajar di Akademia dan dibimbing langsung oleh Plato di Athena selama sekitar 20 tahun, sejak usia muda hingga wafatnya Plato. Meskipun kemudian ia mengembangkan pandangan filsafat yang berbeda dari gurunya misalnya dalam hal teori bentuk (eidos) Aristoteles tetap sangat dipengaruhi oleh pemikiran Plato, terutama dalam bidang logika, etika, dan metafisika.
Baca Juga: Logika Ngibul Guru Gembul: Mengatakan Takdir Adalah Melecehkan Tuhan
Begitu pula Ibnu Sina, yang belajar di bawah bimbingan gurunya dalam ilmu mantiq bernama Al-Natili, seorang filsuf dan logikawan dari kalangan peripatetik (masya’i). Al-Natili datang ke rumah keluarga Ibnu Sina di Bukhara ketika Ibnu Sina masih muda.
Di bawah bimbingannya, Ibnu Sina mempelajari logika, geometri, dan dasar-dasar filsafat Yunani, terutama karya Aristoteles. Akhirnya, Ibnu Sina sendiri mengaku telah melampaui gurunya, bahkan menulis bahwa ia “menyempurnakan apa yang Al-Natili tidak mampu pahami.”
Jadi, bedakanlah antara belajar mandiri dan belajar sendiri. Dalam metode belajar mandiri, sehebat apa pun seseorang dalam kemandirian belajar, tetap harus dibimbing oleh seorang guru. Kalaupun seseorang pada akhirnya tidak lagi memerlukan guru, yakinlah bahwa ia telah menguasai ilmu itu berkat bimbingan dan restu guru selama bertahun-tahun.
Apakah belajar dengan guru menciptakan kultus? Sebagaimana klaim guru gembul? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung gurunya. Sebab terkadang ada guru yang melarang muridnya belajar dengan guru lain karena takut tersaingi secara keilmuan. nah, itu jelas tidak benar. Ulama dulu belajar bukan hanya pada satu guru, tapi ratusan guru di tempat ia menimba ilmu, entah ia Sunni, Syiah, Mu’tazilah, atau Falasifah.
Contoh saja Imam Ar-Razi, yang belajar kepada banyak ulama dari berbagai mazhab dan bahkan berdebat dengan sebagian di antaranya. Apakah ia belajar sendiri? Tidak. Apakah ia kultus? Juga tidak.
solipsisme dan Kesombongan Intelektual
Namun, di sinilah muncul kekeliruan baru dalam penalaran Guru Gembul. Ia mencoba tampak progresif dengan mengkritik pandangan lama yang menyamakan “belajar sendiri” dengan “belajar pada iblis”. Tetapi ia kemudian jatuh pada kesesatan epistemologis yang lebih halus namun berbahaya.
Dalam upayanya membebaskan manusia dari otoritas guru, ia justru menjerumuskan diri pada solipsisme intelektual keyakinan bahwa kebenaran lahir sepenuhnya dari pikiran diri sendiri. Ia mengira otonomi berpikir berarti memutus rantai tradisi dan meniadakan otoritas keilmuan, padahal modernitas justru lahir dari dialog panjang dengan tradisi itu sendiri.
Kant pun tidak memutus hubungan dengan masa lalu; ia mengkritik dengan kesadaran sejarah yang kuat. Kesalahan Gembul adalah mengidentikkan belajar sendiri dengan berpikir otonom, padahal keduanya berdiri pada landasan berbeda. Berpikir otonom membutuhkan interaksi dengan teks, tradisi, dan guru; sedangkan belajar sendiri tanpa koreksi eksternal hanya melahirkan gema dari pikirannya sendiri.
Ini potensial fallacy of false modernization kesalahan berpikir yang mengira sesuatu modern hanya karena tampak bebas dari otoritas. Padahal kebebasan intelektual sejati tidak berarti tanpa bimbingan, tetapi tumbuh dari kemampuan merefleksikan, mengkritik, dan melampaui apa yang telah diajarkan oleh guru. Artinya, kemandirian dan puncak intelektualitas itu bukan dinilai dari kemampuan meniadakan guru.
Pada akhirnya Guru Gembul mencampuradukkan otonomi intelektual dengan isolasi epistemik. Ia mengira sedang menyerukan kemandirian, padahal yang ia promosikan adalah kesendirian intelektual yang miskin tradisi, miskin koreksi, dan miskin adab keilmuan.
Modernitas tanpa guru bukanlah tanda kemajuan, melainkan kesombongan yang berganti baju akademik. Sebab dalam tradisi keilmuan mana pun, dari Plato hingga Ibnu Sina, dari Kant hingga Ar-Razi, satu hal tetap pasti: siapa pun yang berhenti berguru, berhenti pula belajar. (*)