Retoria.id – Dalam banyak kesempatan, seperti menikmati kopi di pagi hari atau teh hangat di sore hari, satu kebiasaan tetap bertahan: membuka linimasa. Bukan untuk tenggelam dalam hiruk-pikuk digital, melainkan mengikuti rasa ingin tahu yang tak kunjung padam.
Pada tahun 2025, rasa ingin tahu itu disuguhi tontonan langka: Indonesia, dengan segala kekacauan kecil sehari-hari, tiba-tiba mencuri perhatian dunia. Bukan lewat ajang olahraga megah, diplomasi internasional, atau teknologi futuristik.
Justru melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana yaitu budaya masyarakatnya sendiri, yang direkam, digarap, dan dibagikan oleh warganya tanpa pernah berniat menjadi fenomena global.
Semua bermula dari sesuatu yang sudah hidup puluhan tahun: suara sahur. Tepukan beduk kecil yang dulu hanya menggema di gang-gang kampung, tahun ini menjelma menjadi karakter kayu yang menari-nari di layar ponsel dunia.
Baca Juga: Daftar Artikel Wikipedia Paling Banyak Dibaca Tahun 2025 Charlie Kirk Menempati Peringkat Teratas
Nama kerennya Tung Tung Tung Sahur, sebuah ikon digital yang dalam sekejap melampaui 500 juta penayangan di TikTok. Karakter yang lahir dari ritual Ramadan paling sederhana kini dijual sebagai gantungan kunci di Tokyo dan Singapura.
Fenomena ini terdengar menggelikan sekaligus mencengangkan menggelikan karena sesuatu yang begitu akrab dan remeh-temeh mendadak menjadi suvenir internasional; mencengangkan karena membuktikan bahwa yang lokal tak lagi kecil ketika internet meminjamkan sayapnya.
Baca Juga: Bill Gates merilis daftar buku yang harus dibaca semua orang, Ini Daftarnya!
Tradisi yang dulu hanya hidup di lorong-lorong sempit kini mondar-mandir di etalase global, bukan lewat kampanye resmi negara, melainkan kreativitas spontan warganya sendiri.
Belum reda gelombang itu, muncul nama lain: Rayyan Arkan Dikha, bocah 11 tahun dari Riau yang meluncur di linimasa seperti panah. Gerakannya di atas haluan perahu panjang bukan saja luwes, tetapi nyaris seperti tarian atletik yang matang secara estetika. Dunia menyebutnya aura farming, istilah yang sebetulnya hanya cara internet menamai ulang sesuatu yang sudah lama ada.
Yang membuat Rayyan menonjol bukan sekadar gerak tubuhnya, melainkan perannya sebagai portal kecil yang membuka rasa ingin tahu global terhadap budaya lomba perahu di daerahnya.
Olahraga tradisional yang selama ini hanya dirayakan di tingkat lokal tiba-tiba dilihat atlet internasional, ditiru selebritas, dan dianalisis kreator muda di berbagai negara. Dalam sekejap, sesuatu yang dulu dianggap “biasa saja” berubah menjadi simbol ketangkasan dan disiplin.
Fenomena seperti ini memperlihatkan betapa sering warisan budaya diremehkan hanya karena tumbuh di dekatnya. Banyak yang menganggapnya terlalu sederhana, kampungan, atau sekadar “ya begitulah”.
Namun begitu ia dipoles kreativitas organik masyarakat dan masuk ke ruang digital yang tak berbatas, dunia melihatnya sebagai sesuatu yang segar, unik, dan menghibur.
Gelombang berikutnya datang dari musik. Lagu Tabola Bale mendadak menjadi pelarian global bagi mereka yang membutuhkan ritme ceria untuk video pendek.
Lebih dari 360 juta penayangan hanya dalam delapan bulan angka yang tidak kecil, apalagi untuk lagu yang tidak dibentuk oleh ambisi industri besar. Ia tumbuh dari kebiasaan bermain, bernyanyi, dan berkomunitas.
Tak lama kemudian, tarian Stecu Stecu melesat lebih cepat daripada iklan mie instan. Sejumlah idola K-pop ikut menarikan, memicu reaksi berantai: lebih banyak challenge, lebih banyak remix, lebih banyak negara ikut ambil bagian.
Apakah ada kementerian yang melatih fenomena ini? Tidak. Apakah diplomasinya dirancang teknokrat ahli? Juga tidak. Yang ada hanyalah spontanitas, keriaan, dan keberanian masyarakat menciptakan sesuatu tanpa takut terlihat konyol.
Di titik ini, Indonesia seperti sedang memberi pelajaran kepada dunia: pengaruh budaya tidak harus lahir dari pusat kebudayaan besar, industri hiburan raksasa, atau proyek nasional berbiaya besar. Kadang justru lahir dari kehidupan sehari-hari dari suara sahur, dari anak kecil di atas perahu, dari lagu rakyat, dari tarian spontan yang tidak dirancang mendunia.
Fenomena ini menegaskan satu kenyataan: globalisasi hari ini bukan lagi kisah negara besar memengaruhi negara kecil. Ia bisa berjalan dari gang sempit ke panggung dunia dalam hitungan jam.
Namun ada catatan yang tak dapat diabaikan: mengapa fenomena seperti ini sering muncul tanpa dukungan ekosistem budaya yang kuat? Mengapa kreativitas masyarakat baru terlihat ketika viral, ketika dunia memberi cap “keren”?
Di saat pemerintah sibuk merancang program besar, masyarakat sebenarnya telah menciptakan gelombang budaya yang lebih organik dan jujur. Internet hanya memperbesar apa yang sudah hidup di lapangan.
Setelah puluhan tahun Indonesia jatuh-bangun mempromosikan diri, satu hal menjadi jelas: negara ini perlu berhenti meremehkan kekuatan budaya sehari-hari. Terlalu sering bentuk kemasan budaya negara lain ditiru, padahal dunia justru tertarik pada keunikan yang tidak dibuat-buat.
Fenomena viral di 2025 menjadi bukti gamblang: warisan budaya bukan benda museum atau tontonan formal yang dipoles bertahun-tahun. Ia bisa lahir dari beduk kampung, dari lomba perahu, dari musik rakyat, dari humor spontan, dari kebiasaan yang dianggap terlalu kecil untuk diperhatikan.
Tetapi ada bahaya kecil: ketika semua hal viral dianggap strategi. Tidak semua yang viral layak dijadikan kebijakan. Fenomena ini terjadi karena otentisitas, bukan karena rekayasa. Jika pemerintah atau industri terlalu bernafsu mengulang formula yang sama, esensinya justru bisa hilang.
Meski begitu, gelombang-gelombang ini membawa optimisme baru. Indonesia kerap digambarkan tertinggal dalam inovasi teknologi atau budaya pop global.
Tahun 2025 membuktikan bahwa kreativitas masyarakat tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya menunggu panggung yang tepat. Kadang panggung itu bukan gedung konser atau konferensi internasional, tetapi layar kecil di genggaman jutaan orang.
Fenomena viral ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah cara suatu bangsa menemukan dirinya kembali melalui mata dunia. Indonesia mungkin sering merasa tidak istimewa, tetapi dunia tiba-tiba berkata sebaliknya.
Mungkin itulah kekuatan terbesar negeri ini: kemampuan membuat hal kecil terasa hidup; membuat yang sederhana menjadi memikat; membiarkan kreativitas tumbuh bukan dari rencana besar, melainkan dari kebiasaan sehari-hari.
Jika tahun 2025 mengajarkan sesuatu, maka pelajarannya adalah bahwa masa depan budaya bukan hanya milik negara yang punya industri besar, tetapi juga milik masyarakat yang berani menciptakan sesuatu yang jujur, spontan, dan dekat dengan kehidupan mereka. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, Indonesia tidak hanya mengejar tren dunia tetapi mengirimkan trennya ke dunia.
Pada akhirnya, yang perlu dilakukan bangsa ini sederhana: berhenti terkejut setiap kali dunia akhirnya melihat kreativitas yang sejak awal sudah ada di sini. (*)