Retoria.id – Dalam sejumlah puisi penyair Nusantara, Ramadhan sering muncul lewat adegan-adegan kecil: tubuh yang ditahan, kata-kata yang dicuci, doa yang diucapkan dari ruang sunyi, atau hasrat yang sengaja dipuasakan.
Tidak ada khotbah panjang, hanya rangkaian suara yang mencatat apa yang dialami penyair ketika berhadapan dengan lapar, waktu, dan dirinya sendiri.
Dari sana, pembaca diajak mengikuti jejak batin yang berbeda-beda kadang lirih, kadang mendesak tanpa penjelasan tentang makna apa yang seharusnya dirasakan.
Berikut adalah puisi-puisi tentang puasa dan bulan Ramadhan dari Penyair Nusantara:
Saya sedang mencuci celana yang pernah
saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.
Saya sedang mencuci kata-kata
dengan keringat yang saya tabung setiap hari.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi
saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.
2007
Mustofa,
Jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan Ramadlan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu.
Mustofa,
Ramadlah adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya untukNya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanNya kepadamu. Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.
Mustofa,
Ramadlan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu serahkanlah semata-mata padaNya.
Bersucilah untukNya.
Bersalatlah untukNya.
Berpuasalah untukNya.
Berjuanglah melawan dirimu sendiri untukNya.
Sucikan kelaminmu. Berpuasalah.
Sucikan tanganmu. Berpuasalah.
Sucikan mulutmu. Berpuasalah.
Sucikan hidungmu. Berpuasalah.
Sucikan wajahmu. Berpuasalah.
Sucikan matamu. Berpuasalah.
Sucikan telingamu. Berpuasalah.
Sucikan rambutmu. Berpuasalah.
Sucikan kepalamu. Berpuasalah.
Sucikan kakimu. Berpuasalah.
Sucikan tubuhmu. Berpuasalah.
Sucikan hatimu.
Sucikan pikiranmu.
Berpuasalah.
Sucikan dirimu.
Mustofa,
Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang mengingatkan kedlaifan dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan kelamin, lebih tahan sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu hasrat dikekang untuk apa dan siapa.
Puasakan kelaminmu untuk memuasi Ridla
Puasakan tanganmu untuk menerima Kurnia
Puasakan mulutmu untuk merasai Firman
Puasakan hidungmu untuk menghirup Wangi
Puasakan wajahmu untuk menghadap Keelokan
Puasakan matamu untuk menatap Cahaya
Puasakan telingamu untuk menangkap Merdu
Puasakan rambutmu untuk menyerap Belai
Puasakan kepalamu untuk menekan Sujud
Puasakan kakimu untuk menapak Sirath
Puasakan tubuhmu untuk meresapi Rahmat
Puasakan hatimu untuk menikmati Hakikat
Puasakan pikiranmu untuk menyakini Kebenaran
Puasakan dirimu untuk menghayati Hidup.
Tidak.
Puasakan hasratmu hanya untukHadliratNya!
Mustofa,
Ramadlan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu.
Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian, keserakahan ujub riya takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu?
Mustofa,
inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati.
Mustofa,
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi kau puja selama ini. Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti Ramadlan-ramadlan yang lalu.
Aku duduk di beranda rumah selepas berbuka
Ketika mendadak muncul seorang tua renta
Yang kalau kuperhatikan pancaran wajahnya
Jangan-jangan beliau inilah
Baginda Ayub Nabiyullah
Aku berdiri seketika, membungkuk hormat kepadanya
Agak gemetar badanku, tapi bismillah siap betegur sapa “Apakah kau sudah berbuka puasa?” beliau bertanya “Puji Tuhan, atas rizki dan perkenan-Nya” jawabku terpana
Wajah sepuh beliau merekah senyumnya, dan berkata “Sungguh sangat berbeda puasamu dibanding puasaku”
“Mohon maaf”, kataku, “hamba belum faham maksud Baginda”
“Puasaku”, kata Baginda, “adalah puasa yang kujalani tanpa kepastian akan berbuka”
2016
Ramadhan datang
Jangan terpesona
Dalam lapar dahaga
Ramadhan datang
Mari kita pesta
Melagu menari
Nyanyikan kalbu
Dalam irama jiwa
Dalam luruh tubuh
Dalam tekad membasuh
Ayo santap hidangan
Mutu manikam qiyam
Rukuk sujud tasyahud
Dalam lezat iman
Nyanyikan syiammu
Nada dasar Qur’an
Mantapkan segala qiyam
Siang malam
Biarkan pilar mesjid
Iri diam diam
Dari mangkuk rukuk
Menenggak arak tobat
Dari segala sujud
Kita debu di hadapan Zat
Asyik maksyuk kalbu
Dalam hajatan Ramadhan
Melahap kurma anggur bajigur
Durian iman
Sambil mengagung gaungkan
Qur’an
Panjatkan ruhmu
Hingga lapisan iman
Terdalam
Moga berkenan datang
Teman ikhsan
Memandang
Melukdekapkan
Pandangan sayang
Inilah pesta
Tanpa makanan badan
Inilah hajatan jiwa
Mengingat hari kenangan
Inilah upaya
Menyongsong
Hari kemuliaan menang
Lihatlah
Lewat mata ruhmu
Gravitasi rindu
Menghentakkan jejak
Tari telapak rindu
Sambil mengucapkan refrein
Satu Satu Satu
Hanya debu tari telapak kalbu
Cukup sudah meluruh kami
Pada Dambaan yang Satu
Maka dalam kepayang girang
Kupanggil Nama-Nya
Hu Hu Hu
Menanjak madumadah kami
Dalam kasidah pasrah
Kepada Dia yang
Menyebarkan ruh merindu
Ayo puasawan
Tahan diri kalian
Dari segala kehendak badan
Lepaskan
Dari segala kerendahan
Terbanglah ke dalam
Puncak Ramadhan
Meninggi
Tinggalkan segala badan
Meninggi
Terbang
Ke langit Ruh
Memadumadah
Dalam kasidah pasrah
Dalam Dia yang Maha Sah. (*)