Retoria.id – Krisis Dunia Modern (La Crise du monde moderne) adalah karya monumental Rene Guenon (1886–1951), Karya yang ditulis pada tahun 1927 ini merupakan salah satu dari tiga karya utama Guenon yang memuat inti kritiknya terhadap peradaban Barat modern. Dengan kata lain buku ini bisa dikatakan buku yang telah menjadi klasik dalam kapasitasnya mengkritik dunia modern.
Namun, klasik di sini tidak lantas membut isi dari eksposisi filosofis pengarangnya menjadi tidak relevan. Sebaliknya, sekarang adalah abad ke-21 di mana sejumlah proyeksi krisis telah terjadi. Terlemparnya manusia modern (bahkan, posmodern) hari ini ke dalam ruang dan waktu yang semakin bergegas dan tergesa membuatnya nyaris terputus secara total dari tatanan tradisi dan dari kebenaran Universal.
Baca Juga: Buku Magic words: Apa yang Harus Kita Ucapkan agar Berdampak?
Yang material telah menjadi isme dan agama telah dipandang sebagai bagian yang setali tiga uang dengan sumber masalah itu sendiri. Sains/ilmu dalam pengertian reduktif dan umumnya hari ini telah menjadi pseudo dan terjangkiti waham megalomania dengan ngotot menawarkan solusi.
Dalam buku ini filsuf Prancis tersebut menyusun sebuah dakwaan besar terhadap modernitas Barat. Guenon mengumpulkan dengan telanjang seluruh alasan kebenciannya terhadap peradaban modern peradaban yang ia tinggalkan sepenuhnya hingga akhir hayatnya.
Sejak halaman awal, buku ini tampil bukan sebagai kritik parsial, tetapi sebagai penolakan total terhadap mentalitas modern. Menurut Guenon, dunia modern adalah dunia yang materialistis; ia mengakui hanya apa yang dapat disentuh, dilihat, diukur.
Dunia ini, kata Guenon, terperangkap dalam “takhayul realitas”, sebuah kepercayaan sempit yang memutus manusia dari akses menuju alam yang lebih tinggi.
Modernitas juga mengklaim dirinya ilmiah, tetapi bagi Guenon, ilmu modern telah tercerabut dari akar metafisika dan sakralitas yang menopang masyarakat tradisional. Ilmu itu mengusung nonreligiusitas, dan karenanya kehilangan orientasi pada pengetahuan absolut. Dalam kurun yang sama, ia menilai materialisme telah merusak agama Kristen, bahkan Katolik sekalipun.
Baca Juga: Resensi Buku Dopamine Nation: Menemukan Keseimbangan di era Hedonisme
Pada ranah sosial-politik, Guenon menempatkan demokrasi sebagai gejala mental masyarakat modern, sebuah gejala yang baginya menolak hierarki, mengukuhkan egalitarianisme, dan menutupi perbedaan kodrati antar manusia.
Bagi Guenon, struktur, hirarkis seperti kasta justru benar karena berakar pada tugas-tugas esensial. Pemerintahan rakyat, yang menyanjung hak-hak bangsa melebihi hak-hak kelompok elit, dianggapnya sebagai pembalikan tatanan. Karena, Kekuasaan sejati, dalam pandangannya, hanya dapat datang dari atas.
Dengan demikian, seluruh bangunan pemikiran Guenon berdiri berseberangan dengan prinsip-prinsip utama modernitas.
Bagian-bagian singkat dalam Buku
Bagian Pertama: Zaman Kegelapan
Guenon mengkaji perbedaan berbagai aspek antara Abad Pertengahan dan Renaisans. Ia mengkritik Renaisans dan menulis:
“Apa yang disebut Renaisans bukanlah kelahiran kembali, melainkan kematian banyak hal. Atas nama kembali kepada Yunani–Romawi, Renaisans hanya mengambil sisi luarnya saja sisi yang bisa ditangkap dari teks-teks tertulis.”
Ia lalu mengkritik humanisme, yang dianggap sebagai akar seluruh proyek peradaban modern:
“Humanisme adalah kata yang diagungkan pada masa Renaisans, yang sejak awal telah merangkum seluruh program peradaban modern: mengurangi segala sesuatu menjadi ukuran manusia semata. Dengan dalih menaklukkan bumi, mereka berpaling dari langit.”
Humanisme, menurut Guenon, adalah bentuk awal dari sekularisme modern.
Bagian Kedua: Konfrontasi antara Timur dan Barat
Guenon menulis: “Salah satu ciri paling menonjol dunia modern adalah jurang yang tak terbantahkan antara Timur dan Barat.”
Ia menegaskan bahwa selama peradaban tradisional masih hidup di Timur maupun Barat, tak ada alasan untuk permusuhan. Konflik hanya muncul ketika Barat menyimpang dari tradisinya.
Ia menyimpulkan bahwa jalan keluar dari krisis modernitas adalah kembali kepada tradisi atau kembali ke timur.
Bagian Ketiga: Pengetahuan dan Tindakan
Guenon mengulas perbedaan mendasar antara pola pikir tradisional dan modern. Dalam peradaban tradisional, inti segala sesuatu adalah kontemplasi intelektual; tindakan hanyalah cabang dari pengetahuan metafisik.
Timur menegaskan supremasi kontemplasi atas tindakan, sedangkan Barat modern membalikkan hierarki ini.
Bagian Keempat: Ilmu Sakral dan Ilmu Profan
Guenon membandingkan ilmu tradisional (sacred science) dengan ilmu modern:
“Setiap ilmu hanya dapat menjadi ilmu sejati bila dibangun dari perspektif tradisional.”
Menurutnya, ilmu modern yang diagungkan Barat adalah bentuk penyimpangan dan degradasi dari ilmu hakiki.
Bagian Kelima: Individualisme
Gunon menjelaskan bahwa individualisme berarti meniadakan segala prinsip yang berada di atas individu. Inilah kelanjutan dari humanisme Renaisans.
Baginya, individualisme adalah penyebab utama kejatuhan Barat, karena ia menolak pengetahuan intelektual yang lebih tinggi dan menempatkan rasio instrumental di atas segalanya. Bahkan agama pun direduksi ke bentuk yang lebih dangkal.
Bagian Keenam: Kekacauan Sosial
Guenon tidak berfokus pada teori sosial, karena baginya masyarakat hanyalah manifestasi jauh dari prinsip metafisika. Namun ia menegaskan bahwa kekacauan sosial modern muncul karena setiap orang tidak lagi berada pada posisi yang selaras dengan kodratnya.
Inilah makna hilangnya “kasta” dalam pengertian tradisional: bukan soal kelas sosial, tetapi struktur kodrati manusia.
Bagian Ketujuh: Peradaban Material
Guénon menulis: “Orang-orang Timur berhak mencela peradaban Barat modern karena sepenuhnya materialistis.”
Bagi Guenon, orang modern hanya percaya pada apa yang dapat dilihat, disentuh, diukur, atau ditimbang. Segala bentuk pengetahuan yang melampaui materi dianggap tidak nyata.
Bagian Kedelapan: Invasi Barat
Guenon memaparkan bahwa kebingungan yang lahir di Barat kini menyebar ke seluruh dunia, bahkan mulai memengaruhi Timur. Walaupun sebelumnya banyak upaya Barat tidak berhasil mengubah mentalitas Timur, kini sebagian masyarakat Timur mulai meninggalkan tradisi mereka demi meniru pola pikir modern Barat.
Bagian Kesembilan: Beberapa Kesimpulan
Guenon menutup buku ini dengan menegaskan tujuannya: “Kami ingin menunjukkan bagaimana, dengan menggunakan pengetahuan tradisional dan bukan emosi atau aturan-aturan konvensional, kita dapat menjawab persoalan dunia modern, memahami kondisi manusia saat ini, dan menilai peradaban modern berdasarkan kebenaran.” (*)