Daniel Chidiac: Bagaimana Menghadapi Dunia yang Bising?

Retoria.id – Bagaimana seseorang yang hidup di tengah arus informasi dapat tetap tenang dan tidak larut dalam gelombang reaksi publik?

Pertanyaan ini semakin relevan ketika linimasa media sosial berubah menjadi arena pertempuran opini, ketika notifikasi datang bertubi-tubi membawa berita, komentar, dan kemarahan yang menular seperti epidemi.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh suara, menjaga jarak emosional bukan sekadar bentuk perawatan diri, tetapi juga cara mempertahankan kewarasan berpikir.

Dalam bukunya Stop Letting Everything Affect You, Daniel Chidiac membahas kelelahan emosional modern yang sering kali kita ciptakan sendiri. Ia menunjukkan betapa mudahnya manusia masa kini terbakar oleh hal-hal sepele: komentar di media sosial, pandangan sinis, atau bahkan salah tafsir terhadap emoji. Di balik hal-hal kecil itu tersembunyi persoalan besar: hilangnya kemampuan manusia untuk memilah antara yang penting dan yang remeh.

Baca Juga: Feodalisme Cinta: Ketundukan Santri Sebagai Simbol Rasa Bukan Simbol Kuasa

Sebagai pelaku dan pengamat media, kecenderungan untuk selalu bereaksi adalah jebakan yang nyata. Dunia jurnalistik menuntut kecepatan, ketepatan, dan daya pukau emosi. Namun, setiap reaksi yang tergesa berisiko mengaburkan nalar dan merusak kendali atas narasi, bahkan atas diri sendiri.

Nicholas Carr dalam The Shallows (2010) menulis bahwa media digital melatih otak manusia untuk bereaksi, bukan merenung. Arsitektur media sosial memang dirancang untuk menciptakan keterlibatan instan.

Tombol “like”, kolom komentar, dan notifikasi menjadi alat yang memicu kewaspadaan terus-menerus, seolah setiap suara di dunia maya memerlukan tanggapan pribadi.

Tak mengherankan bila banyak orang kini hidup dalam kelelahan mental kronis. Mereka terhubung dengan ribuan opini dan konflik setiap hari tanpa benar-benar mengalaminya secara langsung. Psikolog Daniel Goleman menyebut fenomena ini emotional contagion penularan emosi di ruang sosial. Satu kemarahan di platform X (Twitter) bisa menyebar ke jutaan orang yang bahkan tidak mengenal sumbernya.

Baca Juga: Grokipedia: Musk mengobarkan perang terhadap Wikipedia

Kita telah membangun sistem media yang memperdagangkan emosi. Judul berita harus menggugah, tayangan harus menyentuh, dan setiap konten harus memancing reaksi. Akibatnya, refleksi dianggap lambat dan tidak relevan, sementara reaksi menjadi mata uang utama.

Dalam kondisi semacam itu, banyak jurnalis maupun pembaca kehilangan jarak emosionalnya. Redaksi lebih sering mengejar engagement daripada kedalaman, sementara pembaca mencari pembenaran, bukan kebenaran. Publik dan media sama-sama terjebak dalam pertunjukan besar bernama “keterpengaruhan.”

Menjaga jarak emosional bukan berarti menjadi apatis. Brené Brown mengingatkan bahwa empati sejati adalah kemampuan untuk “merasakan bersama orang lain tanpa kehilangan diri sendiri.” Dalam konteks media, keseimbangan ini penting agar empati tidak berubah menjadi kelelahan emosional.

Chidiac menyebut langkah kunci untuk menjaga ketenangan sebagai emotional detachment kemampuan menyadari bahwa tidak setiap hal memerlukan reaksi pribadi. Konsep ini sejalan dengan prinsip mindfulness: hadir sepenuhnya tanpa terseret arus perasaan yang datang dan pergi.

Kita bisa peduli tanpa terbakar. Bisa menulis dengan empati tanpa kehilangan logika. Bisa menonton berita duka tanpa menyerap seluruh kesedihan ke dalam diri.

Namun masyarakat modern justru menjadikan keterpengaruhan sebagai gaya hidup. “Aku tersinggung” menjadi klaim moral, “aku ikut marah” menjadi simbol solidaritas, dan “aku terguncang” dianggap bukti kemanusiaan.

Padahal, seperti dijelaskan Jonathan Haidt dalam The Righteous Mind, manusia sering mengambil posisi moral berdasarkan emosi terlebih dahulu, baru mencari alasan rasional untuk membenarkannya. Dengan kata lain, banyak perdebatan publik hari ini hanyalah perang antarreaksi emosional.

Riset dari Yale University (2021) menunjukkan bahwa pengguna media sosial cenderung menyesuaikan unggahan mereka agar lebih memicu kemarahan, karena emosi negatif terbukti meningkatkan interaksi. Maka, kemarahan kini menjadi komoditas digital.

Chidiac menulis, “Kamu tidak bisa mengendalikan dunia, tapi kamu bisa mengendalikan seberapa dalam kamu membiarkan dunia masuk ke dalam dirimu.” Kalimat ini mengandung inti dari seluruh refleksi: pengendalian diri adalah bentuk kebijaksanaan di tengah kebisingan.

Bayangkan jika setiap orang menunda reaksinya terhadap berita besar—menunggu sehari, memeriksa konteks, lalu merenung sebelum berkomentar. Tindakan sederhana ini mungkin bisa menurunkan suhu debat, mengurangi hoaks, dan memulihkan martabat percakapan publik.

Dalam psikologi kognitif, dikenal istilah cognitive distortion pola pikir keliru yang membuat seseorang menafsirkan dunia secara ekstrem. Salah satu bentuknya adalah emotional reasoning, yakni kecenderungan menganggap perasaan pribadi sebagai kebenaran mutlak.

Media sosial memperkuat distorsi semacam ini. Kita merasa marah, lalu yakin bahwa sesuatu memang salah; merasa takut, lalu percaya bahwa dunia berbahaya.

Padahal, tidak semua perasaan perlu diterjemahkan menjadi aksi. Terkadang cukup diakui, lalu dilepaskan.

Dalam konteks jurnalistik, objektivitas sering menjadi ideal yang sulit dicapai. Namun barangkali yang lebih penting daripada objektivitas adalah kejernihan batin. Seorang penulis yang jernih mampu melihat realitas tanpa terbakar oleh kebisingannya—tidak kehilangan rasa, tetapi juga tidak kehilangan arah.

Dari buku Chidiac, pelajaran utamanya jelas: tugas kita bukan melawan dunia, melainkan melatih diri agar tetap utuh di tengahnya. Dunia tidak akan berhenti gaduh, tetapi kita bisa memilih seberapa besar kebisingan itu memengaruhi batin.

Tidak semua notifikasi layak dibuka. Tidak semua komentar perlu dibalas. Tidak semua berita pantas membuat kita marah. Di era ketika keheningan dianggap mencurigakan, mungkin ketenangan justru menjadi bentuk perlawanan paling radikal.

Jarak emosional bukan tembok, melainkan jembatan antara dunia luar yang bising dan dunia dalam yang membutuhkan ketenangan. Menjaga jarak bukan berarti menjauh, tetapi memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas.

Dalam keheningan, barangkali kita dapat menemukan kembali makna menjadi manusia yang berpikir bukan sekadar bereaksi. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/resensi/2571741699/daniel-chidiac-bagaimana-menghadapi-dunia-yang-bising

Rekomendasi