Retoria.id – Pernah dengar tentang misteri sailing stones (batu berjalan) di Racetrack Playa, Death Valley California? Selama puluhan tahun, fenomena batu yang tampak bergerak sendiri ini menjadi salah satu misteri alam yang sangat terkenal tapi juga ‘membagongkan’. Akan tetapi, akhirnya kini misteri batu berjalan di Death Valley terpecahkan juga.
Itupun setelah para ilmuwan melakukan berbagai eksperimen hingga teori-teori aneh, mulai dari tarikan medan magnet sampai campur tangan alien. Lalu, bagaimana sebenarnya batu-batu itu bisa bergerak?
Racetrack Playa di Death Valley, California, terlihat seperti dasar danau yang sudah mengering dan biasa saja. Namun siapa sangka ternyata salah satu bagian dunia yang terpanas dan terkering ini menyimpan teka-teki geologi paling membingungkan.
Keunikan lokasi tersebut terletak pada keberadaan batu-batu yang tampak berpindah sendiri dari satu titik ke titik lainnya. Fenomena ini pertama kali didokumentasikan secara ilmiah pada tahun 1948 oleh ahli geologi Jim McAllister dan Allen Agnew. Saat memetakan wilayah itu, mereka menemukan sejumlah batu yang tampak telah berpindah dari posisi awalnya.
Beberapa batu bahkan meninggalkan jejak hingga sekitar 0,46 kilometer dari titik asalnya. Mengingat ukuran dan berat batu-batu yang ada di sana (bahkan ada yang beratnya mencapai lebih dari 300 kg), jarak tersebut cukup mengejutkan.
Karena tidak ditemukan tanda-tanda aktivitas hewan maupun manusia di lokasi tersebut, muncul banyak dugaan mengenai penyebab perpindahan batu. Mulai dari angin kencang, medan magnet, hingga alien.
Tapi, teori-teori itu belum mampu menjelaskan seluruh fenomena yang terjadi. Fenomena unik ini kemudian dikenal luas sebagai fenomena sailing stones California dan menjadi objek penelitian selama beberapa dekade.
Setelah bertahun-tahun hanya menjadi spekulasi, para ilmuwan akhirnya berhasil mengungkap mekanisme yang menyebabkan batu-batu tersebut bergerak. Begini penjelasannya:
Tahun 2014 menjadi awal dari bagaimana misteri batu berjalan di Death Valley terpecahkan. Semua itu berkat penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan yang terdiri dari Richard Norris, James Norris (sepupu Richard), dan Ralph Lorenz.
Mereka nekat melakukan pengamatan jangka panjang dengan memasang alat pelacak GPS pada 15 batu yang tersebar di lokasi penelitian. Selain itu, sebuah stasiun cuaca juga didirikan supaya bisa merekam perubahan kondisi lingkungan secara rinci.
Jawaban yang dicari akhirnya muncul setelah serangkaian musim dingin membawa curah hujan ke kawasan gurun tersebut. Air yang menggenang di atas permukaan dataran membentuk lapisan dangkal. Ketika suhu malam menurun drastis, air tersebut membeku dan menghasilkan lapisan es tipis gurun.
Keesokan paginya, sinar matahari mulai mencairkan sebagian es. Pada saat yang sama, embusan angin ringan memecah lapisan es menjadi panel-panel besar berukuran puluhan meter yang mengapung di atas permukaan air.
Panel es inilah yang kemudian terdorong oleh angin dan perlahan mendorong batu-batu yang berada di jalurnya. Perangkat GPS yang dipasang sebelumnya berhasil merekam pergerakan tersebut secara langsung.
Penemuan ini menjadi titik penting karena misteri batu berjalan di Death Valley terpecahkan melalui observasi langsung, bukan sekadar teori. Penelitian menunjukkan bahwa perpindahan batu bukan disebabkan oleh “ice shove” a.k.a dorongan es, yang terjadi karena kombinasi air, es, dan angin yang bekerja secara bersamaan.
Fenomena ini sebenarnya cukup umum ditemukan di wilayah kutu. Tapi belum pernah ada yang melakukan pengamatan serupa di lingkungan gurun seperti Death Valley.
Lapisan es yang terbentuk ternyata sangat tipis, hanya sekitar 3 – 6 milimeter. Dengan tiupan angin sepoi-sepoi sekitar 4 – 5 m/s, panel-panel es kemudian bergerak dan mendorong batu-batu yang ada di jalurnya.
Kecepatan pergerakan batu memang relatif lambat, yakni sekitar 2 – 5 meter per menit. Berkat temuan ini, misteri batu berjalan di Death Valley terpecahkan dengan penjelasan ilmiah yang dapat diuji dan diamati secara langsung.
Para peneliti menemukan bahwa batu-batu di Racetrack Playa rata-rata hanya berpindah posisi sekali dalam rentang 2 – 3 tahun. Jejak yang ditinggalkan pun tidak langsung menghilang. Dalam banyak kasus, bekas lintasan batu masih dapat terlihat selama 3 – 4 tahun sebelum akhirnya terhapus dengan sendirinya.
Selama puluhan tahun, misteri sailing stones di Death Valley akhirnya terpecahkan setelah memicu berbagai spekulasi dan teori unik. Temuan dari misteri ini membuktikan bahwa fenomena alam yang terlihat mustahil sekalipun ternyata memiliki penjelasan logis di baliknya.
Sumber: nationalparks.org, scripps.ucsd.edu, ucnature.org
Aditya Pratama memiliki pengalaman 8 tahun bekerja di media online. Aditya mengawali kariernya sebagai staf riset di detik.com, lalu pindah menjadi editor liputan khusus. Selama pandemi, Aditya mencoba hal baru sebagai SEO Editor di Pikiran-Rakyat.com sebelum akhirnya menjadi Reporter di Retoria.id. Selain mengembangkan konten visual, program, dan kerja sama, Aditya juga menangani dan mengkurasi konten-konten pakar yang dipublikasikan secara menarik.