Retoria.id – Apa yang akan kamu lakukan saat cangkir kesayanganmu jatuh dan pecah? Alih-alih mencoba merekatkannya kembali, kamu mungkin akan langsung membuangnya. Namun, tahukah kamu bahwa masyarakat Jepang punya perlakuan yang berbeda terhadap benda atau keramik pecah?
Mereka menerapkan filosofi kintsugi Jepang memperbaiki barang dengan emas. Bekas pecahan tadi tidak disembunyikan, akan tetapi para pengrajin menggunakan pernis khusus dan bubuk emas untuk menyatukan kembali bagian yang rusak.
Ketika proses perbaikan ini selesai, retakan yang ditimpa pernis tadi perlahan berubah menjadi pola berwarna emas. Namun, yang lebih menariknya lagi, tradisi ini bukan sekadar teknik memperbaiki keramik, tetapi juga menyimpan pelajaran hidup.
Mengutip dari Japan House London, Kintsugi berasal dari kata kin yang artinya “emas” dan tsugi yang artinya “menyambung”. Jadi, secara harfiah, istilah ini dapat diartikan sebagai “sambungan emas”.
Tidak ada yang tahu pasti kapan pastinya filosofi ini ditemukan. Namun, diperkirakan kintsugi mulai berkembang pada abad ke-15.
Semua berawal dari Shogun Ashikaga Yoshimasa yang mengirimkan mangkuk teh kesayangannya ke China untuk diperbaiki setelah pecah. Namun ketika mangkuk tersebut dikembalikan, hasil perbaikannya dianggap kurang menarik karena menggunakan sambungan logam yang terlihat kasar.
Situasi ini membuat para pengrajin Jepang mencoba mencari cara yang lebih baik dan estetik untuk memperbaiki keramik yang rusak. Mereka menggunakan pernis alami (urushi) dan menambahkan bubuk emas pada bagian sambungan. Dari sinilah teknik kintsugi mulai berkembang dan menjadi salah satu seni tradisional Jepang yang terkenal hingga sekarang.
Salah satu pesan utama dari filosofi kintsugi Jepang memperbaiki barang dengan emas adalah bahwa kerusakan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian dari perjalanan yang membuat sebuah benda menjadi lebih berharga.
Cara pandang ini sering dikaitkan dengan kehidupan manusia yang seringkali dihadapkan pada kegagalan, kehilangan, atau masa-masa sulit. Alih-alih menyembunyikan atau menganggapnya sebagai kelemahan, sebaiknya menerima kegagalan tersebut sebagai bagian dari cerita yang membentuk seseorang menjadi lebih kuat dan bijaksana.
Karena itulah, banyak orang menganggap kintsugi sebagai simbol penerimaan diri dan kemampuan untuk bangkit setelah menghadapi kesulitan.
Kintsugi juga memiliki hubungan yang erat dengan konsep wabi-sabi, yaitu filosofi Jepang yang menghargai ketidaksempurnaan dan perubahan. Jika kintsugi terlihat pada keramik yang diperbaiki dengan emas, maka wabi-sabi merupakan cara pandang yang mendasarinya.
Filosofi ini mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar sempurna atau bertahan selamanya. Segala sesuatu akan berubah seiring berjalannya waktu, termasuk benda yang kita miliki maupun kehidupan yang kita jalani.
Oleh karena itu, ketidaksempurnaan tidak selalu harus diperbaiki atau disembunyikan karena justru di situlah letak keunikan dan keindahannya.
Meski sudah berusia ratusan tahun, masih banyak orang yang membicarakan tentang filosofi kintsugi. Terlebih di era media sosial ini, banyak orang merasa harus selalu tampil sempurna di hadapan orang lain. Kondisi inilah yang membuat orang lebih memilih menyembunyikan kegagalan dan kekurangannya.
Namun, kintsugi menawarkan sudut pandang yang berbeda. Lebih dari sekedar keindahan, filosofi ini juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki luka, kesalahan, dan pengalaman hidup yang menjadi bagian dari dirinya.
Selain itu, kintsugi juga sejalan dengan gaya hidup berkelanjutan. Daripada membuang barang yang rusak, teknik ini mendorong perbaikan dan penggunaan kembali sehingga dapat mengurangi limbah. Jadi, jangan heran jika konsep kintsugi kini banyak menginspirasi dunia desain, seni, hingga pengembangan diri.
Filosofi kintsugi Jepang memperbaiki barang dengan emas menunjukkan bahwa keindahan tidak selalu berasal dari sesuatu yang sempurna. Melalui seni restorasi keramik tradisional, masyarakat Jepang justru mengajarkan bahwa retakan dan kerusakan dapat menjadi bagian berharga dari sebuah perjalanan hidup.
Di balik garis-garis emas yang menghiasi keramik pecah, tersimpan pesan sederhana bahwa setiap pengalaman, termasuk kegagalan dan luka, memiliki nilai yang layak dihargai.
Kalau kamu sendiri bagaimana? Lebih memilih menyembunyikan retakan atau menjadikannya bagian dari cerita hidupmu?
Sumber: japanhouselondon.uk, britannica.com, lbifib.ui.ac.id
Aditya Pratama memiliki pengalaman 8 tahun bekerja di media online. Aditya mengawali kariernya sebagai staf riset di detik.com, lalu pindah menjadi editor liputan khusus. Selama pandemi, Aditya mencoba hal baru sebagai SEO Editor di Pikiran-Rakyat.com sebelum akhirnya menjadi Reporter di Retoria.id. Selain mengembangkan konten visual, program, dan kerja sama, Aditya juga menangani dan mengkurasi konten-konten pakar yang dipublikasikan secara menarik.