Liberal Arts, buku dan Seni menjadi manusia Merdeka

Retoria.id – Kata liber berarti orang merdeka, sementara kebalikannya adalah servitus, yakni budak. Dari sini saja sudah tampak bahwa literasi sejak awal tidak pernah netral; ia selalu berkelindan dengan kebebasan.

Hubungan itu bahkan terlihat sangat jelas dalam sejarah perbudakan di Amerika Serikat. Salah satu fakta paling menarik dan ironis adalah bahwa mengajari budak membaca pernah dianggap sebagai tindakan ilegal. Literasi dipersepsikan sebagai ancaman.

Di beberapa negara bagian, larangan itu diterapkan secara bertingkat. Budak masih diperbolehkan belajar membaca dasar, tetapi mengajarkan tata bahasa justru dilarang.

Alasannya sederhana namun mengerikan: tata bahasa melatih cara berpikir, dan cara berpikir dapat melahirkan kesadaran.

Di titik inilah kisah Frederick Douglass menjadi relevan. Siapa pun yang pernah membaca otobiografinya akan menemukan cerita tentang bagaimana ia belajar membaca secara diam-diam, dengan cara yang licik sekaligus cerdas.

Ia tidak meminta diajari, melainkan menantang orang-orang di sekitarnya dengan kalimat seperti, “Kamu benar-benar tahu apa itu?” atau “Aku ragu kamu bisa membaca ini.”

Tantangan-tantangan kecil itu memancing ego, dan tanpa sadar mereka justru mengajarinya. Dari pengalaman itu, menjadi jelas bahwa literasi memang sangat erat kaitannya dengan kebebasan.

Gagasan serupa juga bisa ditemukan dalam bahasa Arab. Ada kata penting, ḥurr, yang berarti orang merdeka. Definisi dasarnya bukan sekadar bebas dari belenggu, melainkan seseorang yang mampu pergi ke mana pun ia mau.

Baca Juga: Nilai Pendidikan Liberal Arts di Era Teknologi: Pentingnya Keterampilan Kritis & Kreativitas

Makna ini tidak berhenti pada kebebasan bergerak secara fisik. Ia juga menunjuk pada kebebasan berpikir. Pikiran yang merdeka dapat bergerak, melintasi batas geografis dan waktu. Kita bisa berada di banyak tempat sekaligus melalui pikiran kita.

Emily Dickinson pernah menulis bahwa tidak ada kapal secepat buku untuk membawa kita ke negeri-negeri jauh, dan tidak ada kendaraan seefisien halaman puisi yang mampu melompat-lompat.

Perjalanan semacam ini dapat ditempuh oleh orang termiskin sekalipun, tanpa membayar tol apa pun. Betapa hematnya kereta yang mengangkut jiwa manusia.

Dengan demikian, bergerak melalui pikiran adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Dalam tradisi Islam, fikr berpikir dipahami sebagai gerak batin, dan Al-Qur’an sendiri secara eksplisit menyeru manusia untuk melakukannya.

Dari sinilah kita bisa masuk ke gagasan pendidikan liberal. Asal-usulnya masih diperdebatkan; sebagian menelusurinya hingga Mesir Kuno.

Orang Mesir menyebut negerinya sebagai ibu atau matriks dunia barangkali sekarang bisa disebut neneknya. Namun, tak dapat disangkal bahwa bangsa Yunani mengembangkan dan memformalkan tradisi ini.

Ketika umat Islam kemudian tampil sebagai pembawa peradaban, hal itu terjadi bukan semata karena kekuatan politik, melainkan karena Nabi Muhammad dan Al-Qur’an sebuah kitab yang meletakkan pengetahuan di jantung peradaban.

Karena itu, umat Islam bersikap seperti lebah. Mereka tidak membedakan sumber ilmu. Di mana pun ada pengetahuan, mereka mengambilnya. Metafora ini bukan kebetulan: lebah secara eksplisit dimuliakan dalam Al-Qur’an, bahkan satu surah dinamai dengannya.

Menariknya, kata yang digunakan Al-Qur’an untuk lebah adalah wahy. Allah menggunakan istilah yang sama yang dipakai untuk wahyu kepada para nabi ketika berfirman bahwa Allah mewahyukan kepada lebah agar pergi ke gunung-gunung dan lembah-lembah.

Lebah itu kecil ukurannya, tetapi besar pekerjaannya. Ia menghasilkan madu sebagai nutrisi bagi tubuh, dan lilin yang dahulu digunakan untuk menerangi rumah-rumah. Dari sini tampak bahwa kerja kecil bisa berdampak besar sebuah pelajaran penting bagi pendidikan.

Karena itu, gagasan pendidikan liberal adalah sesuatu yang patut dipulihkan di dunia Muslim, terutama ketika pendidikan liberal kini sering dipersempit dan dipolitisasi.

Di sini konsep konservasi menjadi penting. Kata “konservatif” sering dipahami secara negatif, padahal yang dimaksud di sini bukan politik, melainkan upaya menjaga yang terbaik dari masa lalu. Manusia modern kerap ingin menolak masa lalu secara total, seolah-olah seluruhnya keliru.

Pandangan ini lahir dari mitos kemajuan yang menyertai proyek Pencerahan. Proyek ini memang membawa banyak hal baik, dan tidak layak direndahkan sepenuhnya.

Bahkan, salah satu cita-cita utamanya sejatinya sejalan dengan misi Nabi Muhammad: literasi universal.

Buku adalah anugerah Terbesar

Salah satu anugerah terbesar dari buku adalah kemampuannya memadatkan waktu. Seseorang bisa menghabiskan 18 tahun dalam pendidikan dasar hingga doktoral.

lalu bertahun-tahun melakukan riset dan semua buah intelektual itu dapat kita akses hanya dengan membaca sebuah buku dalam hitungan hari.

Inilah keajaiban buku: kita dapat menikmati buah dari kehidupan intelektual seseorang dalam waktu yang sangat singkat.

Ironisnya, umat yang kitab sucinya diawali dengan perintah Iqra’ bacalah. Kini justru memiliki tingkat buta huruf tertinggi di dunia. Iqra’ bukan sekadar membaca, tetapi juga melafalkan, menyusun makna, dan memahami.

Manusia diciptakan dari sesuatu yang melekat ‘alaq dan diajari dengan pena. Allah bersumpah dengan pena. Pengetahuan bukan tempelan, melainkan bagian dari kodrat manusia.

Fakta-fakta sosial memperkuat ini. Negara-negara dengan tingkat membaca tinggi cenderung memiliki GDP tinggi. Rendahnya literasi berkorelasi dengan kriminalitas, kemiskinan, dan putus sekolah.

Wilayah dunia Muslim, yang dahulu paling melek huruf dalam sejarah, kini justru berada di titik sebaliknya. Ini adalah tragedi besar.

Waktu adalah anugerah terbesar yang tidak bisa dibeli. Karena itu, memilih bacaan adalah persoalan eksistensial. Dari sekitar enam ratus buku yang mungkin kita baca seumur hidup, pilihan itu menentukan siapa kita.

Membaca adalah bentuk ibadah. Al-Qur’an, shalat, dan pembaruan jiwa semuanya bertujuan menyelamatkan manusia dari kehancuran batin.

Tidak Ada Peradaban Tanpa Buku

Peradaban dibangun di atas buku. Tidak ada Socrates tanpa Homer. Tidak ada Eropa tanpa Alkitab, Iliad, dan *Odyssey*. Dunia Islam berakar pada Al-Qur’an, lalu karya Imam Malik, Ibnu Sina, Al-Farabi, dan seterusnya.

Buku besar adalah buku yang bertahan melintasi waktu. Ezra Pound berkata, “Buku besar adalah berita yang tetap relevan.”

Ibnu Sina, Euclid, Plato, dan tradisi logika membentuk dunia modern. Umat Islam mengembangkan, mengoreksi, dan meneruskan warisan ini. Dari sanalah lahir geometri Islam, seni, dan sains—buah dari kecintaan pada keteraturan dan akal. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2572220876/liberal-arts-buku-dan-seni-menjadi-manusia-merdeka

Rekomendasi