Ibn Taymiyyah dan Kritik atas Logika Formal Yunani

Retoria.id – Selama ini, Imam Ibn Taymiyyah kerap ditempatkan dalam posisi yang keliru: seolah-olah ia menolak logika dan memusuhi penalaran rasional.

Pembacaan semacam ini bukan hanya menyederhanakan (reduksi), tetapi juga menutup pintu bagi pemahaman yang lebih jernih atas proyek intelektualnya.

Karena Yang dikritik Ibn Taymiyyah sejatinya bukanlah akal sebagai kemampuan, melainkan klaim logika formal Yunani (al-manṭiq al-ṣurī) sebagai satu-satunya pintu sah menuju pengetahuan.

Dalam kerangka itu, logika tidak lagi berfungsi sebagai alat bantu berpikir, melainkan berubah menjadi otoritas epistemik yang menentukan mana pengetahuan yang “diakui” dan mana yang tidak.

Baca Juga: Ibn Taimiyah dan Kritiknya terhadap Logika Aristoteles Dalam Kitab al-Radd ‘Ala al-Mantiqiyyin

Padahal, Ibn Taymiyyah secara eksplisit mengakui validitas silogisme. Ia menerima bahwa silogisme terutama bentuk pertama (syakl al awal) dapat menghasilkan kepastian, jika premis-premisnya memang sudah pasti.

Ia juga mengakui bahwa demonstrasi formal bekerja paling efektif dalam bidang-bidang yang menyerupai matematika, yakni ranah dengan struktur abstrak yang relatif stabil.

Kritiknya dimulai justru ketika logika formal melampaui batas metodologisnya dan mengklaim otoritas universal.

Dua Klaim Besar Logika Yunani

Dalam tradisi klasik, logika biasanya dibagi ke dalam dua wilayah utama: tasawwurat dan taṣdiqat.

Pertama, tasawwurat bermakna pembentukan konsep. Pertanyaan dasarnya sederhana: apakah seseorang sungguh mengetahui apa itu suatu hal?

Logika Yunani menjawabnya dengan satu klaim kuat: konsep yang sahih hanya diperoleh melalui ḥadd, atau definisi yang menangkap esensi sesuatu melalui genus dan diferensia (Jinsun aa Fashl). Mengetahui sesuatu, dalam kerangka ini, berarti berhasil menyingkap hakikat metafisiknya.

Baca Juga: Biografi Ibn Taimiyah: Antara Kejeniusan, Kontroversi, dan Kritik atas Mantiq Yunani

Kedua, taṣdiqat atau penilaian kebenaran. Di sini logika formal mengklaim bahwa pengetahuan baru yang pasti dihasilkan melalui demonstrasi silogistik yang tersusun rapi. Struktur formal dianggap sebagai mesin produksi kepastian.

Ibn Taymiyyah melihat dua klaim ini bukan sekadar bermasalah secara teknis, tetapi berlebihan secara epistemologis.

Mengapa Definisi Tidak Melahirkan Konsep

Terhadap tasawwurat, Ibn Taymiyyah menunjukkan bahwa definisi tidak bekerja seperti yang dijanjikan.

Pertama, ada masalah sirkularitas (ad dawur). Jika definisi adalah sumber konsep, maka definisi itu harus terlebih dahulu diverifikasi kebenarannya.

Namun, verifikasi tersebut mensyaratkan pengetahuan awal tentang apa yang didefinisikan. Akibatnya, definisi justru bergantung pada konsep yang seharusnya ia hasilkan.

Kedua, ada dilema kognitif yang sederhana tetapi menentukan: jika seseorang sudah memahami unsur-unsur definisi, maka definisi itu tidak diperlukan.

Jika ia belum memahaminya, definisi itu juga tidak membantu karena hanya menyusun istilah-istilah yang sama-sama belum dipahami. Dalam dua kondisi ini, definisi gagal menjadi alat pembentuk konsep.

Lebih jauh lagi, Ibn Taymiyyah menggugat fondasi metafisika di balik definisi esensial (hadd Tam): pembedaan antara esensi (dzatiyyah) dan aksiden (Aradiyyah).

Dalam praktik, pembedaan ini sering kali bersifat arbitrer dan tidak memiliki kriteria objektif yang disepakati. Definisi akhirnya menjadi alat kontrol konseptual, bukan sarana penyingkap realitas.

Bagi Ibn Taymiyyah, definisi paling jauh berfungsi sebagai alat klarifikasi membantu membedakan dan mengorganisasi pengetahuan yang sudah ada bukan sebagai pintu utama lahirnya pemahaman.

Sebaliknya, pembentukan konsep dalam kehidupan nyata berlangsung melalui pengalaman inderawi, pengenalan langsung, dan perbandingan.

Manusia memahami sesuatu bukan dengan membedah esensinya, melainkan dengan mengenal, mengamati, lalu mengaitkannya dengan apa yang telah dikenal sebelumnya.

Silogisme: Sah, tetapi Terbatas

Dalam wilayah taṣdiqat, sikap Ibn Taymiyyah sama sekali tidak bersifat destruktif. Ia tidak menolak silogisme, tetapi menempatkannya pada posisi yang proporsional.

Menurutnya, silogisme tidak pernah menciptakan kepastian; ia hanya mewariskan kepastian yang sudah ada dalam premis.

Jika premisnya spekulatif, kesimpulannya tidak akan lebih pasti dari itu. Dengan kata lain, bentuk formal tidak menghasilkan kebenaran, ia hanya menjaga konsistensi inferensial.

Di sinilah kritik metodologisnya menjadi tajam. Logika formal, dalam praktiknya, sering terjebak pada pemujaan bentuk, sementara pertanyaan paling mendasar apakah premis itu benar dan sesuai realitas justru terpinggirkan.

Padahal, tujuan penalaran bukanlah kesempurnaan struktur, melainkan kebenaran isi (premis).

Lebih ironis lagi, silogisme sangat bergantung pada premis universal. Namun, universal tersebut biasanya diperoleh melalui induksi yakni generalisasi dari pengalaman empiris.

Jika induksi dan analogi diremehkan sebagai “tidak pasti”, maka sumber utama silogisme ikut dilemahkan. Silogisme, dengan demikian, hidup dari metode yang secara teoretis ia anggap inferior.

Induksi, Analogi, dan Cara Pengetahuan Bertumbuh

Sebagai alternatif, Ibn Taymiyyah menekankan dua mekanisme utama pertumbuhan pengetahuan: induksi dan analogi.

Induksi bekerja melalui pengamatan berulang terhadap kasus-kasus partikular, lalu menarik generalisasi yang proporsional dengan bukti.

Analogi bekerja dengan memindahkan penilaian dari satu kasus ke kasus lain berdasarkan faktor sebab yang sama.

Keduanya bukan sekadar “dugaan longgar”, melainkan metode rasional yang digunakan secara luas dalam sains, hukum, dan kehidupan sehari-hari.

Ibn Taymiyyah bahkan menunjukkan bahwa analogi (qiyas al-tamthīl) dan silogisme universal (qiyās al-shumūl) sering kali mencapai substansi pengetahuan yang sama.

Yang membedakan bukanlah bentuknya, melainkan kualitas bahan epistemiknya: seberapa kuat bukti, seberapa sahih identifikasi sebab.

Lebih dari Sekadar Debat Logika

Pada akhirnya, kritik Ibn Taymiyyah bergerak pada tingkat yang lebih luas penolakan terhadap monopoli rasionalitas.

Logika Yunani dipahami sebagai iṣṭilāḥ konvensi historis bukan hukum akal yang mengikat semua manusia dan semua peradaban.

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar telah melahirkan pengetahuan tanpa bergantung pada perangkat logika formal Yunani.

Ini menegaskan bahwa akal manusia, melalui fitrah-nya, mampu mengenali inferensi yang sah tanpa harus tunduk pada satu bahasa teknis tertentu.

Al-Qur’an sendiri menampilkan model penalaran yang beragam: melalui tanda-tanda di alam, perumpamaan, penyingkapan kontradiksi, dan penalaran a fortiori. Semua itu bekerja dengan akal yang hidup, bukan dengan metafisika esensialis yang kaku.

Ibn Taymiyyah bukan penentang logika, apalagi musuh akal. Ia adalah pengkritik klaim berlebihan atas logika. Yang ia tolak bukan penalaran, melainkan ilusi bahwa kepastian lahir dari bentuk semata.

Dalam pandangannya, pengetahuan tumbuh dari pengalaman, induksi, dan analogi yang jujur terhadap realitas sementara logika formal berfungsi sebagai alat bantu, bukan penguasa kebenaran. (*)

 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2572228080/ibn-taymiyyah-dan-kritik-atas-logika-formal-yunani

Rekomendasi