Retoria.id – Orang boleh memilih agama, pekerjaan, bahkan kadang-kadang memilih tanah tempat dimana ia hendak tinggal. Namun tidak seorang pun memilih wajah yang diwariskan leluhurnya. Tidak seorang pun memilih nama keluarga yang lebih dahulu lahir sebelum dirinya. Tidak seorang pun memilih sejarah yang akan menempel pada tubuhnya sejak pertama kali ia membuka mata. Artinya, ada nasib-nasib tertentu yang tidak lahir dari pilihan.
Barangkali demikianlah kisah panjang pergulatan orang Cina Indonesia Kristen. Mereka telah hidup berabad-abad di negeri ini. Mereka berbahasa Indonesia. Mereka mencintai makanan yang sama. Mereka menghirup udara yang sama. Mereka menangis ketika Indonesia terluka dan bersorak ketika Indonesia menang. Namun ada satu pertanyaan yang seolah tidak pernah selesai membuntuti mereka.
Pertanyaan itu tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan negara atau diskriminasi yang terbuka. Kadang ia datang dalam percakapan sehari-hari yang tampak biasa, tetapi meninggalkan jejak kegelisahan yang dalam. Purnomo, salah satu informan dalam buku Darwin Darmawan, mengungkapkan pengalaman tersebut:
“Saya orang Indonesia. Makan, budaya, bahasa, semuanya Indonesia. Hati saya juga Indonesia. Tetapi, orang sering bertanya kepada saya, ‘Bapak orang Cina ya?’ atau mereka sering menanyakan, ‘Bapak ikut Natal atau Lebaran sih?’ Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering membuat saya bingung.” (Hal: 105)
Pengalaman Purnomo memperlihatkan bahwa identitas tidak selalu terguncang oleh konflik besar. Boleh jadi ia diremukkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tampak sepele. Kegelisahan serupa muncul dalam pengakuan Nurwahyuni:
“Saya Cina bukan, Jawa bukan. Mandarin tidak bisa. Jawa juga tidak dipercaya. Jadi, bingung ya. Di sini dianggap orang Cina. Di Cina saya sudah tidak dianggap orang Cina karena bahasanya saja sudah tidak bisa.” (Hal: 87)
Boleh jadi bagi sebagian orang pertanyaan-pertanyaan itu terasa biasa saja. Namun bagi mereka yang sepanjang hidupnya telah berusaha menjadi bagian dari Indonesia, pertanyaan itu kadang terdengar seperti sebuah pengingat bahwa penerimaan tidak pernah benar-benar utuh. Seolah-olah ada sebuah pintu yang selalu terbuka, tetapi tidak pernah dibuka sepenuhnya.
Buku Identitas Hibrid Orang Cina karya Darwin Darmawan mengajak pembaca menyusuri lorong panjang proses pencarian identitas yang pelik. Buku ini bukan tentang etnis Tionghoa semata. Ini adalah kisah tentang manusia-manusia yang selama berabad-abad hidup di antara berbagai dunia yang saling bersinggungan, tetapi tidak pernah sepenuhnya menyatu.
Pada masa Penjajahan Hindia Belanda, mereka ditempatkan sebagai kelompok perantara atau middleman society, tidak sepenuhnya Eropa, tidak pula sepenuhnya bumiputra. Mereka menjadi jembatan sekaligus pagar, menjadi penghubung sekaligus pembatas. Dari sinilah luka pertama itu bermula.
Sejarah menempatkan mereka di tengah. Sementara hidup di tengah tidak selalu menyenangkan. Ketika dua kubu bertikai, orang yang berada di tengah sering kali menjadi sasaran kemarahan keduanya. Sejarah Batavia pada 8–10 Oktober 1740 menjadi salah satu contoh paling tragis ketika konflik berujung pada pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang Cina.
Baca Juga: Buku yang kamu harapkan Orang Tuamu Pernah Membaca
Ketika kolonialisme runtuh dan nasionalisme lahir, posisi itu tidak serta-merta berubah. Mereka tetap hidup dalam sebuah pertanyaan yang sama: siapakah sebenarnya mereka? Pertanyaan itu semakin keras menggema pada masa Orde Baru. Nama-nama diganti. Bahasa perlahan ditinggalkan. Perayaan budaya disembunyikan. Anak-anak tumbuh tanpa mengenal sebagian warisan leluhurnya sendiri, mereka didorong menjadi Indonesia.
Namun ada ironi yang tragis di sana. Mereka diminta menjadi Indonesia, tetapi tidak pernah sepenuhnya dianggap Indonesia. Mereka diajak masuk ke dalam rumah kebangsaan, tetapi tetap diperlakukan sebagai tamu yang sewaktu-waktu harus menunjukkan kartu undangan. Pengalaman itu tergambar jelas dalam penuturan Lim, salah satu informan Darwin:
“Dulu ketika mau mendapat kewarganegaraan Indonesia, saya melewati proses yang panjang, lama, dan mahal untuk mendapatkannya. Ketika itu terjadi, saya merenung dan bertanya, kenapa saya dibedakan? Kenapa saya diperlakukan tidak seperti yang lain? Di satu sisi ada perasaan saya berbeda karena perlakuan yang diskriminatif terhadap saya dan saat itu kecinaan saya akan muncul sebagai identifikasi pembeda dengan orang lain. Tetapi, pada sisi lain saya merasa saya bagian dari orang Indonesia kebanyakan. Saya tidak berbeda dari orang Indonesia non-Cina.” (hlm. 95–96)
Barangkali inilah yang oleh Homi Bhabha disebut mimicry yaitu menjadi hampir sama, tetapi tidak pernah benar-benar sama. Dan sejarah menunjukkan betapa mahal harga yang harus dibayar. Kerusuhan Mei 1998 bukan hanya menghancurkan toko-toko dan rumah-rumah. Peristiwa itu juga menghancurkan keyakinan bahwa asimilasi akan selalu berujung pada penerimaan. Dalam sekejap, banyak orang kembali diingatkan bahwa mereka masih dipandang sebagai “Cina”, meskipun selama puluhan tahun telah berusaha mati-matian menjadi “Indonesia”.
Di tengah pergulatan sejarah dan lika-liku luka itulah Darwin melakukan kerja intelektualnya dengan mempertemukan kita pada suara-suara para informan. Dan hasilnya tidak sederhana. Menariknya, Darwin tidak menemukan satu suara yang tunggal. Para informannya berbicara dari pengalaman yang berbeda-beda, bahkan kadang saling bertentangan.
Purnomo dan Lim merasa dirinya Indonesia. Sebaliknya, Mei-mei masih menyimpan kebanggaan tertentu terhadap kecinaannya. “Orang kita rajin-rajin bekerja. Kalau punya uang suka nabung, tidak langsung dibelanjakan,” tuturnya ketika menjelaskan cara pandangnya terhadap komunitasnya sendiri.
Pada sisi yang lain, Luther memperlihatkan bagaimana kekristenan menjadi ruang negosiasi baru. Ia masih merayakan Imlek, tetapi tidak lagi merasa perlu mempertahankan seluruh simbol budaya yang melekat padanya. Berbeda lagi dengan Nurwahyuni. Ia justru menunjukkan kegelisahan yang lebih pelik. Ketika dipanggil “amoy”, ia merasa asing dengan identitas yang dilekatkan kepadanya.
“Saya merasa gedek waktu dipanggil amoy ketika ke pasar, karena itu untuk panggilan orang Cina asli dari Cina. Memangnya saya Cina apa?” (Hal:87)
Sebuah kalimat pendek yang menyimpan paradoks panjang tentang identitas, penerimaan, dan rasa memiliki. Ada yang mencintai Indonesia. Ada yang masih menyimpan kebanggaan terhadap kecinaannya. Ada yang menemukan rumah dalam kekristenan. Ada pula yang merasa asing terhadap kategori-kategori yang dilekatkan kepada dirinya. Mereka bergerak di antara berbagai identitas sebagaimana seseorang berjalan di antara beberapa rumah yang semuanya terasa akrab, tetapi tidak satu pun benar-benar dapat disebut miliknya sepenuhnya.
Baca Juga: Membaca Madilog Tan Malaka: Perbandingan Logika Mistika dan Sapienza Poetica
Darwin melihat keadaan ini sebagai lahirnya sebuah ruang ketiga. Sebuah ruang yang memungkinkan seseorang tidak harus memilih. Tidak harus menjadi Cina atau Indonesia. Tidak harus meninggalkan salah satunya demi yang lain. Sebuah ruang tempat identitas dipahami sebagai perjalanan, bukan akar yang membelenggu. Dan harus diakui, gagasan itu terdengar indah, Sangat indah, Barangkali terlalu indah.
Namun setelah menyelesaikan buku ini dan sejenak memejamkan mata, saya merasa masih ada kegelisahan yang tersisa. Darwin melihat ruang ketiga sebagai sebuah kemungkinan. Saya dapat memahami optimisme itu. Setelah sekian lama dipaksa memilih antara menjadi Cina atau Indonesia, ruang ketiga tampak seperti sebuah rumah yang membebaskan. Di sana seseorang tidak lagi harus mengorbankan satu identitas demi identitas yang lain. Ia dapat menjadi keduanya sekaligus.
Namun semakin lama saya memikirkan buku ini, semakin kuat pertanyaan yang muncul: apakah ruang ketiga sungguh sebuah rumah? Ataukah ia hanya tempat persinggahan yang nyaman bagi orang-orang yang tidak pernah diberi kesempatan memiliki rumah?
Pertanyaan itu muncul karena sejarah yang dipaparkan Darwin sendiri menunjukkan bahwa identitas orang Cina Indonesia Kristen selalu bergerak mengikuti tekanan zaman. Pada masa kolonial mereka menjadi kelompok perantara. Pada masa nasionalisme mereka dipaksa membuktikan kesetiaan. Pada masa Orde Baru mereka didorong berasimilasi. Pada masa Reformasi mereka kembali pada kecenderungan mencari akar yang pernah disembunyikan.
Maka muncul pertanyaan yang sulit dihindari. Jika identitas selalu bersifat strategis dan posisional sebagaimana dikatakan Stuart Hall, apakah ada sesuatu yang tetap ketika seluruh posisi itu berubah? Apakah benar orang Cina Indonesia Kristen tidak memiliki inti identitas yang relatif stabil? Ataukah di balik segala negosiasi itu tetap ada sesuatu yang bertahan diam-diam: memori keluarga, pengalaman historis, rasa memiliki, atau bahkan luka kolektif yang diwariskan lintas generasi?
Saya teringat pada pengakuan beberapa informan yang setelah Reformasi justru kembali mencari kecinaannya. Mereka belajar sejarah keluarga. Mereka merayakan tradisi yang dulu disembunyikan. Mereka ingin mengetahui dari mana leluhur mereka berasal.
Jika identitas hanya perjalanan, mengapa orang masih ingin mencari asal keberangkatan? Jika yang ada hanyalah routes, mengapa roots terus menghantui? Mungkin kerinduan terhadap akar itu bukan penolakan terhadap perjalanan. Mungkin ia justru menunjukkan bahwa manusia selalu membutuhkan sesuatu yang dapat disebut rumah, betapapun rumah itu hanya hidup dalam ingatan. Dan di sinilah kegelisahan saya terhadap ruang ketiga mulai muncul.
Apakah ruang ketiga merupakan bentuk kebebasan? Ataukah ia sebenarnya lahir dari keterpaksaan sejarah? Sebab orang Cina Indonesia Kristen dalam buku ini tidak tampak sedang merayakan ambiguitas sebagaimana sering dibayangkan teori-teori poskolonial. Mereka justru tampak sedang belajar hidup dengan ambiguitas yang tidak pernah mereka pilih. Mereka menjadi Indonesia, tetapi terus diingatkan bahwa mereka Cina.
Mereka merawat kecinaannya, tetapi sadar bahwa kecinaan mereka telah berbeda dari Cina yang dibayangkan leluhurnya. Mereka menemukan rumah dalam kekristenan, tetapi agama pun tidak sepenuhnya menghapus jejak etnis dan sejarah yang melekat pada diri mereka. Mereka hidup di antara. Tetapi apakah hidup di antara selalu berarti merdeka?
Ataukah kadang-kadang ia hanya cara yang lebih elegan untuk menyebut keadaan ketika seseorang tidak pernah benar-benar diterima sepenuhnya oleh salah satu dunia? Barangkali pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak dimaksudkan untuk dijawab oleh Darwin. Dan mungkin justru di situlah kekuatan buku ini. Ia tidak membuat saya bertanya siapa sebenarnya orang Cina Indonesia Kristen. Ia membuat saya bertanya apakah identitas manusia memang pernah benar-benar selesai.
Sebab bisa jadi persoalan terbesar orang Cina Indonesia Kristen bukanlah bahwa mereka hidup di ruang ketiga. Melainkan bahwa mereka terus dipaksa membangun rumah di atas tanah yang selalu bergerak. Dan mungkin tidak ada penderitaan yang lebih sunyi daripada terus membangun rumah, sambil mengetahui bahwa tanah tempat rumah itu berdiri tak pernah benar-benar berhenti bergeser. (*)