Retoria.id – Mari kita mulai dari pertanyaan paling polos tapi filosofis “Kenapa ada elite global yang tega memperdagangkan anak-anak? Kenapa muncul diskursus bahkan candaan intelektual tentang memakan daging manusia?
Jawabannya tidak selalu konspiratif.
Boleh jadi jawabannya justru sangat manusiawi yaitu soal kepuasan atau kebahagiaan.
Bagi kita, kebahagiaan barangkali bentuknya masih sangat sederhana dan masih manusiawi seperti gaji turun tepat waktu, keluarga sehat, bisa libur setahun sekali, hidup cukup tanpa utang dan kebahagiaan-kebahagian saset lainnya.
Namun kebahagiaan eceran seperti itu tak berlaku bagi elite global, dunia mereka bekerja dengan hukum yang berbeda.
Mereka tidak lagi “memiliki barang”,
Level mereka menguasai akses. Liburan ke mana pun bukan hadiah, tapi sudah jadi rutinitas biasa.
Mobil sport tidak lagi menjadi simbol prestise, tapi sekadar pengisi ruang saja. Rumah bukan lagi bangunan, tapi pulau.
Validasi publik tidak lagi memuaskan, karena mereka bisa membentuk opini itu sendiri. Pada titik ini, materi sudah terasa kosong, ia berhenti memberi makna.
Baca Juga: Terungkap, Potongan Kiswah Ka’bah Dikirimkan kepada Epstein sebagai Hadiah
Kabar buruknya, sekalipun makna telah hilang, manusia tidak berhenti mencari bahagia, ia hanya menggeser standar dan kemasan kebahagiaan itu.
Sebagai Manusia kita barangkali terbiasa dengan eskalasi jika tidak terbiasa mungkin barang lain.
Artinya, yang dulu terasa nikmat, lama-lama hambar. Yang dulu memuaskan, lama-lama biasa. Yang dulu dianggap tabu, lama-lama dicoba bukan karena perlu, tapi karena bosan.
Keboasan dan kegabutan di level bawah masih di taraf normal dan kecil. Lalu bagaimana jadinya pada lingkungan elite tertutup, Semakin ekstrem, semakin tabu, semakin eksklusif. Semakin terlarang, semakin prestisius.
Yang dikejar bukan lagi kenikmatan, melainkan pembuktian status melalui pelanggaran batas.
Ini bukan teori kosong. Ini hukum psikologis yang bisa kita lihat di mana-mana dan bisa diverifikasi validitasnya. Perbedaannya hanya satu: skala dan korban.
Baca Juga: Terungkap Dokumen Kematian Epstein disiapkan Sebelum Ia Dinyatakan Meninggal
Dalam diskursus etika sekuler modern khususnya konsekuensialisme baik dan buruk ditentukan oleh satu pertanyaan: “Apakah ada yang dirugikan?”
Jika tidak ada korban langsung, jika dilakukan suka sama suka, jika memberi “manfaat” bagi pelaku maka secara moral dianggap netral.
Ilmuwan evolusionis Richard Dawkins, misalnya, pernah menulis: “If you can’t handle challenging questions like ‘What’s wrong with incest, or cannibalism?’ university probably is not for you.”
Artinya: Jika kamu tidak mampu menghadapi pertanyaan menantang seperti ‘apa yang salah dengan inses atau kanibalisme?’, mungkin universitas memang bukan tempat untukmu.
Kira-kira jika tidak ada Tuhan, lalu apa yang membuat sesuatu benar-benar salah?
Diskusi ini menjadi semakin mengusik ketika teknologi tissue culture memungkinkan daging ditumbuhkan di laboratorium.
Dawkins bahkan pernah menulis secara terbuka: “What if human meat is grown? Could we overcome our taboo against cannibalism?”
Bagaimana jika daging manusia ditumbuhkan? Mungkinkah kita mengatasi tabu kanibalisme?
Ini bukan sebuah ajakan tapi ini adalah uji moral. Namun justru di situlah masalahnya, tabu tidak lagi dilihat sebagai batas moral, melainkan hanya sebagai “yuck reaction” (reaksi jijik) belaka,
Jijik itu adalah soal perasaan, maka dengan demikian, moral direduksi menjadi perasaan subjektif bukan kebenaran.
Kasus Jeffrey Epstein dan dokumen-dokumen yang perlahan terbuka bukan soal satu orang jahat. Ia adalah gejala peradaban.
Gejala dari dunia elite yang menormalisasi pelanggaran, mengubah manusia menjadi komoditas dan menjadikan rahasia sebagai mata uang kekuasaan
Epstein bergerak di jaringan elite global, tempat satu prinsip berlaku mutlak: “Rahasia hanya aman selama menguntungkan semua pihak.”
Begitu keseimbangan kuasa berubah,
begitu kepentingan politik bertabrakan,
rahasia akan bocor bukan karena moral, tapi karena strategi.
Nabi Muhammad SAW sudah menelanjangi masalah ini jauh sebelum psikologi modern lahir:
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, ia akan menginginkan dua. Dan tidak akan memenuhi mulutnya kecuali tanah.” (HR. al-Bukhari)
Masalah elite global bukan karena mereka jahat sejak lahir. Masalahnya karena nafsu tanpa batas bertemu kekuasaan tanpa Tuhan.
Dalam agama Islam Kebahagiaan Bukan tentang Eskalasi, Tapi Syukur, qanaah dan seterusnya.
Islam tidak menjanjikan kebahagiaan lewat penumpukan sensasi. Islam justru memotong masalah dari akarnya: nikmat lahir dari batas.
Makan nikmat karena lapar. Tidur nyenyak karena lelah. Pertemuan bermakna karena jarak. Dan kunci dari semua itu satu yaitu syukur.
Syukur menjaga manusia tetap manusia.
Syukur menjaga elite tetap waras. Syukur mengikat kebahagiaan pada makna, bukan ekstremitas.
Ketika Tuhan disingkirkan, akal tidak menjadi bebas, ia justru menjadi tak terkendali.
Dan ketika kebahagiaan tak lagi punya batas,
yang muncul bukan kemajuan, melainkan peradaban yang sanggup membenarkan apa pun
asal bisa dirasionalisasi.
Jika suatu hari kamu bertanya: “Bagaimana mungkin manusia setega itu?”
Jawabannya cukup sederhana tapi pahit: karena mereka tidak lagi tahu kapan harus berhenti. (*)