Ramadan dan Kesabaran: Dari Puasa Menuju Ridha kepada Allah

Retoria.id – Kita mengetahui bahwa Ramadan adalah bulan kesabaran. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa puasa adalah setengah dari sabar, dan dalam hadis lain dijelaskan bahwa sabar adalah setengah dari iman.

Jika logika ini dirangkai secara sederhana, maka puasa dapat dipahami sebagai seperempat dari iman. Sebagian ulama bahkan merenungkannya lebih jauh mereka mengatakan bahwa puasa merupakan satu dari empat pilar praktik yang menopang pilar kelima syahadat.

Secara aritmetika, penjelasan ini memang masuk akal. Namun kesabaran yang diajarkan puasa yakni kemampuan untuk mengatakan “tidak” pada dorongan nafsu yang kasar adalah kebajikan yang terasa kering.

Ia bukan kebajikan yang segera melahirkan ekstase spiritual. Ia tidak otomatis membuat seseorang ingin mengangkat tangan ke langit dan berseru “alhamdulillah”, kecuali bagi mereka yang telah mencapai tingkat kesadaran tertentu.

Sabar adalah kebajikan menahan diri. Ia dekat dengan asketisme, dengan zuhud pengendalian diri dan pelepasan dari kesenangan. Dan memang, sebagian besar jalan menuju Tuhan adalah jalan pelepasan: melepaskan kenikmatan, kemelekatan, dan dorongan-dorongan yang mengikat jiwa pada dunia.

Di sinilah letak kesalahpahaman dunia modern terhadap kemanusiaan tradisional. Dunia modern nyaris kehilangan akses terhadap ruh. Kalaupun ada, ia hadir sebatas bayangan samar seperti aroma yang sekilas melintas lalu menghilang dalam kesadaran yang miskin.

Zaman ini adalah zaman ego, zaman “aku”. Maka kebajikan seperti sabar tampak hanya sebagai kehilangan: kehilangan kesenangan, kehilangan kepuasan instan. Apa gunanya? Ia terlihat asketis, abu-abu, dan suram.

Dalam budaya pesta yang kita hidupi hari ini budaya hedonisme yang bahkan telah terbukti berkontribusi pada perusakan biosfer kesabaran bukanlah kebajikan yang modis.

Sumber daya untuk pesta itu terbatas; minuman keras akan habis, bumi pun kelelahan. Maka sabar bukan hanya tidak populer, tetapi juga sulit.

Baca Juga: Panduan Profetik dalam Menghadapi Penderitaan

Kesabaran ini berhubungan langsung dengan sisi negatif dalam diri manusia yang dalam tradisi sering dipersonifikasikan sebagai sisi “demonik”, sisi yang mengalir dalam diri anak-cucu Adam bersama darah.

Nafsu adalah bagian aksiomatis dari manusia, berkelindan erat dengan tubuh. Ketika kita menginginkan sesuatu, seluruh diri kita menginginkannya, terutama karena keinginan yang kasar hampir selalu bersifat fisik.

Namun kesabaran tidak berhenti di situ. Ia justru membuka jalan menuju kebajikan lain yang jauh lebih manis “ridha”. Ridha berarti puas, menerima, dan merasa baik-baik saja dengan apa yang sedang terjadi.

Kepuasan ini jelas berkaitan dengan kebahagiaan. Seseorang tidak mungkin benar-benar tenteram tanpa unsur kebahagiaan, meskipun ia sedang berada dalam keadaan sabar yang berat.

Inilah salah satu kebajikan paling lembut dari bulan puasa. Allah Subhanahu wa Ta‘ala sering menggunakan konsep ridha karena ia adalah sifat Ilahi: Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Ada relasi timbal balik ketenteraman antara Sang Pencipta dan makhluk. Inilah puncak keselamatan.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang-orang beriman akan diberi taman-taman Eden, tetapi ditegaskan pula bahwa keridhaan Allah itu lebih besar. Bahkan melampaui taman, istana, dan segala kenikmatan yang tak terbayangkan, terdapat satu kenikmatan tertinggi: mengetahui bahwa Allah ridha kepada kita dan kita pun ridha kepada-Nya.

Bahwa kita diterima. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”

Ridha adalah perkara yang halus. Ia bukan sekadar pengakuan lisan bahwa Allah adalah Tuhan terbaik, Nabi adalah Nabi terbaik, dan agama adalah agama terbaik.

Ia adalah penerimaan terhadap pola kehidupan yang ditetapkan oleh Sang Kekasih Ilahi cara hidup, takdir, dan peristiwa-peristiwa yang kita jalani yang kepadanya kita merasa puas.

Maka ketika kita berbicara tentang kebajikan ini, kita berbicara tentang kesabaran menghadapi ketetapan Allah: sakit, kehilangan, musibah, wafatnya orang tua, bahkan bencana global seperti pandemi.

Semua itu menuntut sabar. Namun derajat yang lebih tinggi tanpa meniadakan sabar adalah ridha: kepuasan batin terhadap ketetapan Ilahi. Inilah makna terdalam dari Islam itu sendiri: berserah diri, mengakui kebijaksanaan Allah dalam segala yang Dia ciptakan dan tetapkan.

Ketika kita mengatakan ridha kepada-Nya sebagai Tuhan, berarti kita ridha kepada seluruh ciptaan-Nya dan seluruh peristiwa hidup kita. Inilah puncak kebajikan tersebut.

Nabi Muhammad SAW tidak hanya menampilkan kesabaran, tetapi juga ridha. Sirah Nabi sarat dengan kesedihan: wafatnya hampir seluruh anak beliau semasa hidupnya, wafatnya Khadijah, penolakan kaumnya. Sirah adalah kisah yang penuh bayangan dan justru karena itulah cahayanya tampak lebih terang.

Di balik kesabaran itu ada ridha. Ridha adalah keadaan orang yang jatuh cinta. Ketika kita mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, apa pun yang ia lakukan menjadi bagian dari keindahannya.

Dalam konteks ini, ridha adalah cara pandang: melihat keindahan dari Dia yang menetapkan segala sesuatu, meskipun keindahan itu kerap tertutup oleh keterbatasan persepsi kita.

Dikisahkan tentang seorang dokter yang menderita sakit parah namun tetap mengobati pasien-pasiennya. Ketika ditanya mengapa ia terus bekerja, ia menjawab: “Pukulan Sang Kekasih tidak menimbulkan rasa sakit.” Cobaan baginya adalah sentuhan cinta.

Kisah lain datang dari Bishr al-Hafi, seorang wali besar dari Baghdad, yang pernah berkunjung ke Abadan pusat para zahid dan ahli hadis pada masanya. Ia menjumpai seorang lelaki buta, berpenyakit kusta, lumpuh, terbaring sendirian dikerumuni anjing liar.

Ketika Bishr mendekat, lelaki itu berkata, “Siapa orang tak berguna ini yang menghalangiku dari Tuhanku? Demi Allah, jika Allah mencabik-cabikku, itu hanya akan menambah cintaku kepada-Nya.”

Bishr pun menyadari bahwa lelaki itu adalah seorang wali seseorang yang dalam keadaan paling tampak putus asa justru berada dalam kepuasan terdalam bersama Tuhannya.

Semua ini menunjukkan bahwa ridha terhadap ketetapan Allah dapat mengangkat manusia ke derajat yang sangat tinggi.

Di masa pandemi yang panjang, kita belajar tentang sabar: karantina, air mata, dan kesulitan ekonomi. Namun semoga kita juga belajar tentang ridha bukan sekadar agar terhindar dari depresi dan kecemasan, tetapi karena kita memandang Allah sebagai Sang Kekasih, dan cobaan sebagai “pukulan” dari-Nya.

Ramadan, pada akhirnya, bukan sekadar tentang tidak makan dan tidak minum. Ia adalah tentang keadaan batin: sabar, dan sesuatu yang lebih manis dari sabar ridha.

Semoga Ramadan ini dipenuhi bukan hanya aturan lahiriah, tetapi juga ketenteraman batin: kesabaran dan kerelaan menerima ketetapan Allah dalam syariat, dunia, dan kehidupan kita.

Semoga Allah menerima puasa kita, menjadikannya puasa lahir dan batin, mengantarkan kita ke Idulfitri bersama orang-orang tercinta, dan menganugerahi kita banyak Idulfitri di masa depan. Aamiin. (*)

 

*Catatan: Artikel adalah hasil terjemahan dan penulisan ulang dari cermah-ceramah Syaikh Abdal Hakim Murad Cambridge College

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572386593/ramadan-dan-kesabaran-dari-puasa-menuju-ridha-kepada-allah

Rekomendasi